Minggu, 03 April 2011

Am I Jeolous

hellowww... this story is part 2 from the part 1,last story 'What Are You Doing For Me This Time?''

so happy reading...^^

sorry if many wrong word i made..^^

Cast :

Hanazaki Ryoga


Raigawa Touko



Harada Makoto


Yukiwa



New Cast :

Uzumaki Awano as Ryoga’s Friend



Hanazaki Ryoga

Aku menatap layar komputer dihadapanku dengan malas. Tidak ada kerjaan yang berarti ku kerjakan hari ini. Sesekali aku hanya melihat orderan desain, baik yang diterima secara online dari komputerku ataupun orderan masuk yang langsung ke markas kerja kami. Malas sekali melihat permintaan orderan sebanyak itu. Rasa-rasanya aku tak sanggup untuk mengerjakan semua permintaan itu dalam 1 hari. Padahal itu adalah komitmenku untuk dapat bergabung diperusahaan ini. Nippon of Printing Design Cloth.

Entah kenapa, hari ini tak ada gairah hidup yang kurasakan. Apakah karena sesuatu yang terjadi kemarin?  Sesuatu yang pertama kali aku rasakan, suatu gejolak perasaan aneh yang bergemuruh dari dalam hatiku dan memaksaku untuk melakukannya saat itu juga. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Melakukan hal-hal yang diluar batas pemikiranku sendiri. Tapi anehnya, aku tidak menyesal melakukannya. Aku justru ingin mengulangnya kembali.

Mungkin di pemikirannya kemarin aku ini orang aneh yang bisa berubah kapan saja. Terkadang aku kasar pada dia, terkadang juga bersifat manis pada dia. yah… memang 90% lebih banyak kasarnya. Sekali lagi aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu padanya. Bersikap sok kasar padanya, Bersikap tidak peduli dengan perkataannya, dan bersikap selalu mencampuri segala urusan hidupnya. Entahlah mendapat ilham dari mana. Yang pasti aku merasakan suatu kewajiban untuk melakukan semua hal itu padanya. ‘Gomenasai Touko-chan’.

 Tanpa diduga…

 “hayoooo… lagi ngelamunin siapa nih?” Seseorang membuyarkan lamunanku.

 Aku menengok, “hoossh.. kamu ini bikin kaget saja, awano-kun”. Ucapku sambil mengelus dada.

 Uzumaki Awano. Dia adalah teman kerjaku di markas ini. Penilaianku pertama kali padanya ialah orangnya baik, dewasa, setia kawan, dan anak yang pembersih. Dia itu tidak mau melihat ada secuil kotoran pun disekitarnya, termasuk meja kerjanya. Padahal aku sering dengan sengaja membuang sampah-sampah bekas ku ke tempatnya. Dia pun tahu aku yang melakukan semua hal itu. Dia sih… hanya mendumel sesekali padaku.

 Selain itu, Dia juga sering membantu ku dalam hal pekerjaan yang masih belum ku kuasai. Maklum aku baru saja bergabung di tempat ini selama 2 bulan terakhir.

 Terdengar tawanya seperti mengejek.

 “wah… Masih pagi-pagi begini saja kamu sudah ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Hayo.. lagi mikirin apa tadi?”.

 “hahaha.. kamu tuh yang mikir macam-macam sepertinya. Memangnya gak boleh senyum pagi-pagi? Ada yang ngelarang?” aku menendangkan kursi padanya.

 Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung mengambil kursi yang ku tendangkan untuknya. Senyum ejeknya masih terpampang diwajahnya, walaupun dia sabenarnya sedang memandangi web penjualan kami secara online. Sebenarnya aku ingin membagi cerita ini padanya, sekalian meminta pendapat padanya. Apa yang seharusnya ku lakukan untuk Touko. Ragu aku bertanya padanya.

 “hei… awano, aku ingin bertanya sesuatu”.

 “nande? Sepertinya aku tahu. Seorang gadis lagi?”

 Ternyata awano sudah mengetahuinya.

 “ya seperti itulah”.

 “ingin bertanya apa lagi? Kau pastinya lebih ahli daripada aku kan kalau soal wanita.”

 Kata-katanya barusan membuatku berbangga diri sedikit, sekaligus memojokkan ku tentang hal bergonta-ganti pasangan.

 “ini beda kau tahu. Gadis ini. dia seperti selalu berusaha menjauh dariku. Padahal aku sudah berusaha mencari perhatiannya,tapi tetap saja dia bertingkah seolah-olah aku ini musuh yang harus dibasmi”.

 “hee?? That’s good girl.” Selanjutnya Dia hanya tertawa terbahak.

 Aku mendelik padanya, “apa maksudmu? Bisa diperjelas?”

 “iie… pastinya dia gadis yang sangat menarik ya. Sampai-sampai kau ‘seorang Hanazaki Ryoga’ yang bisa dibilang penampilanmu menarik, dan memiliki keahlian menggaet para gadis diluar sana, ditolak begitu saja?” ia menggeleng, seraya merangkul bahuku “boleh aku mengetahui siapa gadis itu,kawan?aku mengenalnya tidak?”.

 “huumm… kenal tidak ya, aku juga lupa”. Aku berpikir keras memikirkannya. “sepertinya kau pernah melihatnya. Kau tahu teman kontrakanku kan?”

 Terlihat dia berusaha mengingat sesuatu, “wow… sepertinya aku tahu. Touko, Raigawa Touko. Iya kan? Dia teman kontrakan yang kau maksud?”

 Aku menggangguk.

 “jadi dia maksudmu? Jadi kau sekarang berusaha mendekatinya, tetapi ditolak? Suuggeee………!!! Touko-chan memang hebat, Bisa membuat seperti ini”.

 “sudahlah, aku tidak membutuhkan ocehanmu tapi saran atau pendapat tentang masalah ini. Ayolah bantu aku”.

 “saranku tidak murah loh, mendengarkan saja 10 yen, mendengarkan+saran 100 yen”.

 “apa?? Semahal itu? Ya terserah lah, tapi kapan-kapan saja aku bayarnya,hahaha”.

 “tidak usah. Aku Cuma bercanda. Begini saja, kalau kau memang bisa bersama dengan Touko, traktir aku makan ramen dan sushi di hokaido. Bagaimana setuju?” dia menyodorkan tangan kanannya.

 “mau makan saja harus pergi sejauh itu. Baiklah aku terima.” Aku menerima jabatan tangannya. “sekarang apa pendapatmu?”.

 “menurutku jangan kau dekati dulu dia”.

 “maksudnya? Aku tidak mengerti?”

 Dia menghadapku.

 “seperti ini, kau harus berusaha menjauhinya. Berusahalah untuk seolah-olah tidak peduli padanya. So, dia pasti akan berpikir tentang menjauhnya dirimu padanya. Dan menurutku setelah itu dia pasti mencarimu dengan sendirinya”.

 “bagaimana kalau dia tetap menjauh juga?”

 “yaahh… menurutku semua gadis itu sama jika diperlakukan seperti itu. Tapi aku belum tahu juga sifat Touko itu bagaimana, mungkin saja dia berbeda.” Sambil dia menggaruk kepala, “sudahlah kau coba saja saranku dulu. Kalau tidak berhasil, ya kau tanggung sendiri.” Lalu dia tertawa.

 “ahh… saranmu mencurigakanmu”.

 Tiba-tiba ada suara yang menggangu pembicaraan kami.

 “Uzumaki Awano!! Hanazaki Ryoga!!” ternyata suara atasan kami Matsuyama Kenichi yang memecah telinga kami. Dengam mata melotot dia memandang kami, padahal menurutku matanya itu sangat sipit, jadi walaupun dilebar-lebarkan tetap tidak terlihat menakutkan bagiku. “kenapa kalian malah santai-santai saja disana. Kita sekarang banyak orderan, Kalian tidak mengetahuinya. Ayo cepat kembali ketempat kalian masing-masing. Jangan ada yang membantah”.

 Setelah kepergian tuan Matsuyama, aku menjulurkan lidah padanya. Awano langsung bangkit dari kursinya.

“ingat janjimu padaku. Rayakan kalau berhasil. Hokaido..!!”

 Aku mendorongnya pergi, “ya kita lihat saja”.

 *****

    Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Siang ini juga ada kuliah yang menunggu. Lelah juga setelah dari tadi hanya berdiri di depan mesin pencetakan baju. Selama perjalan di bus tadi aku memikirkan tentang saran yang diberikan Uzumaki Awano. Apakah akan berhasil atau malah bertambah buruk? Pikirku.

 Sepertinya tidak ada orang di rumah ini, kecuali yukiwa yang sedang tidur di kursi ruang tamu.

    “jadi Touko sudah pergi duluan. Cepat sekali dia pergi. Tidak menunggu aku pulang”. Bicaraku sendiri menuju kamar mengambil peralatan kuliahku.

 Dengan segera aku pergi menuju kampus. Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta menuju shibuya, akhirnya tiba juga di kampus tercinta. Tanpa susah-susah mencari Touko, aku sudah bisa menemukannya. Seperti biasa dia duduk dibawah pohon sakura yang terlihat kering tapi masih cukup rindang. Dan tentu saja sekarang bukan waktunya untuk sakura bermekaran.

 Aku berjalan mendekatinya dan duduk dihadapnnya. Dia terlihat sedang memejamkan mata, entah tertidur atau apa. Aku tidak berniat untuk membangunkannya, aku hanya memandang siluet wajahnya yang memang tertidur. Aku tersenyum memandang.

 “apa yang membuat dirimu menarik dihadapnku, Touko?” aku berbicara pelan tanpa mengalihkan pandanganku.

 Angin kemudian bertiup ringan menerpa wajah dan rambutnya. Hal itu membuatnya bergerak sedikit, lalu membuka matanya. Dari sorot matanya terlihat terkejut dengan pandangan yang ada di depannya. Yaitu aku.
 “Ryoga, apa yang kau lakukan disini”.

 Kembali perasaan sinis muncul dari suaraku, padahal aku tidak bermaksud melakukannya. Entah kenapa aku malah senang melakukannya.

 “ya tentu saja aku disini untuk belajar. Ini kan juga kampus ku”.

 Terlihat wajahnya kesal sekali dengan jawabanku barusan.

 “hah… susah memang berbicara dengan orang yang sok!” dia berdiri lalu pergi meninggalkan ku dibelakang.

 “hei.. tunggu” aku menarik tangan kirinya. “Di rumah kau meninggalkanku, disini kau juga mau meninggalkanku?”

 “lalu urusanku apa? Kau kan bisa pergi sendiri. Dasar aneh!!” dia menghentakkan tangannya seperti biasa. “kau juga sering meninggalkanku, tidak pernah peduli, dan selalu kasar padaku. Lalu kenapa aku harus berbaik hati menunggumu, pikirkan sendiri sifatmu itu!”

 Dia berjalan mundur sambil menghadapku, “Ryoga,, kau itu orang yang paling aneh dan jahat yang pernah kutemui.” Walaupun kata-katanya terdengar menyakitkan tapi sangat terlihat kalau dia menyampaikannya hanya dengan bercanda. Aku bisa melihatnya.

 Sambil menjulurkan lidahnya dia kemudian bersiap lari, karena aku bermaksud untuk mengejarnya. Lalu…

 Bruukkk……

 Touko menabrak seorang dosen, yang belum pernah kulihat sebelumnya.

 “kau tidak apa-apa?” dosen itu berbicara pada touko dan membimbingnya berdiri. Tiba-tiba dosen itu terlihat terkejut.

 “maaf pak, aku tidak se…” touko menghentikan kata-katanya. “makoto-san?” Touko terlihat mengenal baik dosen baru itu.

 “Touko, apa yang kau lakukan disini?” dosen itu bertanya padanya.

 “aku mahasiswi disini, makoto-san. Tidak menyangka bertemu denganmu. Lalu apa yang kau lakukan disini, makoto-san? Kau juga seorang mahasiswa disini?”

 “iie… hari ini adalah hari pertama ku mengajar disini”.

 “benarkah??”

 Mereka berdua terlihat sangat akrab, sampai-sampai aku seperti tidak dianggap oleh mereka berdua. Entah perasaan ini muncul dari mana. Wajah ini terasa panas, kepala seperti berputar-putar, hati juga tersa sakit sekali. Rasanya melihat pemandangan didepanku membuatku merasa ingin marah dan ingin pergi secepatnya dari tempat ini ‘inikah yang dinamakan cemburu?’. Setelah beberapa langkah aku pergi melewatinya, touko memanggilku, menyusulku, dan menarikku kembali ke tempat semula. ‘Arrgghhhhhhh…… apa sih maunya sekarang, bisa turun gengsiku kalau ketahuan cemburu’.

 “Ryoga, aku ingin mengenalimu dengan Makoto-san. Dia adalah dokter yukiwa. Tak kusangka dia menjadi dosen disini”. Ucapnya seraya membawaku kembali.

 “urusanku apa berkenalan denganya, sepertinya tidak penting”. Jawabku sinis dengan tambahan bumbu-bumbu cemburu.

 “ayolah Ryoga, sekali ini saja. Toh gak ada ruginya juga. Siapa tahu kalian bisa berteman”.

 ‘apa berteman dengan yang kupikir ‘sainganku’ sendiri? No way lah!!!”

 Dengan perkenalan yang dibantu oleh Touko akhirnya aku berjabat tangan juga dengan orang yang bernama Makoto Harada. Aku tidak peduli dengan wajahku yang tidak terlihat ramah-ramahnya, malah terlihat jutek kurasa. Ya memang itulah aku.

 “baiklah, Saya permisi dulu. Senang berkenalan denganmu Hanazaki Ryoga”. Dia berlalu pergi meninggalkan kami.

 “jadi dia dokternya Yukiwa? Bukannya dia juga yang waktu itu mengantarmu pulang?” tanyaku setelah makoto-san telah jauh terlihat.

 “ya memang dia. lalu kenapa?”

 “tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Tidak boleh?” aku mengoreksi suaraku agar tidak terdengar gugup.

 “pertanyaanmu itu menyiratkan suatu maksud yang lain tau. Apakah kau…” terdengar memalukan kalau sampai Touko meneruskan omongannya.

 Aku segera memotong kata-kata touko, “sudahlah, ayo pergi. kau mau kita terlambat masuk”. Aku langsung pergi meninggalkannya dibelakang.

 “oh.. I see. Lihat lah dirimu. Membalas meninggalkanku? Ya tidak apa-apa, tanpa dirimu aku juga bisa sendiri”.

 Aku terus saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Karena aku tak mau Touko melihatku dengan perasaan yang berkecamuk aneh sekarang. Hanya suara omelan-omelan kecil yang terdengar oleh pendengaranku. Yang tentu saja ditujukan padaku. ‘senang sekali rasanya mendengarnya berceloteh kesal tentang ku’.


 To be continued………

 please comment n like it,,hihihi

 maaf bila ada karakter yang menyinggung.. just cerita khayalan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar