Minggu, 03 April 2011

What Are You Doing For Me This Time?

hi all,,this my first story. make it in japan.
I make it with 2 caracter, from Raigawa Touko n from Hanazaki Ryoga.

so, happy reading..^^

Cast :

Raigawa Touko as Main Caracters


Hanazaki Ryoga as Touko Neighbour’s Room


Makoto Harada as Docter


Ikara Miumi as Touko’s Best Friend


Yukiwa as Touko’s Pet





      Aku membuka kelopak mataku, bangun dengan terpaksa. Kembali dari dunia mimpi ke dunia nyata. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata hal yang membangunkan ku adalah suara kucing yang membisingkan, dan menyebalkan dari luar pintu kamarku.

     “yaaakkss…!!!!! Itu kucing suaranya minta ampun!!”

Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar. Bermaksud memarahi kucing menyebalkan itu. Aku membuka penutup kandangnya, aku melihatnya dan dia melihatku. Yukiwa, itulah nama kucing dihadapanku sekarang. Yukiwa sebenarnya kucingku sendiri. Kucing berjenis Himalaya Persia dan memiliki point hitam disekitar wajah,telinga,ekor,serta kaki dan tangannya.  Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu membuatku pusing dengan suaranya. Bersuara dengan lantang dan sekencang-kencangnya seperti sedang depresi. Dan berulang setiap saat tanpa henti.

     “nande Yuki?” aku ngomong sendiri padanya. “ini masih jam 6 pagi, belum waktunya makan kan!!”

     “nggeeeoonngg..” suaranya melemah.

      Aku memperhatikannya, hari ini seperti ada yang salah dengan bulu-bulunya. Aku pun mengeluarkannya dari kandang dan meneliti setiap bulu ditubuhnya.

      “……”Yukiwa hanya melihatku.

      Aku memperhatikannya kembali. Baru hari ini aku melihat kulit yang memerah dan seperti ada serpihan-serpihan bekas luka dari kulit dan bulunya. Dengan segera aku memasukkannya kembali ke kandang dan menyerbu telepon yang tergeletak di ranjangku. Aku bermaksud menghubungi kakak ku  untuk memberi tahunya, dia memberi saran untuk menanyakan Yukiwa ke dokter biasa. Secepatnya.

     “Omeee.. kenapa juga mesti ke dokter itu.”

      Dengan malas aku mengirimkan email ke dokter yang dimaksud. Menjelaskan secara rinci tentang keadaan dari Yukiwa sekarang. ‘Tapi pasti butuh berjam-jam untuk mendapatkan balasannya,’  pikirku.  Itulah satu hal yang tidak kusuka dari dokternya, sudah beberapa kali aku menanyakan hal-hal yang genting tapi tidak ditanggapi dengan segera.

      1 Email masuk. Makoto Harada-san. Tapi sepertinya hari ini beda.

      “huumm… tumben cepat.!” Sergahku sembari membaca email.



‘Saya belum bisa memastikan secara langsung apa penyebabnya.

Kalau perlu diperiksakan saja. Saya ada di klinik sekarang.’



Ke klinik? Mesti boyong siapa nih? Tiba-tiba aku mengingat seseorang dan mencoba menghubunginya.

“Miumi-chan… kau sedang apa… sibuk gak… bisa tolongin aku gak… oke aku tunggu, ja mata ne.” Telepon terputus.



*****



   “Touko-chan aku sudah diluar. Buruan, panas nih!!” Miumi meneleponku.

   “ye.. tunggu sebentar, Miumi-chan.”

    Setelah itu dengan segera aku turun ke bawah menemui Miumi, serta Yukiwa yang tidak lupa dibawa di dalam keranjang pinknya.

    “oughh.. berat sekali sih ini kucing.” Ucapku sambil turun melalui tangga. Sesaat aku melihat ada seseorang yang memperhatikan ku dari dalam kamarnya. Hanazaki Ryoga. Teman satu kontrakanku.

    “hey… mau kemana?!” tanyanya sinis.

     Aku meliriknya sesaat.

    “nande? Bukan urusanmu!” jawabku ketus. Dengan segera ku membuka pintu. ‘Pasti akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi sekarang,’ terka ku.

    cowok itu mencengkram lenganku. “jawab pertanyaanku, Raigawa Touko!!”

    “apa’an sih, lepas’in!! Aku buru-buru sekarang.” Aku memandangnya, Deg! Entah kenapa aku gugup melihatnya. Melihat tepat kearah matanya. Jantungku berdebar. Entah karena takut melihatnya atau karena perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan... Aku berbalik, berusaha untuk tidak memandangnya lagi. “baiklah, Hanazaki Ryoga. Aku mau bawa kucingku ke klinik, itu saja.”

    “kucingmu? Jadi Yuki-kun sakit?”

    “iya. Sudah tahu kan, lepaskan!! sakit tahu.” Cengkramannya melemah, segera saja aku menyentak lenganku, dan dengan buru-buru segera menguncinya dari luar. Ada suara gedoran sebelum akhirnya aku menuju tempat miumi.

    Miumi bertanya tentang insiden tadi.

    “dia lagi,?”.

    “iya lah. Sudah bisa ditebak kan Miumi-chan. Ayo buruan jalan, ntar makin panas”.



*****



    Ini adalah kali pertama aku pergi ke klinik, lumayan besar sih untuk seukuran klinik sekaligus pet house. Klinik  ini hanya ditujukan untuk hewan-hewan mamalia. Tapi lebih didomisili oleh Anjing dan Kucing.  Jadi jangan heran bila gonggongan anjing dan kucing lah yang menyambut kami. Serta bau dari hewan-hewan ini yang sangat menyengat dan memabukkan. Huueekksss!!!

    Kami menunggu diruang tunggu. Dan ingat ini hanya pet house atau klinik bukan rumah sakit. Jadi jangan harap untuk menemukan seorang resepsionis disini. Dari jauh aku melihat seorang dokter yang berbicara dengan seseorang, pegawainya kurasa. Ini juga pertama kalinya aku bertemu langsung dengan ‘dokter sok super sibuk’. Itulah panggilanku untuknya. Lalu batinku bertanya-tanya ‘Seperti apakah dia? Baikkah dia? Menarikkah dia?’  karena kebanyakan orang-orang mengatakan kalau dokter Makoto Harada itu sangat menarik. Termasuk kakak ku.

    Dia sepertinya memperhatikan kami disini. Setelah selesai berbincang-bincang dengan pegawainya, dokter itu mendatangi kami.

    “Touko-chan? Raigawa Touko?”

    “ye,, anda mengenal saya?” tanyaku tersipu.

    “gampang saja mengenalimu, karena…”ucapannya terputus. “karena kau memang berniat memeriksakan kucingmu kan?” dia menyambungnya sembari tersenyum padaku. Lalu mengambil keranjang kucingku dari peganganku.

    “oh, haik.” Aku balik tersenyum. Menyerahkan yukiwa padanya. Membiarkan dia memeriksa kucingku di ruangannya sendiri.  Menurut pandangan pertamaku, dokter ini biasa saja. Dengan umur yang masih sekitar 23-an, postur tinggi ideal sekitar 180-an cm, bentuk wajah oval, rambut pendek coklat-gelap berponi sedikit menyamping menutupi sebagian dahinya, dan berkulit putih sedang. Tidak terlalu menarik. Masih menarik lagi cowok yang mengganggu ku tadi pagi. Yah… memang kuakui Hanazaki Ryoga menarik, malah terlalu menarik. Dengan tinggi sekitar 180-an cm, rambut gelap, kulit putih, dan memiliki warna mata coklat, yang apabila kita melihatnya pasti langsung jatuh cinta deh. Tapi ya itu, dia selalu saja kasar padaku. Seperti aku pernah merusak hidupnya saja.

    Miumi membuyarkan lamunanku.

    “Touko-chan… sepertinya aku harus menjemputku adik ku sebentar. Pemeriksaannya masih lama gak?”

    “sepertinya masih. Ya sudah jemput saja sana. Tapi jangan tinggal aku disini.” Ancamku.

    “Oke. Kalau aku lama kau kan bisa ngobrol dengan doktermu dulu,, hahaha” miumi mengejekku.

    Aku melihatnya menghilang dengan senyum jahilnya. Tersirat niat aneh dari senyumnya barusan.

    Tak lama sepeninggalan miumi, Makoto-san kembali ketempatku, memberikan penjelasan tentang penyebab yang membuat kucingku sakit. Lalu dia memberikan sebotol cairan obat yang dia buat sendiri di ruangannya barusan. Menjelaskan tentang cara pemakainnya, dan lain sebagainya. Tak terasa lama juga kami mengobrol, tapi masih seputaran tentang kucing. Hingga akhirnya…

    “Touko-chan, sepertinya tadi kau tidak sendirian?”

    “haik...” jawabku kikuk. “tapi dia pergi sebentar untuk menjemput adiknya. Gomenasai, kalau saya mungkin terlalu lama menunggu disini.”

    “iie, Touko-chan.” Jawabnya sambil mengelus kucingku.

    Aku melirik jam di tanganku. ‘Omeee… Miumi lama sekali.’  Pikirku. Sesaat aku melihat keluar, menatap jalan yang dibatasi oleh dinding kaca di hadapanku. Sekarang ternyata hujan. Tapi ada yang aneh dari pantulan kaca di depanku, ‘Makoto-san menatapku dengan cara yang berbeda’. Aku merasa tidak enak hati sekarang. Aku merasa tidak berani untuk membalikkan tubuhku.

    “Touko-chan..” panggilnya masih menatapku.

    “yee…??” dengan susah payah akhirnya ku balikkan juga tubuhku. Pandangan kami bertemu.

    “sepertinya temanmu masih lama menjemputmu. Bagaimana kalau ikut denganku pulang. Waktu jagaku disini juga hampir selesai. Dan juga diluar hujan deras.” Dari suaranya seperti memohon kurasa.

    “iie.. dok. Saya tidak enak kalau harus menumpang pulang sama anda. Saya menunggu saja disini. Mungkin sebentar lagi...” ucapan ku terputus.

    “sudahlah kau ikut saja, ini sudah sore. Kucingmu juga tidak mungkin basah-basahan diluar sana.” Dia memasukkan Yukiwa kembali ke keranjang. “beritahu temanmu, tidak usah menjemput. Aku berganti pakaian sebentar, Touko-chan”.

    “iie dok…” dokter itu telah meninggalkanku. Dan tidak mau mendengarkan penolakanku. ‘bagus Miumi. Kau telah meninggalkanku disini.” Dengan terpaksa aku mengirimkan email kepada miumi seperti yang disuruh ‘dokter sok super sibuk’ itu. Karena aku merasa perkataan dokter itu juga benar, diluar hujan, lebih baik Miumi langsung cepat-cepat pulang kerumah saja. Tidak perlu menjemputku.

    Menunggu balasan Miumi tidak perlu memakan waktu lama.



    ‘Yooossshhh… baiklah. Selamat bersenang-senang dengan doktermu yah. Kawai ja na^-^. Kabari aku kalau dirimu sudah sampai kontrakan. Dan tentunya tentang doktermu.’



‘P.S. aku sengaja meninggalkanmu, hahaha. gomen ^-^’



    “ahhh… dasar Miumi.” Desahku. Ternyata itu rencananya.

    “kau sudah siap?” seseorang mengaggetkanku dengan sosoknya.

    Aku mengangguk. Tidak tahu apa yang harus ku katakana lagi padanya.



    Sunyi. Itu saja yang terjadi sekarang. Tidak ada obrolan-obrolan yang kami keluarkan selama perjalanan ini. Hanya alunan musik Beethoven yang menggema di mobil Honda Sport ini.

    “jadi ini tempat tinggalmu?” dia bertanya setelah ku berikan tanda-tanda untuk berhenti di depan suatu bangunan.

    “ye…Arigato atas tumpangannya.”

    Aku sudah bersiap untuk keluar tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahan tangan kiriku untuk bergerak. Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Membuat sensasi yang aneh.

    “tunggu Touko-chan.” Ucapnya sambil memegang tangan kiriku.

    Aku mencoba untuk kembali sadar pada kenyataan. Mencoba menarik dengan sopan tangan kiriku dari tangannya. Dia pun juga tersentak kaget dengan reaksi tiba-tibanya barusan.

    “gomen…” ucapnya.

    “nande Makoto-san?”

    Semburat malu tergambar di wajahnya.

    “tidak ada apa-apa, hanya mau bilang… Ummm… jaga kesehatan Yuki ya”.

    Aku menggangguk.

    “dan Touko-chan sebaiknya jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja Makoto-kun, seperti teman. Tidak perlu terlalu resmi padaku.”

    “iie.. itu tidak sopan Makoto-san”.

    “tidak apa-apa, Touko-chan”.

    “nanni??”

    Dia tersenyum tidak menghiraukanku. Lalu dia turun dan mengambil keranjang kucingku di kursi belakang dan menyerahkannya padaku. Aku kembali membungkukkan badan padanya, tanda terima kasihku karena sudah mengantarku sampai tujuan. Dan tanpa basah.

    “arigatougonzaimashu, Makoto-sa.. kun...” segera ku koreksi kata-kataku. “gomen.. sudah merepotkanmu.”

    “yee,, sama-sama. Semoga Yuki cepat sembuh Touko-chan”. Dia berbalik, kembali menaiki mobilnya. Dan akhirnya menghilang dari jarak pandangku.



    Aku tak tahu ternyata ada seseorang yang mengawasiku daritadi. Dan menungguku di depan pintu masuk.

    “siapa dia? Pacarmu? Kurasa tadi kau pergi dengan temanmu?”

    Aku berbalik menghadap sumber suara tersebut. Ryoga berdiri dengan angkuhnya dengan tangan terlipat di dadanya.

    “kau tahu, sudah lama aku menunggumu pulang. Tapi kau tidak juga muncul.” Ucapnya masih sinis.

    “siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu. Salah mu sendiri. Aku bawa kunci pagar kok, jadi kau tidak perlu menyusahkan diri.” Jawabku tak kalah sinis sambil melewatinya masuk.

    Sembari melewatinya, tangannya menahanku untuk masuk. Mencengkram lenganku lagi. Kali ini terasa lebih sakit. Aku meletakkan keranjang di lantai.

    “oughh… Ryoga. Tidakkah kau tahu, perbuatanmu tadi sudah meninggalkan bekas ditanganku. Kau lihat ini?” aku menunjukkan tanda merah yang dia ciptakan tadi siang di lengan kananku. “dan sekarang kau mau menambahkannya lagi?”

    “kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa laki-laki tadi?” tidak sedikitpun dia mengurangi frekuensi cengkramannya. “pacarmu?”

     “apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapa ku, jadi buat apa kau bertanya seperti itu?” tanyaku menantang.

    Tiba-tiba dia menarikku lebih dekat.

    Deg!!

    Dia memelukku. Ryoga memelukku dengan erat. Sangat erat. Tidak sedikitpun dia meninggalkan jarak diantara kami. Tidak ada ruang untukku bergerak. Aku bisa merasakan nafasnya di indera pendegaranku, debar jantungnya di dadaku, lalu merasakan tubuhnya bergetar di ragaku. Tapi aku tidak membalas pelukannya. Tanganku kubiarkan tergeletak lemah disamping tubuhku. Entah apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang padaku, padahal selama ini dia selalu ketus kepadaku. Tapi lihat lah sekarang dia. Dia aneh, konyol, dan gila.

    “kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Touko-chan.” Kali ini suaranya sangat lembut dan seperti berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.

    Nanniii…!!!  ini tidak perlu terjadi, ini tidak seharusnya diteruskan. Ini hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Aku tidak boleh terhanyut oleh rayuannya. Aku tak tahu maksud dari semua ini, tetapi yang ku tahu sudah banyak wanita yang dia kecewakan diluar sana, aku tidak mau menjadi salah satu wanita itu.

    Aku memberontak dalam pelukannya. Ada sedikit celah untuk melarikan diri darinya. Kugunakan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin darinya, lari menjauhinya. Walaupun kenyataannya aku sangat mengharapkan dirinya. Mengharapkan seorang Hanazaki Ryoga.

    Aku terus saja lari dengan membawa keranjang ini, walaupun terasa berat aku tidak memperdulikannya. Aku juga tidak peduli dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku di luar. Sungguh… aku tidak peduli.

    ‘Ryoga, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku…?’



To be continued………



thx 4 read,, arigato gonzaimazu ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar