this part.4 ... n i give pict 4 new cast...
let's start....
Soujiro Kato as Arsitec.
Raigawa Touko
“kalian sudah berkencan ya?”
“nanni mo nai?” tanyaku berkilah.
Jujur untuk pertanyaan kali ini aku tidak tahu harus menjawab apa. Baru mendengarnya saja sudah bisa membuatku mendadak linglung. Baru kali ini juga aku mulai merasa takut sama kakakku sendiri. Karena aku tahu sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakannya untuk 1 peristiwa yang tarjadi beberapa menit yang lalu. Itu semua tersimpan di ekspresi wajahnya sekarang.
“sudahlah. Ayo bilang saja pada kakakku mu ini, aku mengenalmu. Kau tidak bisa berbohong padaku”. Pandangannya menyusuri jalan yang padat di depan sana.
“tidak seperti yang kakak bayangkan. Mungkin karena tadi sisi berdirinya memang dekat dengan pintu mobilku.” Jawabku dengan ide yang entah dari mana asalnya. “jadi ya… memang seharusnya kan dia bersikap seperti itu. Kakak tenang saja lah.”
“begitu? Kau yakin itu alasannya? Mungkin kau bisa berpikir seperti itu, tapi berbeda dengan pikirannya. Kau mengerti kan maksudku?”
aku mengangkat bahuku, “aku tidak mengerti. Dan tidak mau mengerti.” Jawabku sambil nyengir.
“hah… kita lihat saja nanti perkembangannya!” kali ini suaranya terlampau kecil untuk bisa didengar.
“ngomong apa sih? Aku tidak mendengarnya.” Tanyaku sambil mengguncang lengannya yang
memegang stir mobil.
“tidak apa-apa. Lupakan.” Jawabnya tanpa melihatku. “So,, kemana kita pergi?”
“gak tau. terserah saja deh.” Ucapku malas. “tapi bagaimana kalau kita makan dulu. Daritadi sudah lapar. Ok..ok?” tanyaku dengan memelas.
“ya baiklah. Kakakmu ini sudah tahu kebiasaanmu, dari dulu. Selalu saja yang dipikirkan makan..makan..dan makan..” ejeknya sambil tertawa.
“memang seperti ini lah adikmu.. makan itu penting untuk masa pertumbuhanku sekarang. jadi jangan mengejek seperti itu.” Ucapku dengan sedikit kemarahan. “huuhh… Kalau nggak mau juga nggak apa-apa!!”
“hahaha… ya sudah mau makan dimana? ‘Steak World’ mau gak?”
“mau..mau..” ucapku bersemangat.
“hah… dasar kau ini.” Ucapnya sambil memukul pelan wajahku.
Inilah salah satu keuntungan kalau dia datang menjengukku. Makanku ditanggung selama dia berada disini. Bisa seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan. ‘lumayan kan?’ . Yang terpenting sekarang adalah semoga saja dia tidak menanyakan tentang masalah itu lagi sekarang, kalau perlu selamanya. Dan tidak akan ada hal-hal yang mencurigakan lagi yang terjadi dalam waktu dekat. Yah… semoga saja.
*****
waktu masih menunjukkan pukul 9 malam. Walaupun masih terlalu dini untuk tidur tapi sepertinya tidak berlaku bagiku. Lelah sekali rasanya setelah seharian pergi bersama salah satu orang terpenting dalam hidupku. Kakak tercinta tentunya. Sebenarnya Aku sendiri masih tidak tahu apa yang direncanakannya bepergian hari ini, karena dari semua pusat perbelanjaan yang kami datangi, tidak satupun dia membeli dan membawa barang belanjaan. Berbeda sekali dengan sebelum-sebelumnya, karena biasanya pasti ada saja barang-barang yang dia beli. Entah itu penting atau tidak.
Setelah dirasa cukup untuk hari ini, kami berdua bergegas untuk pulang. Akan tetapi sepertinya ada satu hal yang kami lupakan, dalam perjalan pulang barulah kakakku mengingat akan hal itu. Yaitu ‘Yukiwa’. Kami lupa kalau sebelumnya kami sudah menitipkannya di pet house untuk melakukan mandi mingguan.
Langsung lah mobil kami memutar arah kembali untuk menuju pet house yang sebenarnya sudah kami lewati daritadi. Bisa-bisanya kami melupakan kucing gendut itu. Sesampai disana waktu menunjukkan pukul 8.30 malam. Yukiwa terlihat yang paling gendut diantara semua kucing didalam sini. Dan dia sudah wangi tentunya. Sebelumnya dari luar kami juga sudah bisa melihatnya berada dikandangnya melihat sinis kearah kedatangan kami. Seperti ada suatu hal yang ingin ditanyakannya, ‘kenapa aku lama sekali dijemput?’
Tetapi ada satu hal yang agak disayangkan. Hal itu ialah bukan dr.Makoto yang menjaga malam ini. Ada sedikit perasaan kecewa yang menggantung. ’Apakah artinya ini..??’
Sekarang dikamar ini hanya aku yang terlelap dahulu. Sementara kakakku masih sibuk dengan menjawab panggilan telepon yang daritadi memanggilnya. Sepintas-pintas aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Yah… selain urusan kantor juga ada saling mengejek-mengejek dengan nama panggilan yang mereka buat sendiri. Aku masih bisa mendengarnya hingga akhirnya aku terlelap dan siap menjemput bunga tidur yang telah menungguku.
*****
Aku terbangun dalam kesendirian. Tidak ada satupun pemandangan jelas yang terlihat dimataku. Semuanya masih terasa kabur. Bahkan aku sendiri tidak melihat kakakku di tempat tidur.
“kemana dia pergi? Cepat sekali bangun.” Dengan malas aku berjalan membuka pintu kamar dan berharap menemukan sosoknya.
Tetapi tidak seorang pun yang kutemukan. Bahkan kandang hitam didepanku sudah terlihat kosong. Lalu Aku melihat ada secarik kertas di atas kandang itu.
‘Aku membawa Yukiwa pergi jalan-jalan. Udara pagi ini sepertinya bagus untuk berjalan-jalan’
Setelah membaca pesan tadi, aku kembali ke kamar. Berencana meneruskan niat tidurku yang tak tertahankan. Mungkin karena efek kemarin aku merasa sangat mengantuk. Dan untuk istirahat semalam saja masih terasa kurang untukku.
Baru juga hendak menutup mata, ada suara berisik yang mengganggu tidurku... L’arc ~ en ~ Ciel – My Heart Draws a Dream bergema dengan lantang di kamar ini. Aku bergegas mencari sumber suara yang mengusik tidurku. dan ternyata itu adalah panggilan dari telepon kakakku. ‘ternyata Yuko-neechan pergi tidak membawa handphonenya. Huuuhh… mengganggu saja.’. tanpa melihat siapa yang memanggil, aku langsung menjawab panggilan itu.
“moshi-moshi?” ucapku.
“yuko-chan ini dirimu?” suara diseberang menjawab.
“oh… bukan. Yuko-neechan sedang keluar. Ini dengan siapa? Ada pesan yang ingin disampaikan?” ucapaku masih dengan suara mengantuk.
“ini dengan temannya. Harada Makoto. Ini dengan Touko ya?”
Nande??? Apa aku tidak salah dengar. Kini aku mencoba kembali kedunia nyata. Menatap layar telepon yang tertera dengan jelas, panggilan ‘Harada Makoto’… Ohhh tidak!!!
“iya. Ada perlu apa ya?” aku tidak tahu harus menjawab apa.
“begini,, arsitek yang Yuko cari itu sudah bisa melakukan pertemuan hari ini. Apakah kira-kira Yuko bisa, Touko?”
“hmm… kira-kira jam berapa?”
“ya mungkin sekitar jam makan siang.”
“Sepertinya …” konsentrasi ku beralih ke suara yang ada diluar. “ah… ini Yuko-neechan sudah kembali, dok.” Aku segera memberikan telepon ini pada kakakku. Tanpa memberitahu siapa yang menelepon.
“siapa?” tanyanya sambil memasukkan Yukiwa kembali ke kandangnya.
“terima saja.” Ucapku langsung berlalu.
Aku mendengar kakakku menerima telepon itu, dan segera tahu siapa orang yang ada diseberang sana. Dari gaya bicara seperti sedang menerima panggilan bisnis saja. Ya memang sih.. ada bisnis di antara mereka berdua. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini bisnis arsitek itu. Padahal baru kemarin mereka membicarakannya.
“ya baiklah. Siang ini, di Green Bee Café.” Samar-samar aku mendengar percakapan mereka.
Green Bee Café? Aku belum pernah mendengar tempat itu.
“haik… arigatou gonzaimazu, makoto-kun.” Panggilan terputus.
Pintu kamar terbuka. Kini aku melihat dia masuk dan duduk disebelahku. Tentu saja aku sedang dalam posisi tidur.
“Touko,, nanti siang kau ikut ya?” pintanya.
“kemana?” tanyaku.
“ke Green Bee Café. Yah… sekalian makan siang. Kau pasti belum tahu tempatnya kan??”.
“memang belum tahu. Mau bertemu arsitek itu disana ya?” aku masih menutup mataku.
“ya begitu lah. Ikut ya?? Disana makanannya enak-enak loh. Pasti kau bakal senang deh. Secara hobimu kan makan,, hahaha!!”
Aku memukulnya dengan guling ditanganku, “ih… enak saja!! Tapi awas ya kalau nggak seperti yang diomongkan.”
“Oke, sip!! Ya sudah mandi sana, sebelumnya kita harus pergi berbelanja dulu. Kan semalam aku belum ada membeli apa-apa.” Kini dia beranjak membongkar tas bajunya.
Dasar kakak ini, kalau sudah disini kerjanya pasti belanja saja. Aku kan masih capek. Lagian nanti siang kan aku ada kuliah. Masa dia tidak tahu sih… pokoknya selesai atau tidak pertemuan mereka, dia harus mengantarku ke kampus. Tapi.. tapi.. ada satu hal yang tidak aku mengerti. Kenapa tadi aku merasa senang sewaktu berbicara dengan dokter itu ya? Dan sekarang juga, rasanya ingin cepat-cepat bertemu dokter itu lagi. Aku tidak peduli apa yang ada dipikiran kakakku nanti. Yang jelas, aku hanya ingin bertemu dengan dia, Harada Makoto.
*****
Disinilah kami sekarang, Green Bee Café. Tempatnya luas, dengan desain café yang lumayan unik. Disini kita banyak menemukan hal-hal yang berbau bee’s atau lebah. Ada lukisan lebah, patung lebah, hiasan gantung lebah, dan semuanya serba lebah. Tapi tentu saja lebah-lebah yang ada disini lucu-lucu dan imut-imut. Tidak seperti lebah yang mengerikan itu. yang bila mereka diusik, mereka akan menyerang balik pengganggunya.
Dari makanannya juga serba-serbi lebah. Tentu saja yang berbau madu. Ada Sirloin Steak Honey, Fried Burn Honey, Meat Ball Honey, dan menu Honey-Honey lainnya. Dari minumannya juga ada yang serba-serbi Honey, seperti Lime Honey Punch, Kiwi Honey Searly Temple, Juice Honey, Ice Cream Honey dan sebagainya yang kurasa memiliki nama yang aneh-aneh.
Dihadapan kami kini, sudah ada 2 orang yang telah menunggu dari tadi. Yaitu Dokter itu dan seorang arsitek yang tadi sudah dijanjikan, yang bernama Soujiro Kato. Mari kita cirikan seorang Soujiro Kato menurut pandangan seorang Raigawa Touko. Kalau untuk dokter itu tidak usah dideskripsikan. Karena menurut aku dia selalu keren menggunakan apapun.
Mari dimulai, pertama Dari berpakaiannya dia menggunakan kemeja biru dengan lengan tergulung 3/4. dan masih terlihat santai tapi rapi. Dan untuk bawahan, dia menggunakan jeans denim berwarna biru gelap dan sentuhan terakhir dia menggunakan sepatu pantofel santai berwarna hitam. ‘Hmm… pilihan style yang bagus.’
Untuk ukuran tinggi badan, ya… dia tidak setinggi Makoto. Mungkin hanya sekitar 170-an cm. memiliki kulit agak gelap untuk ukuran seorang cowok. Tatanan rambut dengan gaya spike pendek dan rambut berwarna hitam pekat. Dari keseluruhannya Bagus. Tapi kalau dibandingkan dengan Makoto, tentu saja tetap Makoto.
Dan dari sifat Soujiro Kato juga terlihat Ramah, baik, dan Bersahabat untuk kalangan seorang arsitek. terlebih dia pasti sering bertemu dengan banyak orang, pasti keramahan sangat dituntut dalam profesinya. Disini aku hanya sebagai pendengar dari 3 orang yang ada disini. Aku sama sekali tidak mengerti untuk masalah seperti ini. Apalagi untuk urusan desain rumah.
“jadi rumah seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan, Yuko?” Tanya Kato-san.
“aku juga tidak tahu. Sepertinya dari bahan yang kamu bawa belum ada desain yang menarik. Apa kamu masih punya contoh yang lainnya, kato?” Tanya kakakku yang masih sibuk melihat satu-persatu contoh rumah di hadapannya.
“tentu saja ada. Tapi tidak aku bawa disini. Semuanya ada dikantorku.”
“boleh aku melihat?” ucap kakakku penasaran.
“boleh. Sehabis ini kalau mau kamu bisa ketempatku.” Ajaknya sambil menyeruput Lime Honey Punch-nya.
“baiklah kalau begitu. Aku akan ikut.”
“sebelumnya akan ku bawa kamu ke perpustakaan kota untuk melihat koleksi-koleksi lainnya.” Ucap kato-san lagi.
“karena baru-baru ini aku melihat ada literature yang bagus untuk bisa direkomendasikan.”
Apa!! Habis ini mereka mau pergi lagi?? Bagaimana dengan aku. Aku harus kuliah siang ini juga..!!!
“kalian juga ikut kan?” Tanya kakak. Khususnya padaku.
Huumm… sepertinya dia lupa akan kuliahku.
“oneechan…” aku mendongakkan kepalaku ke telinganya. “kau lupa ya? Kau kan harus mengantar ku ke kampus siang ini. Aku ada kuliah.” Bisikku pelan.
Tanpa rasa bersalah dia berkata, “ayo lah… kau ikut saja. Kuliahmu libur saja dulu sehari ya??”pintanya yang tentu saja akan aku tolak.
Aku melihat dua orang didepan sedang memperhatikan kami. ‘Tak peduli lah.’
Aku mendengus kesal dengan menggelengkan kepala. Tanda tidak mau ku. Enak saja dia memintaku untuk libur. Memangnya dia yang membayarkan uang kuliahku. Pasti bukan kan. Lagian aku juga tidak tertarik untuk ikut ke dalam masalah pembuatan rumah. ‘Tinggal terima saja lah aku.’ Ucapku dalam hati. Kalau tadi liburnya untuk jalan-jalan, ya… pasti akan aku pertimbangkan.. hheee!!!
“jadi kau tidak bisa mengantarku?” tanyaku lagi memastikan.
“bukannya tidak bisa, tapi masalah ini harus selesai secepatnya, touko.”
Ya sudah mau gimana lagi…
“baiklah..baiklah.. aku pergi sendiri saja.”jawabku langsung.
Tiba-tiba ada suara yang ikut dalam pembicaraan aku dan kakak.
“Touko, kau bisa pergi denganku.” ucap makoto menggegerkanku.
Hah… apa maksudnya dia berbicara seperti itu? Jadi dia tahu maksud pembicaraan kami tadi? Jadi dia sudah menguping pembicaraan kami. Yah… meskipun pembicaraan kami tadi agak ribut, tapi sepertinya tidak bisa untuk didengar oleh siapapun.
“apa maksudmu, makoto?” Tanya kakakku langsung setelah mendengar makoto berucap seperti tadi.
“aku tahu siang ini Touko ada kuliah, jadi biar aku saja yang mengantar. Karena aku siang ini juga ada jam mengajar di kampus Touko.” Ucapnya langsung tanpa celah.
“jadi kau dosennya Touko?” kakakku masih tidak mengerti.
“bukan Oneechan,” aku menyeletuk lemah.
“jadi apa?”
“aku memang mengajar, tapi bka ditempat Touko. Tapi di fakultas lain.” Sepertinya kali ini kakakku mengerti.
“oh..i see. Kalau begitu kau mengajar di fakultas kedokteran hewan pastinya.” Tebak kakakku percaya diri.
“kalau begitu kau mengenal Ryoga?Hanazaki Ryoga? Karena setahu ku anak itu ada dijurusan itu.”
“ya dia memang anak didikku.” Ucap makoto yang terkesan agak dingin.
Yah… ketahuan deh sudah pekerjaan Makoto yang lain. Bisa-bisa ada yang tambah curiga nih…
“jadi kau mengajar?” Tanya kato-san takjub. “kau tidak memberitahu ku.” Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“baru beberapa bulan ini. Aku berencana memberitahumu, tapi kau selalu sibuk, kato-kun.”
Apa-apa an ini malah membahas masalah ngajar-mengajar. Bagaimana denganku yang sebentar lagi masuk kuliah. Mampus..!!! aku juga belum menyetujui masalah tadi kan…
“baiklah aku pergi sekarang.” Ucapku langsung tapa berbasa-basi.
“hey… wait!!” kakak menarikku kembali. “makoto, aku titip Touko ya. Maaf merepotkanmu.”
“ya tidak apa-apa,Yuko. Lebih baik kalian pergi saja berdua, biar lebih cepat dapat yang di inginkan.”
Makoto bergegas bangkit, “aku pergi dulu, Kato, Yuko. Maaf tidak bisa menemani kalian sampai selesai.” Makoto pamit kepada mereka sambil membungkuk.
“aku juga pamit.” Aku membungkuk kepada mereka. “oh iya Kato-san, titip kakakku ya. Dia agak menyusahkan kalau apa yang di maunya belum terpenuhi.” Ucapku sambil nyengir.
“benarkah?” lalu kato-san tertawa renyah. “baiklah akan kuingat itu.”
“apa-apa’an ini kalian. Ayo sana cepat pergi.” Ucap kakakku yang sedikit ngambek dan juga sedikit malu.
Makoto pergi duluan dihadapanku. Sedangkan Aku masih memandang kearah mereka berdua dan melambaikan tangan pada mereka. setelah beberapa langkah meninggalkan mereka, aku melihat Makoto berbalik menghadapku. Barulah pada saat aku sejajar dengan dia, dia berjalan tepat disebelahku. ‘Dia menungguku ternyata’. Tidak ada kata-kata yang terlontar antara kami berdua, begitupun pada saat di dalam mobil. Hanya sunyi yang menemani. Dan alunan music radio yang tidak aku ketahui lagu apa yang sedang diputar.
Anehnya pada saat perjalanan menuju mobil tadi, sepertinya ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku. Tapi selama aku menunggu tidak ada juga satu katapun yang terlontar dari mulutnya. Kecewa? ada sih sedikit. Sedangkan aku terlalu malu untuk memulai pembicaraan diantara kami. Belum lagi dengan gemuruh hati yang kurasakan hingga sekarang.Tidak henti-hentinya jantung ini berhenti berdebar. Kenapa hanya akhir-akhir ini aku merasakannya. Sebelumnya tidak pernah, bahkan saat didekat dia sekalipun.
Lebih aneh lagi, kenapa perjalanan ini terasa sangat jauh… Tidak sampai-sampai menurutku. Padahal sudah cukup lama, dan rute yang dilewati juga sudah sering aku lewati. Tetapi tidak selama dan sejauh ini. ‘Ada apa ini sebenarnya???’
*****
Hanazaki Ryoga
Aku menapaki jalan menuju kelas ku hari ini. Selama perjalanan, ku mencoba mencari sosok yang belum ada kulihat hari ini. Tidak melihatnya 1 hari saja sudah membuatku linglung seperti ini. Bahkan di markas tadi. Aku hampir saja di omel lagi sama atasan ku, Mr. Matsuyama Kenichi. Itu karena ada 1 kaos yang salah aku print. Beruntungnya saja itu pesanan temen ku sendiri, jadi ya dia pasti mengerti dengan kesalahan itu. . ‘aku harap’.
Lanjut masalah seseorang yang tidak aku lihat hari ini.
Ya… dari tadi pagi aku sudah tidak melihatnya di rumah. Bahkan dari kemarin siang. Semenjak kakaknya datang, mereka berdua selalu saja berjalan tanpa mengenal waktu dan lelah. Pulangnya saja aku tidak tahu kapan. Mungkin saat itu aku sudah berada di alam mimpi, bersama dengan ‘dia’ yang ku impikan malam itu. Lalu esok paginya, aku sudah tidak menemukan sosoknya lagi. karena aku tahu dia pasti sudah jalan lagi bersama kakak tercintanya itu.
“ouughh… kenapa tiba-tiba jadi keingat dia terus sih!! pake acara kangen segala lagi.” omelku sambil menendang kaleng kosong yang tergeletak pasrah dihadapanku.
Pandanganku mengikuti arah kaleng yang kutendang kearah samping. Hingga kaleng itu kembali tergeletak pasrah menunggu tendangan yang berikutnya. Tak lama setelah itu, terlihat dari arah berlawanan sebuah mobil Honda Sport hitam memasuki area parkir mobil kampus.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari mobil itu, tapi ada sesuatu yang istimewa sesaat setelah pengemudi dan penumpang mobil itu turun.
Jgggeeeerrrrrr…………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Serasa disambar petir di siang bolong, serasa bumi berhenti berputar, dan serasa hati ini habis menguras berton-ton obat sehingga sudah tidak sanggup untuk melaksanakan tugasnya lagi. Aku terkulai lemas melihat pemandangan yang ada dihadapanku sekarang…
“Touko…” ucapku lirih.
To be continued………
thank you...^^
like n Comment please...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar