hellowww... this story is part 2 from the part 1,last story 'What Are You Doing For Me This Time?''
so happy reading...^^
sorry if many wrong word i made..^^
Cast :
Hanazaki Ryoga
Raigawa Touko
Harada Makoto
Yukiwa
New Cast :
Uzumaki Awano as Ryoga’s Friend
Hanazaki Ryoga
Aku menatap layar komputer dihadapanku dengan malas. Tidak ada kerjaan yang berarti ku kerjakan hari ini. Sesekali aku hanya melihat orderan desain, baik yang diterima secara online dari komputerku ataupun orderan masuk yang langsung ke markas kerja kami. Malas sekali melihat permintaan orderan sebanyak itu. Rasa-rasanya aku tak sanggup untuk mengerjakan semua permintaan itu dalam 1 hari. Padahal itu adalah komitmenku untuk dapat bergabung diperusahaan ini. Nippon of Printing Design Cloth.
Entah kenapa, hari ini tak ada gairah hidup yang kurasakan. Apakah karena sesuatu yang terjadi kemarin? Sesuatu yang pertama kali aku rasakan, suatu gejolak perasaan aneh yang bergemuruh dari dalam hatiku dan memaksaku untuk melakukannya saat itu juga. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Melakukan hal-hal yang diluar batas pemikiranku sendiri. Tapi anehnya, aku tidak menyesal melakukannya. Aku justru ingin mengulangnya kembali.
Mungkin di pemikirannya kemarin aku ini orang aneh yang bisa berubah kapan saja. Terkadang aku kasar pada dia, terkadang juga bersifat manis pada dia. yah… memang 90% lebih banyak kasarnya. Sekali lagi aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu padanya. Bersikap sok kasar padanya, Bersikap tidak peduli dengan perkataannya, dan bersikap selalu mencampuri segala urusan hidupnya. Entahlah mendapat ilham dari mana. Yang pasti aku merasakan suatu kewajiban untuk melakukan semua hal itu padanya. ‘Gomenasai Touko-chan’.
Tanpa diduga…
“hayoooo… lagi ngelamunin siapa nih?” Seseorang membuyarkan lamunanku.
Aku menengok, “hoossh.. kamu ini bikin kaget saja, awano-kun”. Ucapku sambil mengelus dada.
Uzumaki Awano. Dia adalah teman kerjaku di markas ini. Penilaianku pertama kali padanya ialah orangnya baik, dewasa, setia kawan, dan anak yang pembersih. Dia itu tidak mau melihat ada secuil kotoran pun disekitarnya, termasuk meja kerjanya. Padahal aku sering dengan sengaja membuang sampah-sampah bekas ku ke tempatnya. Dia pun tahu aku yang melakukan semua hal itu. Dia sih… hanya mendumel sesekali padaku.
Selain itu, Dia juga sering membantu ku dalam hal pekerjaan yang masih belum ku kuasai. Maklum aku baru saja bergabung di tempat ini selama 2 bulan terakhir.
Terdengar tawanya seperti mengejek.
“wah… Masih pagi-pagi begini saja kamu sudah ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Hayo.. lagi mikirin apa tadi?”.
“hahaha.. kamu tuh yang mikir macam-macam sepertinya. Memangnya gak boleh senyum pagi-pagi? Ada yang ngelarang?” aku menendangkan kursi padanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung mengambil kursi yang ku tendangkan untuknya. Senyum ejeknya masih terpampang diwajahnya, walaupun dia sabenarnya sedang memandangi web penjualan kami secara online. Sebenarnya aku ingin membagi cerita ini padanya, sekalian meminta pendapat padanya. Apa yang seharusnya ku lakukan untuk Touko. Ragu aku bertanya padanya.
“hei… awano, aku ingin bertanya sesuatu”.
“nande? Sepertinya aku tahu. Seorang gadis lagi?”
Ternyata awano sudah mengetahuinya.
“ya seperti itulah”.
“ingin bertanya apa lagi? Kau pastinya lebih ahli daripada aku kan kalau soal wanita.”
Kata-katanya barusan membuatku berbangga diri sedikit, sekaligus memojokkan ku tentang hal bergonta-ganti pasangan.
“ini beda kau tahu. Gadis ini. dia seperti selalu berusaha menjauh dariku. Padahal aku sudah berusaha mencari perhatiannya,tapi tetap saja dia bertingkah seolah-olah aku ini musuh yang harus dibasmi”.
“hee?? That’s good girl.” Selanjutnya Dia hanya tertawa terbahak.
Aku mendelik padanya, “apa maksudmu? Bisa diperjelas?”
“iie… pastinya dia gadis yang sangat menarik ya. Sampai-sampai kau ‘seorang Hanazaki Ryoga’ yang bisa dibilang penampilanmu menarik, dan memiliki keahlian menggaet para gadis diluar sana, ditolak begitu saja?” ia menggeleng, seraya merangkul bahuku “boleh aku mengetahui siapa gadis itu,kawan?aku mengenalnya tidak?”.
“huumm… kenal tidak ya, aku juga lupa”. Aku berpikir keras memikirkannya. “sepertinya kau pernah melihatnya. Kau tahu teman kontrakanku kan?”
Terlihat dia berusaha mengingat sesuatu, “wow… sepertinya aku tahu. Touko, Raigawa Touko. Iya kan? Dia teman kontrakan yang kau maksud?”
Aku menggangguk.
“jadi dia maksudmu? Jadi kau sekarang berusaha mendekatinya, tetapi ditolak? Suuggeee………!!! Touko-chan memang hebat, Bisa membuat seperti ini”.
“sudahlah, aku tidak membutuhkan ocehanmu tapi saran atau pendapat tentang masalah ini. Ayolah bantu aku”.
“saranku tidak murah loh, mendengarkan saja 10 yen, mendengarkan+saran 100 yen”.
“apa?? Semahal itu? Ya terserah lah, tapi kapan-kapan saja aku bayarnya,hahaha”.
“tidak usah. Aku Cuma bercanda. Begini saja, kalau kau memang bisa bersama dengan Touko, traktir aku makan ramen dan sushi di hokaido. Bagaimana setuju?” dia menyodorkan tangan kanannya.
“mau makan saja harus pergi sejauh itu. Baiklah aku terima.” Aku menerima jabatan tangannya. “sekarang apa pendapatmu?”.
“menurutku jangan kau dekati dulu dia”.
“maksudnya? Aku tidak mengerti?”
Dia menghadapku.
“seperti ini, kau harus berusaha menjauhinya. Berusahalah untuk seolah-olah tidak peduli padanya. So, dia pasti akan berpikir tentang menjauhnya dirimu padanya. Dan menurutku setelah itu dia pasti mencarimu dengan sendirinya”.
“bagaimana kalau dia tetap menjauh juga?”
“yaahh… menurutku semua gadis itu sama jika diperlakukan seperti itu. Tapi aku belum tahu juga sifat Touko itu bagaimana, mungkin saja dia berbeda.” Sambil dia menggaruk kepala, “sudahlah kau coba saja saranku dulu. Kalau tidak berhasil, ya kau tanggung sendiri.” Lalu dia tertawa.
“ahh… saranmu mencurigakanmu”.
Tiba-tiba ada suara yang menggangu pembicaraan kami.
“Uzumaki Awano!! Hanazaki Ryoga!!” ternyata suara atasan kami Matsuyama Kenichi yang memecah telinga kami. Dengam mata melotot dia memandang kami, padahal menurutku matanya itu sangat sipit, jadi walaupun dilebar-lebarkan tetap tidak terlihat menakutkan bagiku. “kenapa kalian malah santai-santai saja disana. Kita sekarang banyak orderan, Kalian tidak mengetahuinya. Ayo cepat kembali ketempat kalian masing-masing. Jangan ada yang membantah”.
Setelah kepergian tuan Matsuyama, aku menjulurkan lidah padanya. Awano langsung bangkit dari kursinya.
“ingat janjimu padaku. Rayakan kalau berhasil. Hokaido..!!”
Aku mendorongnya pergi, “ya kita lihat saja”.
*****
Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Siang ini juga ada kuliah yang menunggu. Lelah juga setelah dari tadi hanya berdiri di depan mesin pencetakan baju. Selama perjalan di bus tadi aku memikirkan tentang saran yang diberikan Uzumaki Awano. Apakah akan berhasil atau malah bertambah buruk? Pikirku.
Sepertinya tidak ada orang di rumah ini, kecuali yukiwa yang sedang tidur di kursi ruang tamu.
“jadi Touko sudah pergi duluan. Cepat sekali dia pergi. Tidak menunggu aku pulang”. Bicaraku sendiri menuju kamar mengambil peralatan kuliahku.
Dengan segera aku pergi menuju kampus. Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta menuju shibuya, akhirnya tiba juga di kampus tercinta. Tanpa susah-susah mencari Touko, aku sudah bisa menemukannya. Seperti biasa dia duduk dibawah pohon sakura yang terlihat kering tapi masih cukup rindang. Dan tentu saja sekarang bukan waktunya untuk sakura bermekaran.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk dihadapnnya. Dia terlihat sedang memejamkan mata, entah tertidur atau apa. Aku tidak berniat untuk membangunkannya, aku hanya memandang siluet wajahnya yang memang tertidur. Aku tersenyum memandang.
“apa yang membuat dirimu menarik dihadapnku, Touko?” aku berbicara pelan tanpa mengalihkan pandanganku.
Angin kemudian bertiup ringan menerpa wajah dan rambutnya. Hal itu membuatnya bergerak sedikit, lalu membuka matanya. Dari sorot matanya terlihat terkejut dengan pandangan yang ada di depannya. Yaitu aku.
“Ryoga, apa yang kau lakukan disini”.
Kembali perasaan sinis muncul dari suaraku, padahal aku tidak bermaksud melakukannya. Entah kenapa aku malah senang melakukannya.
“ya tentu saja aku disini untuk belajar. Ini kan juga kampus ku”.
Terlihat wajahnya kesal sekali dengan jawabanku barusan.
“hah… susah memang berbicara dengan orang yang sok!” dia berdiri lalu pergi meninggalkan ku dibelakang.
“hei.. tunggu” aku menarik tangan kirinya. “Di rumah kau meninggalkanku, disini kau juga mau meninggalkanku?”
“lalu urusanku apa? Kau kan bisa pergi sendiri. Dasar aneh!!” dia menghentakkan tangannya seperti biasa. “kau juga sering meninggalkanku, tidak pernah peduli, dan selalu kasar padaku. Lalu kenapa aku harus berbaik hati menunggumu, pikirkan sendiri sifatmu itu!”
Dia berjalan mundur sambil menghadapku, “Ryoga,, kau itu orang yang paling aneh dan jahat yang pernah kutemui.” Walaupun kata-katanya terdengar menyakitkan tapi sangat terlihat kalau dia menyampaikannya hanya dengan bercanda. Aku bisa melihatnya.
Sambil menjulurkan lidahnya dia kemudian bersiap lari, karena aku bermaksud untuk mengejarnya. Lalu…
Bruukkk……
Touko menabrak seorang dosen, yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“kau tidak apa-apa?” dosen itu berbicara pada touko dan membimbingnya berdiri. Tiba-tiba dosen itu terlihat terkejut.
“maaf pak, aku tidak se…” touko menghentikan kata-katanya. “makoto-san?” Touko terlihat mengenal baik dosen baru itu.
“Touko, apa yang kau lakukan disini?” dosen itu bertanya padanya.
“aku mahasiswi disini, makoto-san. Tidak menyangka bertemu denganmu. Lalu apa yang kau lakukan disini, makoto-san? Kau juga seorang mahasiswa disini?”
“iie… hari ini adalah hari pertama ku mengajar disini”.
“benarkah??”
Mereka berdua terlihat sangat akrab, sampai-sampai aku seperti tidak dianggap oleh mereka berdua. Entah perasaan ini muncul dari mana. Wajah ini terasa panas, kepala seperti berputar-putar, hati juga tersa sakit sekali. Rasanya melihat pemandangan didepanku membuatku merasa ingin marah dan ingin pergi secepatnya dari tempat ini ‘inikah yang dinamakan cemburu?’. Setelah beberapa langkah aku pergi melewatinya, touko memanggilku, menyusulku, dan menarikku kembali ke tempat semula. ‘Arrgghhhhhhh…… apa sih maunya sekarang, bisa turun gengsiku kalau ketahuan cemburu’.
“Ryoga, aku ingin mengenalimu dengan Makoto-san. Dia adalah dokter yukiwa. Tak kusangka dia menjadi dosen disini”. Ucapnya seraya membawaku kembali.
“urusanku apa berkenalan denganya, sepertinya tidak penting”. Jawabku sinis dengan tambahan bumbu-bumbu cemburu.
“ayolah Ryoga, sekali ini saja. Toh gak ada ruginya juga. Siapa tahu kalian bisa berteman”.
‘apa berteman dengan yang kupikir ‘sainganku’ sendiri? No way lah!!!”
Dengan perkenalan yang dibantu oleh Touko akhirnya aku berjabat tangan juga dengan orang yang bernama Makoto Harada. Aku tidak peduli dengan wajahku yang tidak terlihat ramah-ramahnya, malah terlihat jutek kurasa. Ya memang itulah aku.
“baiklah, Saya permisi dulu. Senang berkenalan denganmu Hanazaki Ryoga”. Dia berlalu pergi meninggalkan kami.
“jadi dia dokternya Yukiwa? Bukannya dia juga yang waktu itu mengantarmu pulang?” tanyaku setelah makoto-san telah jauh terlihat.
“ya memang dia. lalu kenapa?”
“tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Tidak boleh?” aku mengoreksi suaraku agar tidak terdengar gugup.
“pertanyaanmu itu menyiratkan suatu maksud yang lain tau. Apakah kau…” terdengar memalukan kalau sampai Touko meneruskan omongannya.
Aku segera memotong kata-kata touko, “sudahlah, ayo pergi. kau mau kita terlambat masuk”. Aku langsung pergi meninggalkannya dibelakang.
“oh.. I see. Lihat lah dirimu. Membalas meninggalkanku? Ya tidak apa-apa, tanpa dirimu aku juga bisa sendiri”.
Aku terus saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Karena aku tak mau Touko melihatku dengan perasaan yang berkecamuk aneh sekarang. Hanya suara omelan-omelan kecil yang terdengar oleh pendengaranku. Yang tentu saja ditujukan padaku. ‘senang sekali rasanya mendengarnya berceloteh kesal tentang ku’.
To be continued………
please comment n like it,,hihihi
maaf bila ada karakter yang menyinggung.. just cerita khayalan..
Minggu, 03 April 2011
What Are You Doing For Me This Time?
hi all,,this my first story. make it in japan.
I make it with 2 caracter, from Raigawa Touko n from Hanazaki Ryoga.
so, happy reading..^^
Cast :
Raigawa Touko as Main Caracters
Hanazaki Ryoga as Touko Neighbour’s Room
Makoto Harada as Docter
Ikara Miumi as Touko’s Best Friend
Yukiwa as Touko’s Pet
Aku membuka kelopak mataku, bangun dengan terpaksa. Kembali dari dunia mimpi ke dunia nyata. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata hal yang membangunkan ku adalah suara kucing yang membisingkan, dan menyebalkan dari luar pintu kamarku.
“yaaakkss…!!!!! Itu kucing suaranya minta ampun!!”
Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar. Bermaksud memarahi kucing menyebalkan itu. Aku membuka penutup kandangnya, aku melihatnya dan dia melihatku. Yukiwa, itulah nama kucing dihadapanku sekarang. Yukiwa sebenarnya kucingku sendiri. Kucing berjenis Himalaya Persia dan memiliki point hitam disekitar wajah,telinga,ekor,serta kaki dan tangannya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu membuatku pusing dengan suaranya. Bersuara dengan lantang dan sekencang-kencangnya seperti sedang depresi. Dan berulang setiap saat tanpa henti.
“nande Yuki?” aku ngomong sendiri padanya. “ini masih jam 6 pagi, belum waktunya makan kan!!”
“nggeeeoonngg..” suaranya melemah.
Aku memperhatikannya, hari ini seperti ada yang salah dengan bulu-bulunya. Aku pun mengeluarkannya dari kandang dan meneliti setiap bulu ditubuhnya.
“……”Yukiwa hanya melihatku.
Aku memperhatikannya kembali. Baru hari ini aku melihat kulit yang memerah dan seperti ada serpihan-serpihan bekas luka dari kulit dan bulunya. Dengan segera aku memasukkannya kembali ke kandang dan menyerbu telepon yang tergeletak di ranjangku. Aku bermaksud menghubungi kakak ku untuk memberi tahunya, dia memberi saran untuk menanyakan Yukiwa ke dokter biasa. Secepatnya.
“Omeee.. kenapa juga mesti ke dokter itu.”
Dengan malas aku mengirimkan email ke dokter yang dimaksud. Menjelaskan secara rinci tentang keadaan dari Yukiwa sekarang. ‘Tapi pasti butuh berjam-jam untuk mendapatkan balasannya,’ pikirku. Itulah satu hal yang tidak kusuka dari dokternya, sudah beberapa kali aku menanyakan hal-hal yang genting tapi tidak ditanggapi dengan segera.
1 Email masuk. Makoto Harada-san. Tapi sepertinya hari ini beda.
“huumm… tumben cepat.!” Sergahku sembari membaca email.
‘Saya belum bisa memastikan secara langsung apa penyebabnya.
Kalau perlu diperiksakan saja. Saya ada di klinik sekarang.’
Ke klinik? Mesti boyong siapa nih? Tiba-tiba aku mengingat seseorang dan mencoba menghubunginya.
“Miumi-chan… kau sedang apa… sibuk gak… bisa tolongin aku gak… oke aku tunggu, ja mata ne.” Telepon terputus.
*****
“Touko-chan aku sudah diluar. Buruan, panas nih!!” Miumi meneleponku.
“ye.. tunggu sebentar, Miumi-chan.”
Setelah itu dengan segera aku turun ke bawah menemui Miumi, serta Yukiwa yang tidak lupa dibawa di dalam keranjang pinknya.
“oughh.. berat sekali sih ini kucing.” Ucapku sambil turun melalui tangga. Sesaat aku melihat ada seseorang yang memperhatikan ku dari dalam kamarnya. Hanazaki Ryoga. Teman satu kontrakanku.
“hey… mau kemana?!” tanyanya sinis.
Aku meliriknya sesaat.
“nande? Bukan urusanmu!” jawabku ketus. Dengan segera ku membuka pintu. ‘Pasti akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi sekarang,’ terka ku.
cowok itu mencengkram lenganku. “jawab pertanyaanku, Raigawa Touko!!”
“apa’an sih, lepas’in!! Aku buru-buru sekarang.” Aku memandangnya, Deg! Entah kenapa aku gugup melihatnya. Melihat tepat kearah matanya. Jantungku berdebar. Entah karena takut melihatnya atau karena perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan... Aku berbalik, berusaha untuk tidak memandangnya lagi. “baiklah, Hanazaki Ryoga. Aku mau bawa kucingku ke klinik, itu saja.”
“kucingmu? Jadi Yuki-kun sakit?”
“iya. Sudah tahu kan, lepaskan!! sakit tahu.” Cengkramannya melemah, segera saja aku menyentak lenganku, dan dengan buru-buru segera menguncinya dari luar. Ada suara gedoran sebelum akhirnya aku menuju tempat miumi.
Miumi bertanya tentang insiden tadi.
“dia lagi,?”.
“iya lah. Sudah bisa ditebak kan Miumi-chan. Ayo buruan jalan, ntar makin panas”.
*****
Ini adalah kali pertama aku pergi ke klinik, lumayan besar sih untuk seukuran klinik sekaligus pet house. Klinik ini hanya ditujukan untuk hewan-hewan mamalia. Tapi lebih didomisili oleh Anjing dan Kucing. Jadi jangan heran bila gonggongan anjing dan kucing lah yang menyambut kami. Serta bau dari hewan-hewan ini yang sangat menyengat dan memabukkan. Huueekksss!!!
Kami menunggu diruang tunggu. Dan ingat ini hanya pet house atau klinik bukan rumah sakit. Jadi jangan harap untuk menemukan seorang resepsionis disini. Dari jauh aku melihat seorang dokter yang berbicara dengan seseorang, pegawainya kurasa. Ini juga pertama kalinya aku bertemu langsung dengan ‘dokter sok super sibuk’. Itulah panggilanku untuknya. Lalu batinku bertanya-tanya ‘Seperti apakah dia? Baikkah dia? Menarikkah dia?’ karena kebanyakan orang-orang mengatakan kalau dokter Makoto Harada itu sangat menarik. Termasuk kakak ku.
Dia sepertinya memperhatikan kami disini. Setelah selesai berbincang-bincang dengan pegawainya, dokter itu mendatangi kami.
“Touko-chan? Raigawa Touko?”
“ye,, anda mengenal saya?” tanyaku tersipu.
“gampang saja mengenalimu, karena…”ucapannya terputus. “karena kau memang berniat memeriksakan kucingmu kan?” dia menyambungnya sembari tersenyum padaku. Lalu mengambil keranjang kucingku dari peganganku.
“oh, haik.” Aku balik tersenyum. Menyerahkan yukiwa padanya. Membiarkan dia memeriksa kucingku di ruangannya sendiri. Menurut pandangan pertamaku, dokter ini biasa saja. Dengan umur yang masih sekitar 23-an, postur tinggi ideal sekitar 180-an cm, bentuk wajah oval, rambut pendek coklat-gelap berponi sedikit menyamping menutupi sebagian dahinya, dan berkulit putih sedang. Tidak terlalu menarik. Masih menarik lagi cowok yang mengganggu ku tadi pagi. Yah… memang kuakui Hanazaki Ryoga menarik, malah terlalu menarik. Dengan tinggi sekitar 180-an cm, rambut gelap, kulit putih, dan memiliki warna mata coklat, yang apabila kita melihatnya pasti langsung jatuh cinta deh. Tapi ya itu, dia selalu saja kasar padaku. Seperti aku pernah merusak hidupnya saja.
Miumi membuyarkan lamunanku.
“Touko-chan… sepertinya aku harus menjemputku adik ku sebentar. Pemeriksaannya masih lama gak?”
“sepertinya masih. Ya sudah jemput saja sana. Tapi jangan tinggal aku disini.” Ancamku.
“Oke. Kalau aku lama kau kan bisa ngobrol dengan doktermu dulu,, hahaha” miumi mengejekku.
Aku melihatnya menghilang dengan senyum jahilnya. Tersirat niat aneh dari senyumnya barusan.
Tak lama sepeninggalan miumi, Makoto-san kembali ketempatku, memberikan penjelasan tentang penyebab yang membuat kucingku sakit. Lalu dia memberikan sebotol cairan obat yang dia buat sendiri di ruangannya barusan. Menjelaskan tentang cara pemakainnya, dan lain sebagainya. Tak terasa lama juga kami mengobrol, tapi masih seputaran tentang kucing. Hingga akhirnya…
“Touko-chan, sepertinya tadi kau tidak sendirian?”
“haik...” jawabku kikuk. “tapi dia pergi sebentar untuk menjemput adiknya. Gomenasai, kalau saya mungkin terlalu lama menunggu disini.”
“iie, Touko-chan.” Jawabnya sambil mengelus kucingku.
Aku melirik jam di tanganku. ‘Omeee… Miumi lama sekali.’ Pikirku. Sesaat aku melihat keluar, menatap jalan yang dibatasi oleh dinding kaca di hadapanku. Sekarang ternyata hujan. Tapi ada yang aneh dari pantulan kaca di depanku, ‘Makoto-san menatapku dengan cara yang berbeda’. Aku merasa tidak enak hati sekarang. Aku merasa tidak berani untuk membalikkan tubuhku.
“Touko-chan..” panggilnya masih menatapku.
“yee…??” dengan susah payah akhirnya ku balikkan juga tubuhku. Pandangan kami bertemu.
“sepertinya temanmu masih lama menjemputmu. Bagaimana kalau ikut denganku pulang. Waktu jagaku disini juga hampir selesai. Dan juga diluar hujan deras.” Dari suaranya seperti memohon kurasa.
“iie.. dok. Saya tidak enak kalau harus menumpang pulang sama anda. Saya menunggu saja disini. Mungkin sebentar lagi...” ucapan ku terputus.
“sudahlah kau ikut saja, ini sudah sore. Kucingmu juga tidak mungkin basah-basahan diluar sana.” Dia memasukkan Yukiwa kembali ke keranjang. “beritahu temanmu, tidak usah menjemput. Aku berganti pakaian sebentar, Touko-chan”.
“iie dok…” dokter itu telah meninggalkanku. Dan tidak mau mendengarkan penolakanku. ‘bagus Miumi. Kau telah meninggalkanku disini.” Dengan terpaksa aku mengirimkan email kepada miumi seperti yang disuruh ‘dokter sok super sibuk’ itu. Karena aku merasa perkataan dokter itu juga benar, diluar hujan, lebih baik Miumi langsung cepat-cepat pulang kerumah saja. Tidak perlu menjemputku.
Menunggu balasan Miumi tidak perlu memakan waktu lama.
‘Yooossshhh… baiklah. Selamat bersenang-senang dengan doktermu yah. Kawai ja na^-^. Kabari aku kalau dirimu sudah sampai kontrakan. Dan tentunya tentang doktermu.’
‘P.S. aku sengaja meninggalkanmu, hahaha. gomen ^-^’
“ahhh… dasar Miumi.” Desahku. Ternyata itu rencananya.
“kau sudah siap?” seseorang mengaggetkanku dengan sosoknya.
Aku mengangguk. Tidak tahu apa yang harus ku katakana lagi padanya.
Sunyi. Itu saja yang terjadi sekarang. Tidak ada obrolan-obrolan yang kami keluarkan selama perjalanan ini. Hanya alunan musik Beethoven yang menggema di mobil Honda Sport ini.
“jadi ini tempat tinggalmu?” dia bertanya setelah ku berikan tanda-tanda untuk berhenti di depan suatu bangunan.
“ye…Arigato atas tumpangannya.”
Aku sudah bersiap untuk keluar tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahan tangan kiriku untuk bergerak. Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Membuat sensasi yang aneh.
“tunggu Touko-chan.” Ucapnya sambil memegang tangan kiriku.
Aku mencoba untuk kembali sadar pada kenyataan. Mencoba menarik dengan sopan tangan kiriku dari tangannya. Dia pun juga tersentak kaget dengan reaksi tiba-tibanya barusan.
“gomen…” ucapnya.
“nande Makoto-san?”
Semburat malu tergambar di wajahnya.
“tidak ada apa-apa, hanya mau bilang… Ummm… jaga kesehatan Yuki ya”.
Aku menggangguk.
“dan Touko-chan sebaiknya jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja Makoto-kun, seperti teman. Tidak perlu terlalu resmi padaku.”
“iie.. itu tidak sopan Makoto-san”.
“tidak apa-apa, Touko-chan”.
“nanni??”
Dia tersenyum tidak menghiraukanku. Lalu dia turun dan mengambil keranjang kucingku di kursi belakang dan menyerahkannya padaku. Aku kembali membungkukkan badan padanya, tanda terima kasihku karena sudah mengantarku sampai tujuan. Dan tanpa basah.
“arigatougonzaimashu, Makoto-sa.. kun...” segera ku koreksi kata-kataku. “gomen.. sudah merepotkanmu.”
“yee,, sama-sama. Semoga Yuki cepat sembuh Touko-chan”. Dia berbalik, kembali menaiki mobilnya. Dan akhirnya menghilang dari jarak pandangku.
Aku tak tahu ternyata ada seseorang yang mengawasiku daritadi. Dan menungguku di depan pintu masuk.
“siapa dia? Pacarmu? Kurasa tadi kau pergi dengan temanmu?”
Aku berbalik menghadap sumber suara tersebut. Ryoga berdiri dengan angkuhnya dengan tangan terlipat di dadanya.
“kau tahu, sudah lama aku menunggumu pulang. Tapi kau tidak juga muncul.” Ucapnya masih sinis.
“siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu. Salah mu sendiri. Aku bawa kunci pagar kok, jadi kau tidak perlu menyusahkan diri.” Jawabku tak kalah sinis sambil melewatinya masuk.
Sembari melewatinya, tangannya menahanku untuk masuk. Mencengkram lenganku lagi. Kali ini terasa lebih sakit. Aku meletakkan keranjang di lantai.
“oughh… Ryoga. Tidakkah kau tahu, perbuatanmu tadi sudah meninggalkan bekas ditanganku. Kau lihat ini?” aku menunjukkan tanda merah yang dia ciptakan tadi siang di lengan kananku. “dan sekarang kau mau menambahkannya lagi?”
“kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa laki-laki tadi?” tidak sedikitpun dia mengurangi frekuensi cengkramannya. “pacarmu?”
“apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapa ku, jadi buat apa kau bertanya seperti itu?” tanyaku menantang.
Tiba-tiba dia menarikku lebih dekat.
Deg!!
Dia memelukku. Ryoga memelukku dengan erat. Sangat erat. Tidak sedikitpun dia meninggalkan jarak diantara kami. Tidak ada ruang untukku bergerak. Aku bisa merasakan nafasnya di indera pendegaranku, debar jantungnya di dadaku, lalu merasakan tubuhnya bergetar di ragaku. Tapi aku tidak membalas pelukannya. Tanganku kubiarkan tergeletak lemah disamping tubuhku. Entah apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang padaku, padahal selama ini dia selalu ketus kepadaku. Tapi lihat lah sekarang dia. Dia aneh, konyol, dan gila.
“kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Touko-chan.” Kali ini suaranya sangat lembut dan seperti berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Nanniii…!!! ini tidak perlu terjadi, ini tidak seharusnya diteruskan. Ini hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Aku tidak boleh terhanyut oleh rayuannya. Aku tak tahu maksud dari semua ini, tetapi yang ku tahu sudah banyak wanita yang dia kecewakan diluar sana, aku tidak mau menjadi salah satu wanita itu.
Aku memberontak dalam pelukannya. Ada sedikit celah untuk melarikan diri darinya. Kugunakan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin darinya, lari menjauhinya. Walaupun kenyataannya aku sangat mengharapkan dirinya. Mengharapkan seorang Hanazaki Ryoga.
Aku terus saja lari dengan membawa keranjang ini, walaupun terasa berat aku tidak memperdulikannya. Aku juga tidak peduli dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku di luar. Sungguh… aku tidak peduli.
‘Ryoga, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku…?’
To be continued………
thx 4 read,, arigato gonzaimazu ^^
I make it with 2 caracter, from Raigawa Touko n from Hanazaki Ryoga.
so, happy reading..^^
Cast :
Raigawa Touko as Main Caracters
Hanazaki Ryoga as Touko Neighbour’s Room
Makoto Harada as Docter
Ikara Miumi as Touko’s Best Friend
Yukiwa as Touko’s Pet
Aku membuka kelopak mataku, bangun dengan terpaksa. Kembali dari dunia mimpi ke dunia nyata. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata hal yang membangunkan ku adalah suara kucing yang membisingkan, dan menyebalkan dari luar pintu kamarku.
“yaaakkss…!!!!! Itu kucing suaranya minta ampun!!”
Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar. Bermaksud memarahi kucing menyebalkan itu. Aku membuka penutup kandangnya, aku melihatnya dan dia melihatku. Yukiwa, itulah nama kucing dihadapanku sekarang. Yukiwa sebenarnya kucingku sendiri. Kucing berjenis Himalaya Persia dan memiliki point hitam disekitar wajah,telinga,ekor,serta kaki dan tangannya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu membuatku pusing dengan suaranya. Bersuara dengan lantang dan sekencang-kencangnya seperti sedang depresi. Dan berulang setiap saat tanpa henti.
“nande Yuki?” aku ngomong sendiri padanya. “ini masih jam 6 pagi, belum waktunya makan kan!!”
“nggeeeoonngg..” suaranya melemah.
Aku memperhatikannya, hari ini seperti ada yang salah dengan bulu-bulunya. Aku pun mengeluarkannya dari kandang dan meneliti setiap bulu ditubuhnya.
“……”Yukiwa hanya melihatku.
Aku memperhatikannya kembali. Baru hari ini aku melihat kulit yang memerah dan seperti ada serpihan-serpihan bekas luka dari kulit dan bulunya. Dengan segera aku memasukkannya kembali ke kandang dan menyerbu telepon yang tergeletak di ranjangku. Aku bermaksud menghubungi kakak ku untuk memberi tahunya, dia memberi saran untuk menanyakan Yukiwa ke dokter biasa. Secepatnya.
“Omeee.. kenapa juga mesti ke dokter itu.”
Dengan malas aku mengirimkan email ke dokter yang dimaksud. Menjelaskan secara rinci tentang keadaan dari Yukiwa sekarang. ‘Tapi pasti butuh berjam-jam untuk mendapatkan balasannya,’ pikirku. Itulah satu hal yang tidak kusuka dari dokternya, sudah beberapa kali aku menanyakan hal-hal yang genting tapi tidak ditanggapi dengan segera.
1 Email masuk. Makoto Harada-san. Tapi sepertinya hari ini beda.
“huumm… tumben cepat.!” Sergahku sembari membaca email.
‘Saya belum bisa memastikan secara langsung apa penyebabnya.
Kalau perlu diperiksakan saja. Saya ada di klinik sekarang.’
Ke klinik? Mesti boyong siapa nih? Tiba-tiba aku mengingat seseorang dan mencoba menghubunginya.
“Miumi-chan… kau sedang apa… sibuk gak… bisa tolongin aku gak… oke aku tunggu, ja mata ne.” Telepon terputus.
*****
“Touko-chan aku sudah diluar. Buruan, panas nih!!” Miumi meneleponku.
“ye.. tunggu sebentar, Miumi-chan.”
Setelah itu dengan segera aku turun ke bawah menemui Miumi, serta Yukiwa yang tidak lupa dibawa di dalam keranjang pinknya.
“oughh.. berat sekali sih ini kucing.” Ucapku sambil turun melalui tangga. Sesaat aku melihat ada seseorang yang memperhatikan ku dari dalam kamarnya. Hanazaki Ryoga. Teman satu kontrakanku.
“hey… mau kemana?!” tanyanya sinis.
Aku meliriknya sesaat.
“nande? Bukan urusanmu!” jawabku ketus. Dengan segera ku membuka pintu. ‘Pasti akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi sekarang,’ terka ku.
cowok itu mencengkram lenganku. “jawab pertanyaanku, Raigawa Touko!!”
“apa’an sih, lepas’in!! Aku buru-buru sekarang.” Aku memandangnya, Deg! Entah kenapa aku gugup melihatnya. Melihat tepat kearah matanya. Jantungku berdebar. Entah karena takut melihatnya atau karena perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan... Aku berbalik, berusaha untuk tidak memandangnya lagi. “baiklah, Hanazaki Ryoga. Aku mau bawa kucingku ke klinik, itu saja.”
“kucingmu? Jadi Yuki-kun sakit?”
“iya. Sudah tahu kan, lepaskan!! sakit tahu.” Cengkramannya melemah, segera saja aku menyentak lenganku, dan dengan buru-buru segera menguncinya dari luar. Ada suara gedoran sebelum akhirnya aku menuju tempat miumi.
Miumi bertanya tentang insiden tadi.
“dia lagi,?”.
“iya lah. Sudah bisa ditebak kan Miumi-chan. Ayo buruan jalan, ntar makin panas”.
*****
Ini adalah kali pertama aku pergi ke klinik, lumayan besar sih untuk seukuran klinik sekaligus pet house. Klinik ini hanya ditujukan untuk hewan-hewan mamalia. Tapi lebih didomisili oleh Anjing dan Kucing. Jadi jangan heran bila gonggongan anjing dan kucing lah yang menyambut kami. Serta bau dari hewan-hewan ini yang sangat menyengat dan memabukkan. Huueekksss!!!
Kami menunggu diruang tunggu. Dan ingat ini hanya pet house atau klinik bukan rumah sakit. Jadi jangan harap untuk menemukan seorang resepsionis disini. Dari jauh aku melihat seorang dokter yang berbicara dengan seseorang, pegawainya kurasa. Ini juga pertama kalinya aku bertemu langsung dengan ‘dokter sok super sibuk’. Itulah panggilanku untuknya. Lalu batinku bertanya-tanya ‘Seperti apakah dia? Baikkah dia? Menarikkah dia?’ karena kebanyakan orang-orang mengatakan kalau dokter Makoto Harada itu sangat menarik. Termasuk kakak ku.
Dia sepertinya memperhatikan kami disini. Setelah selesai berbincang-bincang dengan pegawainya, dokter itu mendatangi kami.
“Touko-chan? Raigawa Touko?”
“ye,, anda mengenal saya?” tanyaku tersipu.
“gampang saja mengenalimu, karena…”ucapannya terputus. “karena kau memang berniat memeriksakan kucingmu kan?” dia menyambungnya sembari tersenyum padaku. Lalu mengambil keranjang kucingku dari peganganku.
“oh, haik.” Aku balik tersenyum. Menyerahkan yukiwa padanya. Membiarkan dia memeriksa kucingku di ruangannya sendiri. Menurut pandangan pertamaku, dokter ini biasa saja. Dengan umur yang masih sekitar 23-an, postur tinggi ideal sekitar 180-an cm, bentuk wajah oval, rambut pendek coklat-gelap berponi sedikit menyamping menutupi sebagian dahinya, dan berkulit putih sedang. Tidak terlalu menarik. Masih menarik lagi cowok yang mengganggu ku tadi pagi. Yah… memang kuakui Hanazaki Ryoga menarik, malah terlalu menarik. Dengan tinggi sekitar 180-an cm, rambut gelap, kulit putih, dan memiliki warna mata coklat, yang apabila kita melihatnya pasti langsung jatuh cinta deh. Tapi ya itu, dia selalu saja kasar padaku. Seperti aku pernah merusak hidupnya saja.
Miumi membuyarkan lamunanku.
“Touko-chan… sepertinya aku harus menjemputku adik ku sebentar. Pemeriksaannya masih lama gak?”
“sepertinya masih. Ya sudah jemput saja sana. Tapi jangan tinggal aku disini.” Ancamku.
“Oke. Kalau aku lama kau kan bisa ngobrol dengan doktermu dulu,, hahaha” miumi mengejekku.
Aku melihatnya menghilang dengan senyum jahilnya. Tersirat niat aneh dari senyumnya barusan.
Tak lama sepeninggalan miumi, Makoto-san kembali ketempatku, memberikan penjelasan tentang penyebab yang membuat kucingku sakit. Lalu dia memberikan sebotol cairan obat yang dia buat sendiri di ruangannya barusan. Menjelaskan tentang cara pemakainnya, dan lain sebagainya. Tak terasa lama juga kami mengobrol, tapi masih seputaran tentang kucing. Hingga akhirnya…
“Touko-chan, sepertinya tadi kau tidak sendirian?”
“haik...” jawabku kikuk. “tapi dia pergi sebentar untuk menjemput adiknya. Gomenasai, kalau saya mungkin terlalu lama menunggu disini.”
“iie, Touko-chan.” Jawabnya sambil mengelus kucingku.
Aku melirik jam di tanganku. ‘Omeee… Miumi lama sekali.’ Pikirku. Sesaat aku melihat keluar, menatap jalan yang dibatasi oleh dinding kaca di hadapanku. Sekarang ternyata hujan. Tapi ada yang aneh dari pantulan kaca di depanku, ‘Makoto-san menatapku dengan cara yang berbeda’. Aku merasa tidak enak hati sekarang. Aku merasa tidak berani untuk membalikkan tubuhku.
“Touko-chan..” panggilnya masih menatapku.
“yee…??” dengan susah payah akhirnya ku balikkan juga tubuhku. Pandangan kami bertemu.
“sepertinya temanmu masih lama menjemputmu. Bagaimana kalau ikut denganku pulang. Waktu jagaku disini juga hampir selesai. Dan juga diluar hujan deras.” Dari suaranya seperti memohon kurasa.
“iie.. dok. Saya tidak enak kalau harus menumpang pulang sama anda. Saya menunggu saja disini. Mungkin sebentar lagi...” ucapan ku terputus.
“sudahlah kau ikut saja, ini sudah sore. Kucingmu juga tidak mungkin basah-basahan diluar sana.” Dia memasukkan Yukiwa kembali ke keranjang. “beritahu temanmu, tidak usah menjemput. Aku berganti pakaian sebentar, Touko-chan”.
“iie dok…” dokter itu telah meninggalkanku. Dan tidak mau mendengarkan penolakanku. ‘bagus Miumi. Kau telah meninggalkanku disini.” Dengan terpaksa aku mengirimkan email kepada miumi seperti yang disuruh ‘dokter sok super sibuk’ itu. Karena aku merasa perkataan dokter itu juga benar, diluar hujan, lebih baik Miumi langsung cepat-cepat pulang kerumah saja. Tidak perlu menjemputku.
Menunggu balasan Miumi tidak perlu memakan waktu lama.
‘Yooossshhh… baiklah. Selamat bersenang-senang dengan doktermu yah. Kawai ja na^-^. Kabari aku kalau dirimu sudah sampai kontrakan. Dan tentunya tentang doktermu.’
‘P.S. aku sengaja meninggalkanmu, hahaha. gomen ^-^’
“ahhh… dasar Miumi.” Desahku. Ternyata itu rencananya.
“kau sudah siap?” seseorang mengaggetkanku dengan sosoknya.
Aku mengangguk. Tidak tahu apa yang harus ku katakana lagi padanya.
Sunyi. Itu saja yang terjadi sekarang. Tidak ada obrolan-obrolan yang kami keluarkan selama perjalanan ini. Hanya alunan musik Beethoven yang menggema di mobil Honda Sport ini.
“jadi ini tempat tinggalmu?” dia bertanya setelah ku berikan tanda-tanda untuk berhenti di depan suatu bangunan.
“ye…Arigato atas tumpangannya.”
Aku sudah bersiap untuk keluar tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahan tangan kiriku untuk bergerak. Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Membuat sensasi yang aneh.
“tunggu Touko-chan.” Ucapnya sambil memegang tangan kiriku.
Aku mencoba untuk kembali sadar pada kenyataan. Mencoba menarik dengan sopan tangan kiriku dari tangannya. Dia pun juga tersentak kaget dengan reaksi tiba-tibanya barusan.
“gomen…” ucapnya.
“nande Makoto-san?”
Semburat malu tergambar di wajahnya.
“tidak ada apa-apa, hanya mau bilang… Ummm… jaga kesehatan Yuki ya”.
Aku menggangguk.
“dan Touko-chan sebaiknya jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja Makoto-kun, seperti teman. Tidak perlu terlalu resmi padaku.”
“iie.. itu tidak sopan Makoto-san”.
“tidak apa-apa, Touko-chan”.
“nanni??”
Dia tersenyum tidak menghiraukanku. Lalu dia turun dan mengambil keranjang kucingku di kursi belakang dan menyerahkannya padaku. Aku kembali membungkukkan badan padanya, tanda terima kasihku karena sudah mengantarku sampai tujuan. Dan tanpa basah.
“arigatougonzaimashu, Makoto-sa.. kun...” segera ku koreksi kata-kataku. “gomen.. sudah merepotkanmu.”
“yee,, sama-sama. Semoga Yuki cepat sembuh Touko-chan”. Dia berbalik, kembali menaiki mobilnya. Dan akhirnya menghilang dari jarak pandangku.
Aku tak tahu ternyata ada seseorang yang mengawasiku daritadi. Dan menungguku di depan pintu masuk.
“siapa dia? Pacarmu? Kurasa tadi kau pergi dengan temanmu?”
Aku berbalik menghadap sumber suara tersebut. Ryoga berdiri dengan angkuhnya dengan tangan terlipat di dadanya.
“kau tahu, sudah lama aku menunggumu pulang. Tapi kau tidak juga muncul.” Ucapnya masih sinis.
“siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu. Salah mu sendiri. Aku bawa kunci pagar kok, jadi kau tidak perlu menyusahkan diri.” Jawabku tak kalah sinis sambil melewatinya masuk.
Sembari melewatinya, tangannya menahanku untuk masuk. Mencengkram lenganku lagi. Kali ini terasa lebih sakit. Aku meletakkan keranjang di lantai.
“oughh… Ryoga. Tidakkah kau tahu, perbuatanmu tadi sudah meninggalkan bekas ditanganku. Kau lihat ini?” aku menunjukkan tanda merah yang dia ciptakan tadi siang di lengan kananku. “dan sekarang kau mau menambahkannya lagi?”
“kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa laki-laki tadi?” tidak sedikitpun dia mengurangi frekuensi cengkramannya. “pacarmu?”
“apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapa ku, jadi buat apa kau bertanya seperti itu?” tanyaku menantang.
Tiba-tiba dia menarikku lebih dekat.
Deg!!
Dia memelukku. Ryoga memelukku dengan erat. Sangat erat. Tidak sedikitpun dia meninggalkan jarak diantara kami. Tidak ada ruang untukku bergerak. Aku bisa merasakan nafasnya di indera pendegaranku, debar jantungnya di dadaku, lalu merasakan tubuhnya bergetar di ragaku. Tapi aku tidak membalas pelukannya. Tanganku kubiarkan tergeletak lemah disamping tubuhku. Entah apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang padaku, padahal selama ini dia selalu ketus kepadaku. Tapi lihat lah sekarang dia. Dia aneh, konyol, dan gila.
“kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Touko-chan.” Kali ini suaranya sangat lembut dan seperti berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Nanniii…!!! ini tidak perlu terjadi, ini tidak seharusnya diteruskan. Ini hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Aku tidak boleh terhanyut oleh rayuannya. Aku tak tahu maksud dari semua ini, tetapi yang ku tahu sudah banyak wanita yang dia kecewakan diluar sana, aku tidak mau menjadi salah satu wanita itu.
Aku memberontak dalam pelukannya. Ada sedikit celah untuk melarikan diri darinya. Kugunakan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin darinya, lari menjauhinya. Walaupun kenyataannya aku sangat mengharapkan dirinya. Mengharapkan seorang Hanazaki Ryoga.
Aku terus saja lari dengan membawa keranjang ini, walaupun terasa berat aku tidak memperdulikannya. Aku juga tidak peduli dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku di luar. Sungguh… aku tidak peduli.
‘Ryoga, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku…?’
To be continued………
thx 4 read,, arigato gonzaimazu ^^
it's me
Hi all...... it's me Radit.
I am a woman not a man okay.
I came to live in jogja, Indonesia. but I came from the largest island in Indonesia, namely the east borneo.
This is my first blog. because Logo I like things that smell asia, like korea and japan, then I might fill this blog with something that smells asia.
to first of all I would fill with the stories in my imagination. course with Asian background.
and also will fill this blog with my life, and my experiences.
so, happy reading, hope you guys like it .. ^ ^
it is just an introduction from me, glad to get acquainted.
keep in touch, man.
Ajjah-Ajjah fighting!!!
Ganbatte...
I am a woman not a man okay.
I came to live in jogja, Indonesia. but I came from the largest island in Indonesia, namely the east borneo.
This is my first blog. because Logo I like things that smell asia, like korea and japan, then I might fill this blog with something that smells asia.
to first of all I would fill with the stories in my imagination. course with Asian background.
and also will fill this blog with my life, and my experiences.
so, happy reading, hope you guys like it .. ^ ^
it is just an introduction from me, glad to get acquainted.
keep in touch, man.
Ajjah-Ajjah fighting!!!
Ganbatte...
Langganan:
Komentar (Atom)









