hai,, i'm back. this part 3 from part 2 'am i jeolous?'
New Cast :
Raigawa Miyayuko as Touko’s Sister
“Welcome for new cast,,chukae!!!”
This I make mini dictionary about this story..
- iie : tidak
- Haik : iya
- Sensei : guru
- Nande? : kenapa?
- Gomen / Gomenasai : maaf
- Suuuggee!!! : hebat / keren
- Arigatou Gonzaimazu : terima kasih banyak
- Nanni? : apa?
Let’s begin!!!
Hanazaki Ryoga
Kuliah hari ini baru saja berakhir, dan tak terbayangkan sebelumnya bahwa yang menjadi dosen untuk hari ini adalah orang yang baru berkenalan denganku siang tadi. Ya dia, Harada Makoto. Tentu saja ini adalah pertama kalinya dia mengajar di tempatku, sama seperti yang dia bilang pada Touko. Tak terpikir sebelumnya oleh ku Harada Makoto menjadi salah satu pengajar di fakultas ku. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku di kelas tadi, seperti iya dan seperti tidak. Tapi aku juga tidak peduli sepenuhnya pada dia.
Dan seperti biasa, hari ini aku dan Touko memiliki jadwal yang sama. Tapi tentu saja aku berbeda kelas, jurusan, dan tahun angkatan dengannya. Touko berbeda 2 angkatan dibawahku, dan dia adalah Mahasiswi dari fakultas Pharmacy. Sedangkan aku Mahasiswa dari fakultas Kedokteran Hewan
“huufftt… pantas saja dai mengajar ditempatku. Dia kan dokter hewannya yukiwa. Kenapa tak terpikir olehku!!” pikirku sambil bersandar pada lemari lokerku.
Seharusnya Touko juga sudah keluar pada jam-jam segini. Tapi kenapa dia tidak terlihat dari tadi. ‘sepertinya ada jam tambahan’, pikirku. Aku pun berinisiatif untuk menuju kelasnya, untuk memastikan keadaan sebenarnya.
Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tiba juga di dekat kelasnya Touko. Aku sengaja tidak menunggunya langsung didepan kelasnya, karena dengan keadaan seperti ini aku tidak terlihat seperti menunggu seseorang. Tapi hanya terlihat sedang duduk santai saja di salah satu bangku kampus. Selain itu juga, karena aku merasa asing bila berada di daerah fakultas lain. Walaupun ini satu kampus yang sama tapi tetap saja terlihat asing di sekelilingku.
Tak lama, dari kejauhan terlihat Touko keluar dari kelasnya berjalan menuju kearahku. Entah dia melihatku atau tidak, tapi sepertinya tidak. Dia melewatiku saja, tanpa menoleh kemana-mana. Perasaan kesal kembali muncul sekarang.
“hei,!” aku memanggilnya.
Dia tetap tidak menoleh. Rasa kesalku bertambah. ‘sengaja tidak mendengar sepertinya’.
“Touko,,!!”
Dia mencari sumber suara yang ditangkap oleh indera pendengarannya, tepat menoleh ke arahku.
“oh.. ternyata kau yang memanggil”. Tanpa rasa bersalah dia menjawabnya. “Sedang apa disini? Menungguku ya?”
godanya, tanpa berjalan ke arahku.
“kau sengaja tidak mendengarku memanggilmu tadi?”
“benarkah kau memanggil? sungguh aku tidak mendengarnya. Gomen…” ucapnya.
‘Bagus…dia sudah meminta maaf’. Permasalahan selesai.
Aku berjalan kearahnya, “kenapa kau lama sekali sih? Aku sudah menunggu dari tadi”.
“untuk apa kau menungguku. Tidak seperti biasanya. Biasanya juga kau pulang sendiri kan? Aku juga bisa pulang sendiri. Aneh sekali kau hari ini.” dia mengatakan tidak melihatku, tapi seperti mengingat tentang kebiasaanku yang seperti dia kata kan barusan.
Aku tidak mau dia mengingat yang jelek-jelek lagi tentangku.
“sudahlah, tidak usah banyak tanya. Kita pu……”
Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, ada suara yang tidak ingin kudengar untuk saat ini.
“Touko-chan!!” sapa Harada Makoto, yang entah sejak kapan dia sudah menuruni tangga didekat kami.
‘huuuhh…. Mau apa sih dia. mengganggu saja’ jeritku dalam hati. Kalau saja ini bukan tempat umum, ingin saja rasanya aku mengusirnya pergi dari sini. Secepatnya enyah dari hadapanku, dan Touko.
Setelah mendekat, barulah dia menyapaku. ‘aku tidak perlu sapaan mu, bapak dosen!!!’ ingin saja aku berkata seperti itu padanya sekarang. Tapi hal itu tentu saja tidak sopan.
“apa yang kalian bedua lakukan disini?” tanyanya pada kami.
“bukan u… Ouuuggh!!!” Touko menginjak kakiku.
Dia melirikku sesaat, tanda untuk tidak melanjutkan kata-kataku. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin kukatakan tadi.
“kami… kami hanya mengobrol biasa, sensei!!”
“oh, begitu ya”.
Aku membuang muka.
“haik sensei. Ngomong-ngomong ada perlu apa, sensei kemari?” Tanya Touko.
Dia menghadap Touko.
“Touko-chan, sehabis ini kau sibuk tidak?”
“iie… nande?”
Dia melirikku sesaat sebelum menjawab, entah apa maksudnya, “aku ingin mengajak kalian pulang bersamaku. Bagaimana?”
Ahh… aku mengerti. ternyata itu alasannya ia melirikku tadi. Kalau saja aku tidak ada disini sekarang pastinya dia sudah membawa pergi Touko. Dan tanpa perlu mengajakku bersamanya. Dan apa tadi dia katakan ‘ingin mengajak kalian pulang bersamaku?’ apa aku tidak salah dengar. Arti kata ‘kalian’ yang dia ucapkan terdengar seperti tidak ikhlas mengajakku. Tanpa perlu diminta tentu saja aku ingin menjawab ‘tidak!!’
“gomenasai, sensei. Sepertinya aku tidak bisa. Sehabis ini aku masih ada urusan yang harus di selesaikan”. Jawabku se-sopan mungkin.
Touko mendelik padaku.
“benarkah Ryoga? Urusan apa? Kau tidak memberitahukannya padaku?”
“buat apa aku memberi tahumu, itu bukan urusanmu”. Jawabku terdengar sensi. Entahlah sejak kapan, mungkin sejak bertemu dengan orang yang bernama Harada Makoto tekanan darahku serasa diatas normal,150/100. Aaarrgggghhhttt…!!!!!!!!!!
“sensei, tidak perlu. Aku pulang sendiri saja”. Touko ikutan menolak. ‘Suuggeee.. Touko!!’ ucapku dalam hati. Tapi aku tidak tega juga membiarkan dia pulang sendiri kali ini. Walaupun kemarin-kemarin dia mengira kalau aku tidak menunggunya untuk pulang, tapi sebenarnya aku selalu menunggunya. Selalu. Dia saja yang tidak menyadarinya. Aku selalu mengawasinya. Saat dia berada di stasiun, di kereta, di bus, dimanapun itu, saat rute pulang ke kontrakan kami. Aku mengawasinya sampai dia benar-benar selamat sampai tujuan. Setelah beberapa menit dia masuk, barulah aku masuk ke dalam. Dan menyelinap ke kamar secepatnya. Kemudian untuk lebih meyakinkannya, aku keluar kamar dengan sudah memakai pakain rumah. Jadi, dia mengira bahwa aku sudah pulang, tanpa menunggunya. Begitu seterusnya. Walaupun aku sedang memiliki tugas yang harus dikerjakan, tapi aku selalu mengantarnya pulang terlebih dahulu.
“sudahlah Touko, kau pulang saja sama Makoto-sensei. Aku ada urusan sebentar”. Ucapku melemah. Tiba-tiba saja aku terpikir tentang urusan yang memang harus kuselesaikan segera. Dengan sangat extra berat hati aku merelakan Touko pulang bersama orang lain,bukan aku. “kasihan juga kau pulang sendiri. itulah sebenarnya tujuanku ke kelasmu, kalau hari ini aku tidak bisa pulang cepat. Karena ada urusan. Tapi untunglah ada Makoto-sensei, kau tidak perlu sendirian kan”.
“sensei,” ucapku pada orang yang membuatku kesal.
“ya Ryoga,,nande?”
“sensei pulang bersama Touko saja. Tidak apa kan? Untung saja ada anda. Kalau tidak dia pasti sudah keluyuran kemana-mana dulu”. Sentil ku pada Touko.
“Ryoga.. apa-apa’in sih. Aku tidak pernah seperti itu tau!!” dia mengomel dengan melipat tangan di dadanya.
“ya baiklah. Aku akan membawanya pulang dengan selamat, Ryoga-kun. Kau tenang saja”. Jawabnya. “atau kau mau kuantar sekalian?”
“tidak perlu,sensei. Lain kali saja”.
Entahlah ini hanya perasaanku atau tidak, aku merasa kalau Touko seperti berharap ingin pulang bersamaku. Dan dia ingin menahanku. Tapi aku menepis perasaan itu jauh-jauh. Mungkin aku terlalu percaya diri.
Aku berpamitan, sebelum pergi dari hadapan mereka. Kini aku sudah jauh. Aku sudah tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, terutama Touko. Ini adalah pertama kalinya aku tidak pulang bersamanya. Sangat sulit memang meninggalkan kebiasaan yang sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Why the earth seemed to shake very hard when I went to step away…
Step felt heavy as if a chain that held it…
Winds seemed very stinging skin, shuddering…
Whether this is the best? Release it with other people…
And I want it…
Now I’ve noticed…
I am nothing without her…
*****
Raigawa Touko
“banguuunnnnnn……banguuuuuunnnnn………!!!”
Serasa ada orang yang mengganggu tidurku.
“Touko!!! Ayo bangun…!!! Kakakmu ini sudah datang, kau masih enak-enakkan tidur. Nggak dijemput lagi. Ayo cepat bangun..!!” dia menarik selimutku, dan memukulku dengan guling-gulingku secara intens tanpa henti.
“gak mau!!!!” aku tetap tidak bergeming dari tidurku.
Dia tetap dengan gigih membangunkanku. Dengan cara menarikku hingga duduk lalu melepaskan penutup mata tidurku.
“Onee-chan, dia memang susah bangun kalau sudah hari libur seperti ini”. Ucap seorang lagi. Yang ku ketahui itu adalah Ryoga setelah aku membuka sedikit mataku.
Dia berdiri didepan pintu kamarku. Sedang menertawakan ‘peristiwa pembangunan secara paksa’ yang terjadi di kamarku. Dan aku sebagai pemeran utamanya. Mungkin ini adalah hal yang jarang dia lihat. Tapi dia terlihat senang. ‘Huuhh… dasar. Senang sekali sepertinya dia’.
“iya..iya aku bangun”. Akhirnya aku menyerahkan diri juga. Berdiri menghampiri pintu kamarku. Hendak berbicara dengan orang yang sedang tertawa didepan kamarku sejak tadi.
“kenapa tertawa? Ada yang lucu? Sana pergi. Ini daerah cewek.Cowok dilarang memasuki daerah ini. Mengerti!!”. Dia hanya mengangguk sambil menahan tawa, sebelum akhirnya aku menutup pintu ini. Tanpa mengucapkan kata maaf pula dia.
Aku kembali ke ranjangku. Hendak tidur maksudnya. Tapi tentu saja ditahan oleh 1 orang lagi yang ada dikamarku. Yaitu kakakku.
Namanya Raigawa Miyayuko. Tidak tahu sejak kapan dia tiba di tempatku. Dia juga tidak mengabariku kalau mau datang. Jadi bukan salahku jika tidak menjemput. Aku berbeda 7 tahun dengannya. Perbedaan yang sangat jauh bukan? Dia sekarang sudah bekerja, sedangkan aku masih seorang mahasiswi awal. Dia bekerja di salah satu Perusahaan di daerah tempat asalku. Karena dia kakakku sendiri jadi ku bilang tampangnya cantik, orangnya baik, ya tapi terkadang dia itu orangnya suka mengomel apa saja yang dilihatnya kurang enak dimatanya, alias pemarah dan mungkin terlihat jutek.
“eiitttss… mau ngapain? Cepat sana mandi. Kita banyak yang harus dikerjakan lagi”. Ucapnya seraya menarik tanganku.
“memangnya mau kemana sih, kak?? Pergi saja tuh sama Ryoga!”
“ayo lah cepat. Pertama kita ke klinik dulu”.
“nani?? mau ngapain ke klinik?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“kita mandikan dulu itu si Yukiwa. Kau tidak merasa dia itu bau!!” dia menunjuk yukiwa yang lagi tidur di pojokan meja buku. “sudah berapa hari dia tidak mandi?”
“huummm… kira-kira 2 minggu. Hahaha!!” aku tertawa.
“ya amppuuuunnnnn… pantas saja dia bau”. Dia menarik rambutku. “ayo cepat!! Jangan sampai dia lebih bau lagi”.
“iya.. iya.. aku mandi dulu. Tunggu sebentar”. Aku mengambil handuk lalu beranjak pergi. “onee-chan siap kan aja dia di keranjang”.
*****
Setelah 20 menit’an akhirnya kelar juga segala persiapanku. Sudah tidak ada onee-chan di kamar. Begitu juga Yukiwa. Mungkin dia sudah dibawa keluar.
Setelah semuanya sudah beres, segera aku keluar dan mengunci pintu kamarku. Terlihat di ruang bawah Yukiwa duduk dipangkuan Ryoga. Sementara kakakku dihadapannya, mereka sedang mengobrol. Terlihat akrab sekali dia dengan kakakku. Dan terlihat sangat ramah. Coba lihat jika denganku, pasti tidak seperti yang diharapkan.
Ryoga melihatku menuruni tangga dan menghampiri mereka.
“Onee-chan, sepertinya orang yang ditunggu sudah siap”. Ucapnya sambil kembali memasukkan Yukiwa dalam keranjangnya.
“ya. Ayo berangkat”. Ucapku.
“Ryoga, beneran kau tidak mau ikut. Mumpung Onee-chan membawa mobil sendiri”. Tanya nya pada Ryoga.
“iie… sebentar juga aku mau keluar bersama temanku. Maaf aku tidak bisa ikut”.
“oh.. ya sudah. Kami pergi dulu ya”. Pamit onee-chan pada Ryoga. Lalu berlalu menuju mobil.
Kini giliran ku yang berpamitan padanya.
“aku pergi dulu ya”.
“aku mengerti. sana pergi”. Ucapnya sinis. “aku sudah biasa”.
Sinis sekali dia padaku. Apa salahku sih padanya, sampai dia bertindak seperti ini. Pada Onee-chan manis sekali sikapnya. ‘Huuuhh… dasar Ryoga!!’.
Tanpa berucap lagi padanya aku langsung pergi meninggalkannya. Kini mobil telah melaju di jalan raya.
*****
Kami telah tiba di depan klinik yang dituju. Onee-chan segera turun dan mengambil Yukiwa di kursi belakang. Ini adalah kedua kalinya aku kemari. aku melihat orang yang sangat kukenal berada di dalam klinik ini. Dia terlihat sedang bersama seorang pasiennya yang membawa seekor anjing puddle. Walaupun terlihat sangat sibuk tapi sepertinya dia menyadari kalau aku datang, dia tersenyum padaku saat aku memasuki klinik ini. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku datang bersama siapa.
Begitu pasien itu selesai dan pergi, orang itu berbicara padaku.
“ada apa Touko?”
“ini dok, Yukiwa mau saya mandikan disini”. Kataku sambil menunjuk Yukiwa yang ada di dalam keranjang bersama kakakku. Barulah dokter itu menyadari bahwa Yukiwa bersama siapa.
“oh… ya ampun. Kapan kamu datang Yuko?” ucapnya sambil bersalaman bersama kakakku. Dan dia memang memanggil kakakku dengan nama Yuko, nama akrab diantara mereka mungkin.
“aku baru saja tiba, Makoto”. Ucap oneechan membalas uluran tangan Makoto. “kamu terlihat sibuk kali ini. Bagaimana kabar ibunya Yukiwa? Dia sehat saja kan?”
“ya dia baik-baik saja. Kemarin baru saja ibunya Yukiwa disterilkan, jadi dia mungkin tidak bisa hamil lagi”. Jawabnya dengan santai. “lalu dalam rangka apa kamu datang ke Tokyo kali ini?”
“aku kesini Cuma liburan saja, mengambil masa cutiku selama 2 minggu. Sekalian aku kesini juga berencana ingin mencari seorang arsitek, Jika dapat. Karena aku berencana mau membuat rumah”. Katanya seraya meletakkan Yukiwa di meja yang telah di sediakan.
Aku tidak mengetahui kalau tujuannya yang mencari seorang arsitek. onee-chan juga tidak pernah berbicara padaku tentang rencananya membuat rumah. Sungguh suatu info yang mengejutkan. Aku kembali mendengar pembicaraan mereka, sambil mengambil kursi di dekatku.
“seorang arsitek? kebetulan sekali aku mempunyai teman seorang arsitek. kalau mau akan ku perkenalkan dia padamu, Yuko”.
“benarkah? Aku berterima kasih sekali padamu, Makoto. Bolehkah ku tahu siapa orang itu?”
“dia teman 1 sekolahku waktu di Tokyo Senior High School. Dan juga kami kuliah di tempat yang sama. Cuma kami berbeda jurusan, dia mengambil jurusan arsitek dan aku mengambil jurusan kedokteran hewan”. Makoto menjelaskan dengan sangat antusias.
“oh ya… sudah seperti sahabat dong? Lalu siapa namanya?”
“ya kami memang sudah bersahabat sejak lama, hingga sekarang. Nama nya Soujiro Kato. Aku bisa memanggilnya. Kapan kamu bisa, Yuko?”
“aku bisa kapan saja. Asalkan masih dalam waktu 2 minggu ini”.
“baiklah akan ku urus. Nanti aku akan menghubungimu Yuko”.
“arigatou Gonzaimasu, Makoto”.
Aku membiarkan mereka mengobrol, dan mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. ‘baik juga dia itu, mau membantu Onee-chan’ Pikirku. Lalu pandanganku teralih ke keranjang Yukiwa, aku tertawa melihatnya yang seperti ingin keluar karena keranjang ini terlihat sangat sempit dengan ukuran badannya yang bisa dibilang sangat gendut.
“jadi Yukiwa ingin dimandikan disini, Touko. Mandi apa?” Tanya makoto beralih padaku.
“mungkin mandi ‘anti jamur’ aja dok, kemarin kan dia baru terkena alergi”.
“baiklah. Yukiwa bisa diambil siang nanti”.
“kalau begitu kami permisi dulu, Makoto. Titip salam sama pemilik ibunya Yukiwa ya. Dan juga jaga Yukiwa, jangan sampai hilang”.
“dasar kamu ini, Yuko. Yukiwa bakal aku jual nanti”. Jawabnya sambil tertawa. “baiklah nanti aku salamin”.
“ya sudah kami pergi”. Ucap Onee-chan sebelum beranjak pergi.
“hati-hati dijalan”. Makoto pun mengantar kami sampai ke mobil.
Di balik semua itu, Makoto melakukan sesuatu diluar pemikiranku. Makoto membukakan pintu untukku dan menutupkan nya kembali. Hal itu sepertinya terlihat oleh kakakku. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan. Tetapi aku merasakan hal yang tidak enak atas hal tadi. Pasti akan ada pertanyaan yang akan Onee-chan tanyakan padaku. ‘matilah aku, apa yang harus ku katakan padanya? apa-apa'an pula yang dia lakukan tadi. siallll....!!!'
Sebelum pergi Onee-chan membunyikan klakson pada Makoto. Setengah perjalanan, pertanyaan yang kutakutkan keluar juga.
“kalian sudah berkencan ya?”
To be continued………
so, how?? it's good or not??
i think it's not good,, :( hahaha!!! so, gomen...
like *if u like it* n please coment...
Arigato,,*bow!!*
New Cast :
Raigawa Miyayuko as Touko’s Sister
“Welcome for new cast,,chukae!!!”
This I make mini dictionary about this story..
- iie : tidak
- Haik : iya
- Sensei : guru
- Nande? : kenapa?
- Gomen / Gomenasai : maaf
- Suuuggee!!! : hebat / keren
- Arigatou Gonzaimazu : terima kasih banyak
- Nanni? : apa?
Let’s begin!!!
Hanazaki Ryoga
Kuliah hari ini baru saja berakhir, dan tak terbayangkan sebelumnya bahwa yang menjadi dosen untuk hari ini adalah orang yang baru berkenalan denganku siang tadi. Ya dia, Harada Makoto. Tentu saja ini adalah pertama kalinya dia mengajar di tempatku, sama seperti yang dia bilang pada Touko. Tak terpikir sebelumnya oleh ku Harada Makoto menjadi salah satu pengajar di fakultas ku. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku di kelas tadi, seperti iya dan seperti tidak. Tapi aku juga tidak peduli sepenuhnya pada dia.
Dan seperti biasa, hari ini aku dan Touko memiliki jadwal yang sama. Tapi tentu saja aku berbeda kelas, jurusan, dan tahun angkatan dengannya. Touko berbeda 2 angkatan dibawahku, dan dia adalah Mahasiswi dari fakultas Pharmacy. Sedangkan aku Mahasiswa dari fakultas Kedokteran Hewan
“huufftt… pantas saja dai mengajar ditempatku. Dia kan dokter hewannya yukiwa. Kenapa tak terpikir olehku!!” pikirku sambil bersandar pada lemari lokerku.
Seharusnya Touko juga sudah keluar pada jam-jam segini. Tapi kenapa dia tidak terlihat dari tadi. ‘sepertinya ada jam tambahan’, pikirku. Aku pun berinisiatif untuk menuju kelasnya, untuk memastikan keadaan sebenarnya.
Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tiba juga di dekat kelasnya Touko. Aku sengaja tidak menunggunya langsung didepan kelasnya, karena dengan keadaan seperti ini aku tidak terlihat seperti menunggu seseorang. Tapi hanya terlihat sedang duduk santai saja di salah satu bangku kampus. Selain itu juga, karena aku merasa asing bila berada di daerah fakultas lain. Walaupun ini satu kampus yang sama tapi tetap saja terlihat asing di sekelilingku.
Tak lama, dari kejauhan terlihat Touko keluar dari kelasnya berjalan menuju kearahku. Entah dia melihatku atau tidak, tapi sepertinya tidak. Dia melewatiku saja, tanpa menoleh kemana-mana. Perasaan kesal kembali muncul sekarang.
“hei,!” aku memanggilnya.
Dia tetap tidak menoleh. Rasa kesalku bertambah. ‘sengaja tidak mendengar sepertinya’.
“Touko,,!!”
Dia mencari sumber suara yang ditangkap oleh indera pendengarannya, tepat menoleh ke arahku.
“oh.. ternyata kau yang memanggil”. Tanpa rasa bersalah dia menjawabnya. “Sedang apa disini? Menungguku ya?”
godanya, tanpa berjalan ke arahku.
“kau sengaja tidak mendengarku memanggilmu tadi?”
“benarkah kau memanggil? sungguh aku tidak mendengarnya. Gomen…” ucapnya.
‘Bagus…dia sudah meminta maaf’. Permasalahan selesai.
Aku berjalan kearahnya, “kenapa kau lama sekali sih? Aku sudah menunggu dari tadi”.
“untuk apa kau menungguku. Tidak seperti biasanya. Biasanya juga kau pulang sendiri kan? Aku juga bisa pulang sendiri. Aneh sekali kau hari ini.” dia mengatakan tidak melihatku, tapi seperti mengingat tentang kebiasaanku yang seperti dia kata kan barusan.
Aku tidak mau dia mengingat yang jelek-jelek lagi tentangku.
“sudahlah, tidak usah banyak tanya. Kita pu……”
Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, ada suara yang tidak ingin kudengar untuk saat ini.
“Touko-chan!!” sapa Harada Makoto, yang entah sejak kapan dia sudah menuruni tangga didekat kami.
‘huuuhh…. Mau apa sih dia. mengganggu saja’ jeritku dalam hati. Kalau saja ini bukan tempat umum, ingin saja rasanya aku mengusirnya pergi dari sini. Secepatnya enyah dari hadapanku, dan Touko.
Setelah mendekat, barulah dia menyapaku. ‘aku tidak perlu sapaan mu, bapak dosen!!!’ ingin saja aku berkata seperti itu padanya sekarang. Tapi hal itu tentu saja tidak sopan.
“apa yang kalian bedua lakukan disini?” tanyanya pada kami.
“bukan u… Ouuuggh!!!” Touko menginjak kakiku.
Dia melirikku sesaat, tanda untuk tidak melanjutkan kata-kataku. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin kukatakan tadi.
“kami… kami hanya mengobrol biasa, sensei!!”
“oh, begitu ya”.
Aku membuang muka.
“haik sensei. Ngomong-ngomong ada perlu apa, sensei kemari?” Tanya Touko.
Dia menghadap Touko.
“Touko-chan, sehabis ini kau sibuk tidak?”
“iie… nande?”
Dia melirikku sesaat sebelum menjawab, entah apa maksudnya, “aku ingin mengajak kalian pulang bersamaku. Bagaimana?”
Ahh… aku mengerti. ternyata itu alasannya ia melirikku tadi. Kalau saja aku tidak ada disini sekarang pastinya dia sudah membawa pergi Touko. Dan tanpa perlu mengajakku bersamanya. Dan apa tadi dia katakan ‘ingin mengajak kalian pulang bersamaku?’ apa aku tidak salah dengar. Arti kata ‘kalian’ yang dia ucapkan terdengar seperti tidak ikhlas mengajakku. Tanpa perlu diminta tentu saja aku ingin menjawab ‘tidak!!’
“gomenasai, sensei. Sepertinya aku tidak bisa. Sehabis ini aku masih ada urusan yang harus di selesaikan”. Jawabku se-sopan mungkin.
Touko mendelik padaku.
“benarkah Ryoga? Urusan apa? Kau tidak memberitahukannya padaku?”
“buat apa aku memberi tahumu, itu bukan urusanmu”. Jawabku terdengar sensi. Entahlah sejak kapan, mungkin sejak bertemu dengan orang yang bernama Harada Makoto tekanan darahku serasa diatas normal,150/100. Aaarrgggghhhttt…!!!!!!!!!!
“sensei, tidak perlu. Aku pulang sendiri saja”. Touko ikutan menolak. ‘Suuggeee.. Touko!!’ ucapku dalam hati. Tapi aku tidak tega juga membiarkan dia pulang sendiri kali ini. Walaupun kemarin-kemarin dia mengira kalau aku tidak menunggunya untuk pulang, tapi sebenarnya aku selalu menunggunya. Selalu. Dia saja yang tidak menyadarinya. Aku selalu mengawasinya. Saat dia berada di stasiun, di kereta, di bus, dimanapun itu, saat rute pulang ke kontrakan kami. Aku mengawasinya sampai dia benar-benar selamat sampai tujuan. Setelah beberapa menit dia masuk, barulah aku masuk ke dalam. Dan menyelinap ke kamar secepatnya. Kemudian untuk lebih meyakinkannya, aku keluar kamar dengan sudah memakai pakain rumah. Jadi, dia mengira bahwa aku sudah pulang, tanpa menunggunya. Begitu seterusnya. Walaupun aku sedang memiliki tugas yang harus dikerjakan, tapi aku selalu mengantarnya pulang terlebih dahulu.
“sudahlah Touko, kau pulang saja sama Makoto-sensei. Aku ada urusan sebentar”. Ucapku melemah. Tiba-tiba saja aku terpikir tentang urusan yang memang harus kuselesaikan segera. Dengan sangat extra berat hati aku merelakan Touko pulang bersama orang lain,bukan aku. “kasihan juga kau pulang sendiri. itulah sebenarnya tujuanku ke kelasmu, kalau hari ini aku tidak bisa pulang cepat. Karena ada urusan. Tapi untunglah ada Makoto-sensei, kau tidak perlu sendirian kan”.
“sensei,” ucapku pada orang yang membuatku kesal.
“ya Ryoga,,nande?”
“sensei pulang bersama Touko saja. Tidak apa kan? Untung saja ada anda. Kalau tidak dia pasti sudah keluyuran kemana-mana dulu”. Sentil ku pada Touko.
“Ryoga.. apa-apa’in sih. Aku tidak pernah seperti itu tau!!” dia mengomel dengan melipat tangan di dadanya.
“ya baiklah. Aku akan membawanya pulang dengan selamat, Ryoga-kun. Kau tenang saja”. Jawabnya. “atau kau mau kuantar sekalian?”
“tidak perlu,sensei. Lain kali saja”.
Entahlah ini hanya perasaanku atau tidak, aku merasa kalau Touko seperti berharap ingin pulang bersamaku. Dan dia ingin menahanku. Tapi aku menepis perasaan itu jauh-jauh. Mungkin aku terlalu percaya diri.
Aku berpamitan, sebelum pergi dari hadapan mereka. Kini aku sudah jauh. Aku sudah tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, terutama Touko. Ini adalah pertama kalinya aku tidak pulang bersamanya. Sangat sulit memang meninggalkan kebiasaan yang sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Why the earth seemed to shake very hard when I went to step away…
Step felt heavy as if a chain that held it…
Winds seemed very stinging skin, shuddering…
Whether this is the best? Release it with other people…
And I want it…
Now I’ve noticed…
I am nothing without her…
*****
Raigawa Touko
“banguuunnnnnn……banguuuuuunnnnn………!!!”
Serasa ada orang yang mengganggu tidurku.
“Touko!!! Ayo bangun…!!! Kakakmu ini sudah datang, kau masih enak-enakkan tidur. Nggak dijemput lagi. Ayo cepat bangun..!!” dia menarik selimutku, dan memukulku dengan guling-gulingku secara intens tanpa henti.
“gak mau!!!!” aku tetap tidak bergeming dari tidurku.
Dia tetap dengan gigih membangunkanku. Dengan cara menarikku hingga duduk lalu melepaskan penutup mata tidurku.
“Onee-chan, dia memang susah bangun kalau sudah hari libur seperti ini”. Ucap seorang lagi. Yang ku ketahui itu adalah Ryoga setelah aku membuka sedikit mataku.
Dia berdiri didepan pintu kamarku. Sedang menertawakan ‘peristiwa pembangunan secara paksa’ yang terjadi di kamarku. Dan aku sebagai pemeran utamanya. Mungkin ini adalah hal yang jarang dia lihat. Tapi dia terlihat senang. ‘Huuhh… dasar. Senang sekali sepertinya dia’.
“iya..iya aku bangun”. Akhirnya aku menyerahkan diri juga. Berdiri menghampiri pintu kamarku. Hendak berbicara dengan orang yang sedang tertawa didepan kamarku sejak tadi.
“kenapa tertawa? Ada yang lucu? Sana pergi. Ini daerah cewek.Cowok dilarang memasuki daerah ini. Mengerti!!”. Dia hanya mengangguk sambil menahan tawa, sebelum akhirnya aku menutup pintu ini. Tanpa mengucapkan kata maaf pula dia.
Aku kembali ke ranjangku. Hendak tidur maksudnya. Tapi tentu saja ditahan oleh 1 orang lagi yang ada dikamarku. Yaitu kakakku.
Namanya Raigawa Miyayuko. Tidak tahu sejak kapan dia tiba di tempatku. Dia juga tidak mengabariku kalau mau datang. Jadi bukan salahku jika tidak menjemput. Aku berbeda 7 tahun dengannya. Perbedaan yang sangat jauh bukan? Dia sekarang sudah bekerja, sedangkan aku masih seorang mahasiswi awal. Dia bekerja di salah satu Perusahaan di daerah tempat asalku. Karena dia kakakku sendiri jadi ku bilang tampangnya cantik, orangnya baik, ya tapi terkadang dia itu orangnya suka mengomel apa saja yang dilihatnya kurang enak dimatanya, alias pemarah dan mungkin terlihat jutek.
“eiitttss… mau ngapain? Cepat sana mandi. Kita banyak yang harus dikerjakan lagi”. Ucapnya seraya menarik tanganku.
“memangnya mau kemana sih, kak?? Pergi saja tuh sama Ryoga!”
“ayo lah cepat. Pertama kita ke klinik dulu”.
“nani?? mau ngapain ke klinik?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“kita mandikan dulu itu si Yukiwa. Kau tidak merasa dia itu bau!!” dia menunjuk yukiwa yang lagi tidur di pojokan meja buku. “sudah berapa hari dia tidak mandi?”
“huummm… kira-kira 2 minggu. Hahaha!!” aku tertawa.
“ya amppuuuunnnnn… pantas saja dia bau”. Dia menarik rambutku. “ayo cepat!! Jangan sampai dia lebih bau lagi”.
“iya.. iya.. aku mandi dulu. Tunggu sebentar”. Aku mengambil handuk lalu beranjak pergi. “onee-chan siap kan aja dia di keranjang”.
*****
Setelah 20 menit’an akhirnya kelar juga segala persiapanku. Sudah tidak ada onee-chan di kamar. Begitu juga Yukiwa. Mungkin dia sudah dibawa keluar.
Setelah semuanya sudah beres, segera aku keluar dan mengunci pintu kamarku. Terlihat di ruang bawah Yukiwa duduk dipangkuan Ryoga. Sementara kakakku dihadapannya, mereka sedang mengobrol. Terlihat akrab sekali dia dengan kakakku. Dan terlihat sangat ramah. Coba lihat jika denganku, pasti tidak seperti yang diharapkan.
Ryoga melihatku menuruni tangga dan menghampiri mereka.
“Onee-chan, sepertinya orang yang ditunggu sudah siap”. Ucapnya sambil kembali memasukkan Yukiwa dalam keranjangnya.
“ya. Ayo berangkat”. Ucapku.
“Ryoga, beneran kau tidak mau ikut. Mumpung Onee-chan membawa mobil sendiri”. Tanya nya pada Ryoga.
“iie… sebentar juga aku mau keluar bersama temanku. Maaf aku tidak bisa ikut”.
“oh.. ya sudah. Kami pergi dulu ya”. Pamit onee-chan pada Ryoga. Lalu berlalu menuju mobil.
Kini giliran ku yang berpamitan padanya.
“aku pergi dulu ya”.
“aku mengerti. sana pergi”. Ucapnya sinis. “aku sudah biasa”.
Sinis sekali dia padaku. Apa salahku sih padanya, sampai dia bertindak seperti ini. Pada Onee-chan manis sekali sikapnya. ‘Huuuhh… dasar Ryoga!!’.
Tanpa berucap lagi padanya aku langsung pergi meninggalkannya. Kini mobil telah melaju di jalan raya.
*****
Kami telah tiba di depan klinik yang dituju. Onee-chan segera turun dan mengambil Yukiwa di kursi belakang. Ini adalah kedua kalinya aku kemari. aku melihat orang yang sangat kukenal berada di dalam klinik ini. Dia terlihat sedang bersama seorang pasiennya yang membawa seekor anjing puddle. Walaupun terlihat sangat sibuk tapi sepertinya dia menyadari kalau aku datang, dia tersenyum padaku saat aku memasuki klinik ini. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku datang bersama siapa.
Begitu pasien itu selesai dan pergi, orang itu berbicara padaku.
“ada apa Touko?”
“ini dok, Yukiwa mau saya mandikan disini”. Kataku sambil menunjuk Yukiwa yang ada di dalam keranjang bersama kakakku. Barulah dokter itu menyadari bahwa Yukiwa bersama siapa.
“oh… ya ampun. Kapan kamu datang Yuko?” ucapnya sambil bersalaman bersama kakakku. Dan dia memang memanggil kakakku dengan nama Yuko, nama akrab diantara mereka mungkin.
“aku baru saja tiba, Makoto”. Ucap oneechan membalas uluran tangan Makoto. “kamu terlihat sibuk kali ini. Bagaimana kabar ibunya Yukiwa? Dia sehat saja kan?”
“ya dia baik-baik saja. Kemarin baru saja ibunya Yukiwa disterilkan, jadi dia mungkin tidak bisa hamil lagi”. Jawabnya dengan santai. “lalu dalam rangka apa kamu datang ke Tokyo kali ini?”
“aku kesini Cuma liburan saja, mengambil masa cutiku selama 2 minggu. Sekalian aku kesini juga berencana ingin mencari seorang arsitek, Jika dapat. Karena aku berencana mau membuat rumah”. Katanya seraya meletakkan Yukiwa di meja yang telah di sediakan.
Aku tidak mengetahui kalau tujuannya yang mencari seorang arsitek. onee-chan juga tidak pernah berbicara padaku tentang rencananya membuat rumah. Sungguh suatu info yang mengejutkan. Aku kembali mendengar pembicaraan mereka, sambil mengambil kursi di dekatku.
“seorang arsitek? kebetulan sekali aku mempunyai teman seorang arsitek. kalau mau akan ku perkenalkan dia padamu, Yuko”.
“benarkah? Aku berterima kasih sekali padamu, Makoto. Bolehkah ku tahu siapa orang itu?”
“dia teman 1 sekolahku waktu di Tokyo Senior High School. Dan juga kami kuliah di tempat yang sama. Cuma kami berbeda jurusan, dia mengambil jurusan arsitek dan aku mengambil jurusan kedokteran hewan”. Makoto menjelaskan dengan sangat antusias.
“oh ya… sudah seperti sahabat dong? Lalu siapa namanya?”
“ya kami memang sudah bersahabat sejak lama, hingga sekarang. Nama nya Soujiro Kato. Aku bisa memanggilnya. Kapan kamu bisa, Yuko?”
“aku bisa kapan saja. Asalkan masih dalam waktu 2 minggu ini”.
“baiklah akan ku urus. Nanti aku akan menghubungimu Yuko”.
“arigatou Gonzaimasu, Makoto”.
Aku membiarkan mereka mengobrol, dan mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. ‘baik juga dia itu, mau membantu Onee-chan’ Pikirku. Lalu pandanganku teralih ke keranjang Yukiwa, aku tertawa melihatnya yang seperti ingin keluar karena keranjang ini terlihat sangat sempit dengan ukuran badannya yang bisa dibilang sangat gendut.
“jadi Yukiwa ingin dimandikan disini, Touko. Mandi apa?” Tanya makoto beralih padaku.
“mungkin mandi ‘anti jamur’ aja dok, kemarin kan dia baru terkena alergi”.
“baiklah. Yukiwa bisa diambil siang nanti”.
“kalau begitu kami permisi dulu, Makoto. Titip salam sama pemilik ibunya Yukiwa ya. Dan juga jaga Yukiwa, jangan sampai hilang”.
“dasar kamu ini, Yuko. Yukiwa bakal aku jual nanti”. Jawabnya sambil tertawa. “baiklah nanti aku salamin”.
“ya sudah kami pergi”. Ucap Onee-chan sebelum beranjak pergi.
“hati-hati dijalan”. Makoto pun mengantar kami sampai ke mobil.
Di balik semua itu, Makoto melakukan sesuatu diluar pemikiranku. Makoto membukakan pintu untukku dan menutupkan nya kembali. Hal itu sepertinya terlihat oleh kakakku. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan. Tetapi aku merasakan hal yang tidak enak atas hal tadi. Pasti akan ada pertanyaan yang akan Onee-chan tanyakan padaku. ‘matilah aku, apa yang harus ku katakan padanya? apa-apa'an pula yang dia lakukan tadi. siallll....!!!'
Sebelum pergi Onee-chan membunyikan klakson pada Makoto. Setengah perjalanan, pertanyaan yang kutakutkan keluar juga.
“kalian sudah berkencan ya?”
To be continued………
so, how?? it's good or not??
i think it's not good,, :( hahaha!!! so, gomen...
like *if u like it* n please coment...
Arigato,,*bow!!*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar