안녕하세요.........
postingan kali ini hanya "iseng-iseng" saja.
cuma pengen nunjukkin idol2 kpop yang saya cast menjadi Raigawa Touko, it's me!!!!!
hahaha,,, just kidding...
Raigawa Touko itu cast untuk ff saya yang postingan sebelumnya,,,,
here we go...
Noh Yi Young (After School), lebih dikenal dengan nama stage E-Young. Multi intrumentalis. lahir pada tanggal 16 Agustus 1992,#hampir sama nih dengan author,,hihihihi.
Nam Ji Hyun (4minute), leader,, birth day 09 Januari 1990.
Jia Meng (Hangul: 멍지아 Hanja: 孟 佳) juga dikenal sebagai Jia lahir 3 Februari 1989 (umur 22) di Hunan, anggota MISS A.
Narsha 나르샤 (BEG : Brown Eyed Girls), birth name Park Hyo Jin (박효진). birth date 28 Desember 1981 (umur 29)
Lizzy (After School), Tanggal lahir : 31 July 1992 (18) Birth name : Park Sooyoung. Position: Vocalist.. Height: 168 cm.
so who are do you think??????
my friend choose for E-young After school,, But i think is Ji Hyun 4minute....
ya sudah terserah siapa saja yang mau,,,
btw,,,감사합니다,, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi blog saya dan membaca postingan saya yang gak jelas ini..
10.21 pm...
good night... mimpi indah..
안녕히 주무세요,, 달콤한 꿈
~ Jo Hyun Lee (조 현 이) ~ chuuu....
Kamis, 29 September 2011
Senin, 23 Mei 2011
Penyakit saluran kencing bagian bawah pada kucing
Hai..hai.. apa kabar semuanya?? diharapnya baik-baik saja ya...
postingan kali ini pengen cerita tentang salah satu penyakit yang bisa menyerang kucing.
yah... berhubung kucing aku yang "paling cute,imut,gendut,dan lucu" itu #plaakk... narsis. abaikan!!!
yang bernama Chuncu sudah tiada di dunia ini,,*sedih,,huhu :'(.. * dia sakit seperti batu ginjal gitu sepertinya. pastinya juga kurang tau.. dokternya cuma bilang "gak bisa kencing... blur naik..keratinnya naik... dan sebagainya".
dengan artikel dibawah ini mungkin bisa memperjelas sedikit tentang penyakit yang menyapa kucing ku,,#menyapa (?).
let's check it now...
Penyakit saluran kencing bagian bawah pada kucing
Feline lower urinary tract disease (FLUTD) yang dikenal juga dengan feline urologic syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada kucing terutama kucing jantan. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika urinaria (VU) dan uretra kucing. Gangguan pada uretra terjadi disebabkan oleh struktur uretra kucing jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian yang menyempit sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke luar tubuh. Feline lower urinary tract disease (FLUTD) meliputi beberapa kondisi yang terjadi pada saluran urinaria kucing (Nash 1997). Sindrom yang terjadi pada kucing ini ditandai dengan pembentukan kristal (paling sering struvite) di dalam VU. Kristal tersebut kemudian akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada urin, kesulitan buang air kecil, serta beberapa kasus dapat menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar dari VU yang dapat menyebabkan kematian (Pinney 2009). Manifestasi penyakit yang disebabkan oleh akumulasi kristal mineral pada saluran urinaria antara lain, adalah: a. peradangan kandung kemih cystitis akibat iritasi dari kristal pada dinding VU, b. urolithiasis yaitu pembentukan batu VU, c. pembentukan sumbat pada uretra berupa pasir kristal mineral (blokade uretra), d. uremia yaitu akumulasi zat kimia yang beracun pada aliran darah ketika blokade pada uretra (Duval 2002). Pada beberapa keadaan urin yang tertahan dalam VU dapat berbalik mengalir ke ginjal yang menyebabkan kematian oleh gagal ginjal akut atau cystitis parah. Kematian terjadi karena toksin menyebar melalui aliran darah menyebabkan sepsis (Pinney 2009).
Kucing jantan dan betina sama-sama beresiko menderita FLUTD, namun kucing jantan beresiko lebih besar terhadap obstruksi yang mematikan karena uretra jantan lebih kecil dibandingkan betina dan memiliki bagian yang mengecil (gambar 1) sehingga penyumbatan lebih gampang terjadi (Pinney 2009).
Beberapa kausa dari terbentuknya kristal mineral yang dapat mengiritasi mukosa VU dan menyebabkan blokade urehra adalah : a. Faktor asupan makanan (diet). Pakan yang kaya magnesium menyebabkan pH urine menjadi basa (alkalis). Kenaikan pH mempermudah pembentukan kristal mineral. b. Penurunan frekuensi urinasi. Hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya supan air, pakan yang kering, air yang terlalu hangat, terlalu dingin, menurunnya aktivitas fisik, hal ini dapat disebabkan karena kucing mengalami obesitas bahkan kandang yang kotor dapat menyebabkan kucing segan untuk urinasi (Duval 2002; Oaks Vet 2002) Gejala klinis awal merupakan hasil dari iritasi yang disebabkan oleh kristal dalam VU. Gejala klinis tersebut antara lain kesulitan urinasi (kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya), sering menjilat daerah genital, merejan saat buang air kecil (kadang disertai suara tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan FLUTD biasanya tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan yang mengalami obstruksi uretra komplit akan menunjukkan gejala muntah, kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).
Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi pembesaran dan rasa sakit VU. Jika diduga terjadi infeksi pada VU maka kultur urin dapat dilakukan. Kucing yang mengalami obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat enzim ginjal yang tinggi (blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin) dalam darah (Pinney 2009).
Terapi yang diberikan kepada pasien FUS adalah kateterisasi urin sehingga terjadi pengeluaran urin dan kristal dari vu. Penyuntikan cairan fisiologis intravena atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi) dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh. Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan relaksasi uretra diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak bedah diperlukan untuk menghilangkan sumbatan atau mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral (Duval 2002). Setelah dipasang kateter urin kucing Memo dirawat inap, selama rawat inap diberikan terapi antibiotik Amcilin dan infus Ringer Lactate. Terdapat tiga macam kateter urin yaitu yaitu flexible rubber feeding tube (gambar 2a), kateter open-ended polypropylene (gambar 2b), dan close-ended polypropylene (gambar 2c). Ukuran kateter yang biasa digunakan untuk kucing jantan adalah 3 1/2 Fr. Jenis kateter yang digunakan untuk pasien Memo adalah kateter close-ended polypropylene (2c) (College of Veterinary Medicine 2009).
yah seperti itulah ceritanya... dari tanda-tandanya juga sepertinya sama. jadi kasian membayangkannya waktu dia sakit.
dan sekarang mungkin cuma bisa berdoa buat Chuncu tersayangku. semoga dia gak nyesal hidup dengan diriku ini,.selama hidupnya mungkin dia banyak marahnya kali ya daripada senangnya. dan sebenarnya merasa masih kurang ngasih sesuatu buat dia... banyak banget malah. Mianhe Chuncuu...!!!
~Chuncu Aquonid~ 10 Februari 2010 - 1 April 2011. *kenapa mesti April Mop?!*
postingan kali ini pengen cerita tentang salah satu penyakit yang bisa menyerang kucing.
yah... berhubung kucing aku yang "paling cute,imut,gendut,dan lucu" itu #plaakk... narsis. abaikan!!!
yang bernama Chuncu sudah tiada di dunia ini,,*sedih,,huhu :'(.. * dia sakit seperti batu ginjal gitu sepertinya. pastinya juga kurang tau.. dokternya cuma bilang "gak bisa kencing... blur naik..keratinnya naik... dan sebagainya".
dengan artikel dibawah ini mungkin bisa memperjelas sedikit tentang penyakit yang menyapa kucing ku,,#menyapa (?).
let's check it now...
Penyakit saluran kencing bagian bawah pada kucing
Feline lower urinary tract disease (FLUTD) yang dikenal juga dengan feline urologic syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada kucing terutama kucing jantan. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika urinaria (VU) dan uretra kucing. Gangguan pada uretra terjadi disebabkan oleh struktur uretra kucing jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian yang menyempit sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke luar tubuh. Feline lower urinary tract disease (FLUTD) meliputi beberapa kondisi yang terjadi pada saluran urinaria kucing (Nash 1997). Sindrom yang terjadi pada kucing ini ditandai dengan pembentukan kristal (paling sering struvite) di dalam VU. Kristal tersebut kemudian akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada urin, kesulitan buang air kecil, serta beberapa kasus dapat menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar dari VU yang dapat menyebabkan kematian (Pinney 2009). Manifestasi penyakit yang disebabkan oleh akumulasi kristal mineral pada saluran urinaria antara lain, adalah: a. peradangan kandung kemih cystitis akibat iritasi dari kristal pada dinding VU, b. urolithiasis yaitu pembentukan batu VU, c. pembentukan sumbat pada uretra berupa pasir kristal mineral (blokade uretra), d. uremia yaitu akumulasi zat kimia yang beracun pada aliran darah ketika blokade pada uretra (Duval 2002). Pada beberapa keadaan urin yang tertahan dalam VU dapat berbalik mengalir ke ginjal yang menyebabkan kematian oleh gagal ginjal akut atau cystitis parah. Kematian terjadi karena toksin menyebar melalui aliran darah menyebabkan sepsis (Pinney 2009).
Kucing jantan dan betina sama-sama beresiko menderita FLUTD, namun kucing jantan beresiko lebih besar terhadap obstruksi yang mematikan karena uretra jantan lebih kecil dibandingkan betina dan memiliki bagian yang mengecil (gambar 1) sehingga penyumbatan lebih gampang terjadi (Pinney 2009).
Beberapa kausa dari terbentuknya kristal mineral yang dapat mengiritasi mukosa VU dan menyebabkan blokade urehra adalah : a. Faktor asupan makanan (diet). Pakan yang kaya magnesium menyebabkan pH urine menjadi basa (alkalis). Kenaikan pH mempermudah pembentukan kristal mineral. b. Penurunan frekuensi urinasi. Hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya supan air, pakan yang kering, air yang terlalu hangat, terlalu dingin, menurunnya aktivitas fisik, hal ini dapat disebabkan karena kucing mengalami obesitas bahkan kandang yang kotor dapat menyebabkan kucing segan untuk urinasi (Duval 2002; Oaks Vet 2002) Gejala klinis awal merupakan hasil dari iritasi yang disebabkan oleh kristal dalam VU. Gejala klinis tersebut antara lain kesulitan urinasi (kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya), sering menjilat daerah genital, merejan saat buang air kecil (kadang disertai suara tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan FLUTD biasanya tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan yang mengalami obstruksi uretra komplit akan menunjukkan gejala muntah, kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).
Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi pembesaran dan rasa sakit VU. Jika diduga terjadi infeksi pada VU maka kultur urin dapat dilakukan. Kucing yang mengalami obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat enzim ginjal yang tinggi (blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin) dalam darah (Pinney 2009).
Terapi yang diberikan kepada pasien FUS adalah kateterisasi urin sehingga terjadi pengeluaran urin dan kristal dari vu. Penyuntikan cairan fisiologis intravena atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi) dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh. Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan relaksasi uretra diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak bedah diperlukan untuk menghilangkan sumbatan atau mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral (Duval 2002). Setelah dipasang kateter urin kucing Memo dirawat inap, selama rawat inap diberikan terapi antibiotik Amcilin dan infus Ringer Lactate. Terdapat tiga macam kateter urin yaitu yaitu flexible rubber feeding tube (gambar 2a), kateter open-ended polypropylene (gambar 2b), dan close-ended polypropylene (gambar 2c). Ukuran kateter yang biasa digunakan untuk kucing jantan adalah 3 1/2 Fr. Jenis kateter yang digunakan untuk pasien Memo adalah kateter close-ended polypropylene (2c) (College of Veterinary Medicine 2009).
yah seperti itulah ceritanya... dari tanda-tandanya juga sepertinya sama. jadi kasian membayangkannya waktu dia sakit.
dan sekarang mungkin cuma bisa berdoa buat Chuncu tersayangku. semoga dia gak nyesal hidup dengan diriku ini,.selama hidupnya mungkin dia banyak marahnya kali ya daripada senangnya. dan sebenarnya merasa masih kurang ngasih sesuatu buat dia... banyak banget malah. Mianhe Chuncuu...!!!
~Chuncu Aquonid~ 10 Februari 2010 - 1 April 2011. *kenapa mesti April Mop?!*
Am I Alright??
hai..hai.. i'm back again.
this part.4 ... n i give pict 4 new cast...
let's start....
Raigawa Touko
“kalian sudah berkencan ya?”
“nanni mo nai?” tanyaku berkilah.
Jujur untuk pertanyaan kali ini aku tidak tahu harus menjawab apa. Baru mendengarnya saja sudah bisa membuatku mendadak linglung. Baru kali ini juga aku mulai merasa takut sama kakakku sendiri. Karena aku tahu sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakannya untuk 1 peristiwa yang tarjadi beberapa menit yang lalu. Itu semua tersimpan di ekspresi wajahnya sekarang.
“sudahlah. Ayo bilang saja pada kakakku mu ini, aku mengenalmu. Kau tidak bisa berbohong padaku”. Pandangannya menyusuri jalan yang padat di depan sana.
“tidak seperti yang kakak bayangkan. Mungkin karena tadi sisi berdirinya memang dekat dengan pintu mobilku.” Jawabku dengan ide yang entah dari mana asalnya. “jadi ya… memang seharusnya kan dia bersikap seperti itu. Kakak tenang saja lah.”
“begitu? Kau yakin itu alasannya? Mungkin kau bisa berpikir seperti itu, tapi berbeda dengan pikirannya. Kau mengerti kan maksudku?”
aku mengangkat bahuku, “aku tidak mengerti. Dan tidak mau mengerti.” Jawabku sambil nyengir.
“hah… kita lihat saja nanti perkembangannya!” kali ini suaranya terlampau kecil untuk bisa didengar.
“ngomong apa sih? Aku tidak mendengarnya.” Tanyaku sambil mengguncang lengannya yang
memegang stir mobil.
“tidak apa-apa. Lupakan.” Jawabnya tanpa melihatku. “So,, kemana kita pergi?”
“gak tau. terserah saja deh.” Ucapku malas. “tapi bagaimana kalau kita makan dulu. Daritadi sudah lapar. Ok..ok?” tanyaku dengan memelas.
“ya baiklah. Kakakmu ini sudah tahu kebiasaanmu, dari dulu. Selalu saja yang dipikirkan makan..makan..dan makan..” ejeknya sambil tertawa.
“memang seperti ini lah adikmu.. makan itu penting untuk masa pertumbuhanku sekarang. jadi jangan mengejek seperti itu.” Ucapku dengan sedikit kemarahan. “huuhh… Kalau nggak mau juga nggak apa-apa!!”
“hahaha… ya sudah mau makan dimana? ‘Steak World’ mau gak?”
“mau..mau..” ucapku bersemangat.
“hah… dasar kau ini.” Ucapnya sambil memukul pelan wajahku.
Inilah salah satu keuntungan kalau dia datang menjengukku. Makanku ditanggung selama dia berada disini. Bisa seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan. ‘lumayan kan?’ . Yang terpenting sekarang adalah semoga saja dia tidak menanyakan tentang masalah itu lagi sekarang, kalau perlu selamanya. Dan tidak akan ada hal-hal yang mencurigakan lagi yang terjadi dalam waktu dekat. Yah… semoga saja.
*****
waktu masih menunjukkan pukul 9 malam. Walaupun masih terlalu dini untuk tidur tapi sepertinya tidak berlaku bagiku. Lelah sekali rasanya setelah seharian pergi bersama salah satu orang terpenting dalam hidupku. Kakak tercinta tentunya. Sebenarnya Aku sendiri masih tidak tahu apa yang direncanakannya bepergian hari ini, karena dari semua pusat perbelanjaan yang kami datangi, tidak satupun dia membeli dan membawa barang belanjaan. Berbeda sekali dengan sebelum-sebelumnya, karena biasanya pasti ada saja barang-barang yang dia beli. Entah itu penting atau tidak.
Setelah dirasa cukup untuk hari ini, kami berdua bergegas untuk pulang. Akan tetapi sepertinya ada satu hal yang kami lupakan, dalam perjalan pulang barulah kakakku mengingat akan hal itu. Yaitu ‘Yukiwa’. Kami lupa kalau sebelumnya kami sudah menitipkannya di pet house untuk melakukan mandi mingguan.
Langsung lah mobil kami memutar arah kembali untuk menuju pet house yang sebenarnya sudah kami lewati daritadi. Bisa-bisanya kami melupakan kucing gendut itu. Sesampai disana waktu menunjukkan pukul 8.30 malam. Yukiwa terlihat yang paling gendut diantara semua kucing didalam sini. Dan dia sudah wangi tentunya. Sebelumnya dari luar kami juga sudah bisa melihatnya berada dikandangnya melihat sinis kearah kedatangan kami. Seperti ada suatu hal yang ingin ditanyakannya, ‘kenapa aku lama sekali dijemput?’
Tetapi ada satu hal yang agak disayangkan. Hal itu ialah bukan dr.Makoto yang menjaga malam ini. Ada sedikit perasaan kecewa yang menggantung. ’Apakah artinya ini..??’
Sekarang dikamar ini hanya aku yang terlelap dahulu. Sementara kakakku masih sibuk dengan menjawab panggilan telepon yang daritadi memanggilnya. Sepintas-pintas aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Yah… selain urusan kantor juga ada saling mengejek-mengejek dengan nama panggilan yang mereka buat sendiri. Aku masih bisa mendengarnya hingga akhirnya aku terlelap dan siap menjemput bunga tidur yang telah menungguku.
*****
Aku terbangun dalam kesendirian. Tidak ada satupun pemandangan jelas yang terlihat dimataku. Semuanya masih terasa kabur. Bahkan aku sendiri tidak melihat kakakku di tempat tidur.
“kemana dia pergi? Cepat sekali bangun.” Dengan malas aku berjalan membuka pintu kamar dan berharap menemukan sosoknya.
Tetapi tidak seorang pun yang kutemukan. Bahkan kandang hitam didepanku sudah terlihat kosong. Lalu Aku melihat ada secarik kertas di atas kandang itu.
‘Aku membawa Yukiwa pergi jalan-jalan. Udara pagi ini sepertinya bagus untuk berjalan-jalan’
Setelah membaca pesan tadi, aku kembali ke kamar. Berencana meneruskan niat tidurku yang tak tertahankan. Mungkin karena efek kemarin aku merasa sangat mengantuk. Dan untuk istirahat semalam saja masih terasa kurang untukku.
Baru juga hendak menutup mata, ada suara berisik yang mengganggu tidurku... L’arc ~ en ~ Ciel – My Heart Draws a Dream bergema dengan lantang di kamar ini. Aku bergegas mencari sumber suara yang mengusik tidurku. dan ternyata itu adalah panggilan dari telepon kakakku. ‘ternyata Yuko-neechan pergi tidak membawa handphonenya. Huuuhh… mengganggu saja.’. tanpa melihat siapa yang memanggil, aku langsung menjawab panggilan itu.
“moshi-moshi?” ucapku.
“yuko-chan ini dirimu?” suara diseberang menjawab.
“oh… bukan. Yuko-neechan sedang keluar. Ini dengan siapa? Ada pesan yang ingin disampaikan?” ucapaku masih dengan suara mengantuk.
“ini dengan temannya. Harada Makoto. Ini dengan Touko ya?”
Nande??? Apa aku tidak salah dengar. Kini aku mencoba kembali kedunia nyata. Menatap layar telepon yang tertera dengan jelas, panggilan ‘Harada Makoto’… Ohhh tidak!!!
“iya. Ada perlu apa ya?” aku tidak tahu harus menjawab apa.
“begini,, arsitek yang Yuko cari itu sudah bisa melakukan pertemuan hari ini. Apakah kira-kira Yuko bisa, Touko?”
“hmm… kira-kira jam berapa?”
“ya mungkin sekitar jam makan siang.”
“Sepertinya …” konsentrasi ku beralih ke suara yang ada diluar. “ah… ini Yuko-neechan sudah kembali, dok.” Aku segera memberikan telepon ini pada kakakku. Tanpa memberitahu siapa yang menelepon.
“siapa?” tanyanya sambil memasukkan Yukiwa kembali ke kandangnya.
“terima saja.” Ucapku langsung berlalu.
Aku mendengar kakakku menerima telepon itu, dan segera tahu siapa orang yang ada diseberang sana. Dari gaya bicara seperti sedang menerima panggilan bisnis saja. Ya memang sih.. ada bisnis di antara mereka berdua. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini bisnis arsitek itu. Padahal baru kemarin mereka membicarakannya.
“ya baiklah. Siang ini, di Green Bee Café.” Samar-samar aku mendengar percakapan mereka.
Green Bee Café? Aku belum pernah mendengar tempat itu.
“haik… arigatou gonzaimazu, makoto-kun.” Panggilan terputus.
Pintu kamar terbuka. Kini aku melihat dia masuk dan duduk disebelahku. Tentu saja aku sedang dalam posisi tidur.
“Touko,, nanti siang kau ikut ya?” pintanya.
“kemana?” tanyaku.
“ke Green Bee Café. Yah… sekalian makan siang. Kau pasti belum tahu tempatnya kan??”.
“memang belum tahu. Mau bertemu arsitek itu disana ya?” aku masih menutup mataku.
“ya begitu lah. Ikut ya?? Disana makanannya enak-enak loh. Pasti kau bakal senang deh. Secara hobimu kan makan,, hahaha!!”
Aku memukulnya dengan guling ditanganku, “ih… enak saja!! Tapi awas ya kalau nggak seperti yang diomongkan.”
“Oke, sip!! Ya sudah mandi sana, sebelumnya kita harus pergi berbelanja dulu. Kan semalam aku belum ada membeli apa-apa.” Kini dia beranjak membongkar tas bajunya.
Dasar kakak ini, kalau sudah disini kerjanya pasti belanja saja. Aku kan masih capek. Lagian nanti siang kan aku ada kuliah. Masa dia tidak tahu sih… pokoknya selesai atau tidak pertemuan mereka, dia harus mengantarku ke kampus. Tapi.. tapi.. ada satu hal yang tidak aku mengerti. Kenapa tadi aku merasa senang sewaktu berbicara dengan dokter itu ya? Dan sekarang juga, rasanya ingin cepat-cepat bertemu dokter itu lagi. Aku tidak peduli apa yang ada dipikiran kakakku nanti. Yang jelas, aku hanya ingin bertemu dengan dia, Harada Makoto.
*****
Disinilah kami sekarang, Green Bee Café. Tempatnya luas, dengan desain café yang lumayan unik. Disini kita banyak menemukan hal-hal yang berbau bee’s atau lebah. Ada lukisan lebah, patung lebah, hiasan gantung lebah, dan semuanya serba lebah. Tapi tentu saja lebah-lebah yang ada disini lucu-lucu dan imut-imut. Tidak seperti lebah yang mengerikan itu. yang bila mereka diusik, mereka akan menyerang balik pengganggunya.
Dari makanannya juga serba-serbi lebah. Tentu saja yang berbau madu. Ada Sirloin Steak Honey, Fried Burn Honey, Meat Ball Honey, dan menu Honey-Honey lainnya. Dari minumannya juga ada yang serba-serbi Honey, seperti Lime Honey Punch, Kiwi Honey Searly Temple, Juice Honey, Ice Cream Honey dan sebagainya yang kurasa memiliki nama yang aneh-aneh.
Dihadapan kami kini, sudah ada 2 orang yang telah menunggu dari tadi. Yaitu Dokter itu dan seorang arsitek yang tadi sudah dijanjikan, yang bernama Soujiro Kato. Mari kita cirikan seorang Soujiro Kato menurut pandangan seorang Raigawa Touko. Kalau untuk dokter itu tidak usah dideskripsikan. Karena menurut aku dia selalu keren menggunakan apapun.
Mari dimulai, pertama Dari berpakaiannya dia menggunakan kemeja biru dengan lengan tergulung 3/4. dan masih terlihat santai tapi rapi. Dan untuk bawahan, dia menggunakan jeans denim berwarna biru gelap dan sentuhan terakhir dia menggunakan sepatu pantofel santai berwarna hitam. ‘Hmm… pilihan style yang bagus.’
Untuk ukuran tinggi badan, ya… dia tidak setinggi Makoto. Mungkin hanya sekitar 170-an cm. memiliki kulit agak gelap untuk ukuran seorang cowok. Tatanan rambut dengan gaya spike pendek dan rambut berwarna hitam pekat. Dari keseluruhannya Bagus. Tapi kalau dibandingkan dengan Makoto, tentu saja tetap Makoto.
Dan dari sifat Soujiro Kato juga terlihat Ramah, baik, dan Bersahabat untuk kalangan seorang arsitek. terlebih dia pasti sering bertemu dengan banyak orang, pasti keramahan sangat dituntut dalam profesinya. Disini aku hanya sebagai pendengar dari 3 orang yang ada disini. Aku sama sekali tidak mengerti untuk masalah seperti ini. Apalagi untuk urusan desain rumah.
“jadi rumah seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan, Yuko?” Tanya Kato-san.
“aku juga tidak tahu. Sepertinya dari bahan yang kamu bawa belum ada desain yang menarik. Apa kamu masih punya contoh yang lainnya, kato?” Tanya kakakku yang masih sibuk melihat satu-persatu contoh rumah di hadapannya.
“tentu saja ada. Tapi tidak aku bawa disini. Semuanya ada dikantorku.”
“boleh aku melihat?” ucap kakakku penasaran.
“boleh. Sehabis ini kalau mau kamu bisa ketempatku.” Ajaknya sambil menyeruput Lime Honey Punch-nya.
“baiklah kalau begitu. Aku akan ikut.”
“sebelumnya akan ku bawa kamu ke perpustakaan kota untuk melihat koleksi-koleksi lainnya.” Ucap kato-san lagi.
“karena baru-baru ini aku melihat ada literature yang bagus untuk bisa direkomendasikan.”
Apa!! Habis ini mereka mau pergi lagi?? Bagaimana dengan aku. Aku harus kuliah siang ini juga..!!!
“kalian juga ikut kan?” Tanya kakak. Khususnya padaku.
Huumm… sepertinya dia lupa akan kuliahku.
“oneechan…” aku mendongakkan kepalaku ke telinganya. “kau lupa ya? Kau kan harus mengantar ku ke kampus siang ini. Aku ada kuliah.” Bisikku pelan.
Tanpa rasa bersalah dia berkata, “ayo lah… kau ikut saja. Kuliahmu libur saja dulu sehari ya??”pintanya yang tentu saja akan aku tolak.
Aku melihat dua orang didepan sedang memperhatikan kami. ‘Tak peduli lah.’
Aku mendengus kesal dengan menggelengkan kepala. Tanda tidak mau ku. Enak saja dia memintaku untuk libur. Memangnya dia yang membayarkan uang kuliahku. Pasti bukan kan. Lagian aku juga tidak tertarik untuk ikut ke dalam masalah pembuatan rumah. ‘Tinggal terima saja lah aku.’ Ucapku dalam hati. Kalau tadi liburnya untuk jalan-jalan, ya… pasti akan aku pertimbangkan.. hheee!!!
“jadi kau tidak bisa mengantarku?” tanyaku lagi memastikan.
“bukannya tidak bisa, tapi masalah ini harus selesai secepatnya, touko.”
Ya sudah mau gimana lagi…
“baiklah..baiklah.. aku pergi sendiri saja.”jawabku langsung.
Tiba-tiba ada suara yang ikut dalam pembicaraan aku dan kakak.
“Touko, kau bisa pergi denganku.” ucap makoto menggegerkanku.
Hah… apa maksudnya dia berbicara seperti itu? Jadi dia tahu maksud pembicaraan kami tadi? Jadi dia sudah menguping pembicaraan kami. Yah… meskipun pembicaraan kami tadi agak ribut, tapi sepertinya tidak bisa untuk didengar oleh siapapun.
“apa maksudmu, makoto?” Tanya kakakku langsung setelah mendengar makoto berucap seperti tadi.
“aku tahu siang ini Touko ada kuliah, jadi biar aku saja yang mengantar. Karena aku siang ini juga ada jam mengajar di kampus Touko.” Ucapnya langsung tanpa celah.
“jadi kau dosennya Touko?” kakakku masih tidak mengerti.
“bukan Oneechan,” aku menyeletuk lemah.
“jadi apa?”
“aku memang mengajar, tapi bka ditempat Touko. Tapi di fakultas lain.” Sepertinya kali ini kakakku mengerti.
“oh..i see. Kalau begitu kau mengajar di fakultas kedokteran hewan pastinya.” Tebak kakakku percaya diri.
“kalau begitu kau mengenal Ryoga?Hanazaki Ryoga? Karena setahu ku anak itu ada dijurusan itu.”
“ya dia memang anak didikku.” Ucap makoto yang terkesan agak dingin.
Yah… ketahuan deh sudah pekerjaan Makoto yang lain. Bisa-bisa ada yang tambah curiga nih…
“jadi kau mengajar?” Tanya kato-san takjub. “kau tidak memberitahu ku.” Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“baru beberapa bulan ini. Aku berencana memberitahumu, tapi kau selalu sibuk, kato-kun.”
Apa-apa an ini malah membahas masalah ngajar-mengajar. Bagaimana denganku yang sebentar lagi masuk kuliah. Mampus..!!! aku juga belum menyetujui masalah tadi kan…
“baiklah aku pergi sekarang.” Ucapku langsung tapa berbasa-basi.
“hey… wait!!” kakak menarikku kembali. “makoto, aku titip Touko ya. Maaf merepotkanmu.”
“ya tidak apa-apa,Yuko. Lebih baik kalian pergi saja berdua, biar lebih cepat dapat yang di inginkan.”
Makoto bergegas bangkit, “aku pergi dulu, Kato, Yuko. Maaf tidak bisa menemani kalian sampai selesai.” Makoto pamit kepada mereka sambil membungkuk.
“aku juga pamit.” Aku membungkuk kepada mereka. “oh iya Kato-san, titip kakakku ya. Dia agak menyusahkan kalau apa yang di maunya belum terpenuhi.” Ucapku sambil nyengir.
“benarkah?” lalu kato-san tertawa renyah. “baiklah akan kuingat itu.”
“apa-apa’an ini kalian. Ayo sana cepat pergi.” Ucap kakakku yang sedikit ngambek dan juga sedikit malu.
Makoto pergi duluan dihadapanku. Sedangkan Aku masih memandang kearah mereka berdua dan melambaikan tangan pada mereka. setelah beberapa langkah meninggalkan mereka, aku melihat Makoto berbalik menghadapku. Barulah pada saat aku sejajar dengan dia, dia berjalan tepat disebelahku. ‘Dia menungguku ternyata’. Tidak ada kata-kata yang terlontar antara kami berdua, begitupun pada saat di dalam mobil. Hanya sunyi yang menemani. Dan alunan music radio yang tidak aku ketahui lagu apa yang sedang diputar.
Anehnya pada saat perjalanan menuju mobil tadi, sepertinya ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku. Tapi selama aku menunggu tidak ada juga satu katapun yang terlontar dari mulutnya. Kecewa? ada sih sedikit. Sedangkan aku terlalu malu untuk memulai pembicaraan diantara kami. Belum lagi dengan gemuruh hati yang kurasakan hingga sekarang.Tidak henti-hentinya jantung ini berhenti berdebar. Kenapa hanya akhir-akhir ini aku merasakannya. Sebelumnya tidak pernah, bahkan saat didekat dia sekalipun.
Lebih aneh lagi, kenapa perjalanan ini terasa sangat jauh… Tidak sampai-sampai menurutku. Padahal sudah cukup lama, dan rute yang dilewati juga sudah sering aku lewati. Tetapi tidak selama dan sejauh ini. ‘Ada apa ini sebenarnya???’
*****
Hanazaki Ryoga
Aku menapaki jalan menuju kelas ku hari ini. Selama perjalanan, ku mencoba mencari sosok yang belum ada kulihat hari ini. Tidak melihatnya 1 hari saja sudah membuatku linglung seperti ini. Bahkan di markas tadi. Aku hampir saja di omel lagi sama atasan ku, Mr. Matsuyama Kenichi. Itu karena ada 1 kaos yang salah aku print. Beruntungnya saja itu pesanan temen ku sendiri, jadi ya dia pasti mengerti dengan kesalahan itu. . ‘aku harap’.
Lanjut masalah seseorang yang tidak aku lihat hari ini.
Ya… dari tadi pagi aku sudah tidak melihatnya di rumah. Bahkan dari kemarin siang. Semenjak kakaknya datang, mereka berdua selalu saja berjalan tanpa mengenal waktu dan lelah. Pulangnya saja aku tidak tahu kapan. Mungkin saat itu aku sudah berada di alam mimpi, bersama dengan ‘dia’ yang ku impikan malam itu. Lalu esok paginya, aku sudah tidak menemukan sosoknya lagi. karena aku tahu dia pasti sudah jalan lagi bersama kakak tercintanya itu.
“ouughh… kenapa tiba-tiba jadi keingat dia terus sih!! pake acara kangen segala lagi.” omelku sambil menendang kaleng kosong yang tergeletak pasrah dihadapanku.
Pandanganku mengikuti arah kaleng yang kutendang kearah samping. Hingga kaleng itu kembali tergeletak pasrah menunggu tendangan yang berikutnya. Tak lama setelah itu, terlihat dari arah berlawanan sebuah mobil Honda Sport hitam memasuki area parkir mobil kampus.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari mobil itu, tapi ada sesuatu yang istimewa sesaat setelah pengemudi dan penumpang mobil itu turun.
Jgggeeeerrrrrr…………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Serasa disambar petir di siang bolong, serasa bumi berhenti berputar, dan serasa hati ini habis menguras berton-ton obat sehingga sudah tidak sanggup untuk melaksanakan tugasnya lagi. Aku terkulai lemas melihat pemandangan yang ada dihadapanku sekarang…
“Touko…” ucapku lirih.
To be continued………
thank you...^^
like n Comment please...
this part.4 ... n i give pict 4 new cast...
let's start....
Soujiro Kato as Arsitec.
Raigawa Touko
“kalian sudah berkencan ya?”
“nanni mo nai?” tanyaku berkilah.
Jujur untuk pertanyaan kali ini aku tidak tahu harus menjawab apa. Baru mendengarnya saja sudah bisa membuatku mendadak linglung. Baru kali ini juga aku mulai merasa takut sama kakakku sendiri. Karena aku tahu sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakannya untuk 1 peristiwa yang tarjadi beberapa menit yang lalu. Itu semua tersimpan di ekspresi wajahnya sekarang.
“sudahlah. Ayo bilang saja pada kakakku mu ini, aku mengenalmu. Kau tidak bisa berbohong padaku”. Pandangannya menyusuri jalan yang padat di depan sana.
“tidak seperti yang kakak bayangkan. Mungkin karena tadi sisi berdirinya memang dekat dengan pintu mobilku.” Jawabku dengan ide yang entah dari mana asalnya. “jadi ya… memang seharusnya kan dia bersikap seperti itu. Kakak tenang saja lah.”
“begitu? Kau yakin itu alasannya? Mungkin kau bisa berpikir seperti itu, tapi berbeda dengan pikirannya. Kau mengerti kan maksudku?”
aku mengangkat bahuku, “aku tidak mengerti. Dan tidak mau mengerti.” Jawabku sambil nyengir.
“hah… kita lihat saja nanti perkembangannya!” kali ini suaranya terlampau kecil untuk bisa didengar.
“ngomong apa sih? Aku tidak mendengarnya.” Tanyaku sambil mengguncang lengannya yang
memegang stir mobil.
“tidak apa-apa. Lupakan.” Jawabnya tanpa melihatku. “So,, kemana kita pergi?”
“gak tau. terserah saja deh.” Ucapku malas. “tapi bagaimana kalau kita makan dulu. Daritadi sudah lapar. Ok..ok?” tanyaku dengan memelas.
“ya baiklah. Kakakmu ini sudah tahu kebiasaanmu, dari dulu. Selalu saja yang dipikirkan makan..makan..dan makan..” ejeknya sambil tertawa.
“memang seperti ini lah adikmu.. makan itu penting untuk masa pertumbuhanku sekarang. jadi jangan mengejek seperti itu.” Ucapku dengan sedikit kemarahan. “huuhh… Kalau nggak mau juga nggak apa-apa!!”
“hahaha… ya sudah mau makan dimana? ‘Steak World’ mau gak?”
“mau..mau..” ucapku bersemangat.
“hah… dasar kau ini.” Ucapnya sambil memukul pelan wajahku.
Inilah salah satu keuntungan kalau dia datang menjengukku. Makanku ditanggung selama dia berada disini. Bisa seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan. ‘lumayan kan?’ . Yang terpenting sekarang adalah semoga saja dia tidak menanyakan tentang masalah itu lagi sekarang, kalau perlu selamanya. Dan tidak akan ada hal-hal yang mencurigakan lagi yang terjadi dalam waktu dekat. Yah… semoga saja.
*****
waktu masih menunjukkan pukul 9 malam. Walaupun masih terlalu dini untuk tidur tapi sepertinya tidak berlaku bagiku. Lelah sekali rasanya setelah seharian pergi bersama salah satu orang terpenting dalam hidupku. Kakak tercinta tentunya. Sebenarnya Aku sendiri masih tidak tahu apa yang direncanakannya bepergian hari ini, karena dari semua pusat perbelanjaan yang kami datangi, tidak satupun dia membeli dan membawa barang belanjaan. Berbeda sekali dengan sebelum-sebelumnya, karena biasanya pasti ada saja barang-barang yang dia beli. Entah itu penting atau tidak.
Setelah dirasa cukup untuk hari ini, kami berdua bergegas untuk pulang. Akan tetapi sepertinya ada satu hal yang kami lupakan, dalam perjalan pulang barulah kakakku mengingat akan hal itu. Yaitu ‘Yukiwa’. Kami lupa kalau sebelumnya kami sudah menitipkannya di pet house untuk melakukan mandi mingguan.
Langsung lah mobil kami memutar arah kembali untuk menuju pet house yang sebenarnya sudah kami lewati daritadi. Bisa-bisanya kami melupakan kucing gendut itu. Sesampai disana waktu menunjukkan pukul 8.30 malam. Yukiwa terlihat yang paling gendut diantara semua kucing didalam sini. Dan dia sudah wangi tentunya. Sebelumnya dari luar kami juga sudah bisa melihatnya berada dikandangnya melihat sinis kearah kedatangan kami. Seperti ada suatu hal yang ingin ditanyakannya, ‘kenapa aku lama sekali dijemput?’
Tetapi ada satu hal yang agak disayangkan. Hal itu ialah bukan dr.Makoto yang menjaga malam ini. Ada sedikit perasaan kecewa yang menggantung. ’Apakah artinya ini..??’
Sekarang dikamar ini hanya aku yang terlelap dahulu. Sementara kakakku masih sibuk dengan menjawab panggilan telepon yang daritadi memanggilnya. Sepintas-pintas aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Yah… selain urusan kantor juga ada saling mengejek-mengejek dengan nama panggilan yang mereka buat sendiri. Aku masih bisa mendengarnya hingga akhirnya aku terlelap dan siap menjemput bunga tidur yang telah menungguku.
*****
Aku terbangun dalam kesendirian. Tidak ada satupun pemandangan jelas yang terlihat dimataku. Semuanya masih terasa kabur. Bahkan aku sendiri tidak melihat kakakku di tempat tidur.
“kemana dia pergi? Cepat sekali bangun.” Dengan malas aku berjalan membuka pintu kamar dan berharap menemukan sosoknya.
Tetapi tidak seorang pun yang kutemukan. Bahkan kandang hitam didepanku sudah terlihat kosong. Lalu Aku melihat ada secarik kertas di atas kandang itu.
‘Aku membawa Yukiwa pergi jalan-jalan. Udara pagi ini sepertinya bagus untuk berjalan-jalan’
Setelah membaca pesan tadi, aku kembali ke kamar. Berencana meneruskan niat tidurku yang tak tertahankan. Mungkin karena efek kemarin aku merasa sangat mengantuk. Dan untuk istirahat semalam saja masih terasa kurang untukku.
Baru juga hendak menutup mata, ada suara berisik yang mengganggu tidurku... L’arc ~ en ~ Ciel – My Heart Draws a Dream bergema dengan lantang di kamar ini. Aku bergegas mencari sumber suara yang mengusik tidurku. dan ternyata itu adalah panggilan dari telepon kakakku. ‘ternyata Yuko-neechan pergi tidak membawa handphonenya. Huuuhh… mengganggu saja.’. tanpa melihat siapa yang memanggil, aku langsung menjawab panggilan itu.
“moshi-moshi?” ucapku.
“yuko-chan ini dirimu?” suara diseberang menjawab.
“oh… bukan. Yuko-neechan sedang keluar. Ini dengan siapa? Ada pesan yang ingin disampaikan?” ucapaku masih dengan suara mengantuk.
“ini dengan temannya. Harada Makoto. Ini dengan Touko ya?”
Nande??? Apa aku tidak salah dengar. Kini aku mencoba kembali kedunia nyata. Menatap layar telepon yang tertera dengan jelas, panggilan ‘Harada Makoto’… Ohhh tidak!!!
“iya. Ada perlu apa ya?” aku tidak tahu harus menjawab apa.
“begini,, arsitek yang Yuko cari itu sudah bisa melakukan pertemuan hari ini. Apakah kira-kira Yuko bisa, Touko?”
“hmm… kira-kira jam berapa?”
“ya mungkin sekitar jam makan siang.”
“Sepertinya …” konsentrasi ku beralih ke suara yang ada diluar. “ah… ini Yuko-neechan sudah kembali, dok.” Aku segera memberikan telepon ini pada kakakku. Tanpa memberitahu siapa yang menelepon.
“siapa?” tanyanya sambil memasukkan Yukiwa kembali ke kandangnya.
“terima saja.” Ucapku langsung berlalu.
Aku mendengar kakakku menerima telepon itu, dan segera tahu siapa orang yang ada diseberang sana. Dari gaya bicara seperti sedang menerima panggilan bisnis saja. Ya memang sih.. ada bisnis di antara mereka berdua. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini bisnis arsitek itu. Padahal baru kemarin mereka membicarakannya.
“ya baiklah. Siang ini, di Green Bee Café.” Samar-samar aku mendengar percakapan mereka.
Green Bee Café? Aku belum pernah mendengar tempat itu.
“haik… arigatou gonzaimazu, makoto-kun.” Panggilan terputus.
Pintu kamar terbuka. Kini aku melihat dia masuk dan duduk disebelahku. Tentu saja aku sedang dalam posisi tidur.
“Touko,, nanti siang kau ikut ya?” pintanya.
“kemana?” tanyaku.
“ke Green Bee Café. Yah… sekalian makan siang. Kau pasti belum tahu tempatnya kan??”.
“memang belum tahu. Mau bertemu arsitek itu disana ya?” aku masih menutup mataku.
“ya begitu lah. Ikut ya?? Disana makanannya enak-enak loh. Pasti kau bakal senang deh. Secara hobimu kan makan,, hahaha!!”
Aku memukulnya dengan guling ditanganku, “ih… enak saja!! Tapi awas ya kalau nggak seperti yang diomongkan.”
“Oke, sip!! Ya sudah mandi sana, sebelumnya kita harus pergi berbelanja dulu. Kan semalam aku belum ada membeli apa-apa.” Kini dia beranjak membongkar tas bajunya.
Dasar kakak ini, kalau sudah disini kerjanya pasti belanja saja. Aku kan masih capek. Lagian nanti siang kan aku ada kuliah. Masa dia tidak tahu sih… pokoknya selesai atau tidak pertemuan mereka, dia harus mengantarku ke kampus. Tapi.. tapi.. ada satu hal yang tidak aku mengerti. Kenapa tadi aku merasa senang sewaktu berbicara dengan dokter itu ya? Dan sekarang juga, rasanya ingin cepat-cepat bertemu dokter itu lagi. Aku tidak peduli apa yang ada dipikiran kakakku nanti. Yang jelas, aku hanya ingin bertemu dengan dia, Harada Makoto.
*****
Disinilah kami sekarang, Green Bee Café. Tempatnya luas, dengan desain café yang lumayan unik. Disini kita banyak menemukan hal-hal yang berbau bee’s atau lebah. Ada lukisan lebah, patung lebah, hiasan gantung lebah, dan semuanya serba lebah. Tapi tentu saja lebah-lebah yang ada disini lucu-lucu dan imut-imut. Tidak seperti lebah yang mengerikan itu. yang bila mereka diusik, mereka akan menyerang balik pengganggunya.
Dari makanannya juga serba-serbi lebah. Tentu saja yang berbau madu. Ada Sirloin Steak Honey, Fried Burn Honey, Meat Ball Honey, dan menu Honey-Honey lainnya. Dari minumannya juga ada yang serba-serbi Honey, seperti Lime Honey Punch, Kiwi Honey Searly Temple, Juice Honey, Ice Cream Honey dan sebagainya yang kurasa memiliki nama yang aneh-aneh.
Dihadapan kami kini, sudah ada 2 orang yang telah menunggu dari tadi. Yaitu Dokter itu dan seorang arsitek yang tadi sudah dijanjikan, yang bernama Soujiro Kato. Mari kita cirikan seorang Soujiro Kato menurut pandangan seorang Raigawa Touko. Kalau untuk dokter itu tidak usah dideskripsikan. Karena menurut aku dia selalu keren menggunakan apapun.
Mari dimulai, pertama Dari berpakaiannya dia menggunakan kemeja biru dengan lengan tergulung 3/4. dan masih terlihat santai tapi rapi. Dan untuk bawahan, dia menggunakan jeans denim berwarna biru gelap dan sentuhan terakhir dia menggunakan sepatu pantofel santai berwarna hitam. ‘Hmm… pilihan style yang bagus.’
Untuk ukuran tinggi badan, ya… dia tidak setinggi Makoto. Mungkin hanya sekitar 170-an cm. memiliki kulit agak gelap untuk ukuran seorang cowok. Tatanan rambut dengan gaya spike pendek dan rambut berwarna hitam pekat. Dari keseluruhannya Bagus. Tapi kalau dibandingkan dengan Makoto, tentu saja tetap Makoto.
Dan dari sifat Soujiro Kato juga terlihat Ramah, baik, dan Bersahabat untuk kalangan seorang arsitek. terlebih dia pasti sering bertemu dengan banyak orang, pasti keramahan sangat dituntut dalam profesinya. Disini aku hanya sebagai pendengar dari 3 orang yang ada disini. Aku sama sekali tidak mengerti untuk masalah seperti ini. Apalagi untuk urusan desain rumah.
“jadi rumah seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan, Yuko?” Tanya Kato-san.
“aku juga tidak tahu. Sepertinya dari bahan yang kamu bawa belum ada desain yang menarik. Apa kamu masih punya contoh yang lainnya, kato?” Tanya kakakku yang masih sibuk melihat satu-persatu contoh rumah di hadapannya.
“tentu saja ada. Tapi tidak aku bawa disini. Semuanya ada dikantorku.”
“boleh aku melihat?” ucap kakakku penasaran.
“boleh. Sehabis ini kalau mau kamu bisa ketempatku.” Ajaknya sambil menyeruput Lime Honey Punch-nya.
“baiklah kalau begitu. Aku akan ikut.”
“sebelumnya akan ku bawa kamu ke perpustakaan kota untuk melihat koleksi-koleksi lainnya.” Ucap kato-san lagi.
“karena baru-baru ini aku melihat ada literature yang bagus untuk bisa direkomendasikan.”
Apa!! Habis ini mereka mau pergi lagi?? Bagaimana dengan aku. Aku harus kuliah siang ini juga..!!!
“kalian juga ikut kan?” Tanya kakak. Khususnya padaku.
Huumm… sepertinya dia lupa akan kuliahku.
“oneechan…” aku mendongakkan kepalaku ke telinganya. “kau lupa ya? Kau kan harus mengantar ku ke kampus siang ini. Aku ada kuliah.” Bisikku pelan.
Tanpa rasa bersalah dia berkata, “ayo lah… kau ikut saja. Kuliahmu libur saja dulu sehari ya??”pintanya yang tentu saja akan aku tolak.
Aku melihat dua orang didepan sedang memperhatikan kami. ‘Tak peduli lah.’
Aku mendengus kesal dengan menggelengkan kepala. Tanda tidak mau ku. Enak saja dia memintaku untuk libur. Memangnya dia yang membayarkan uang kuliahku. Pasti bukan kan. Lagian aku juga tidak tertarik untuk ikut ke dalam masalah pembuatan rumah. ‘Tinggal terima saja lah aku.’ Ucapku dalam hati. Kalau tadi liburnya untuk jalan-jalan, ya… pasti akan aku pertimbangkan.. hheee!!!
“jadi kau tidak bisa mengantarku?” tanyaku lagi memastikan.
“bukannya tidak bisa, tapi masalah ini harus selesai secepatnya, touko.”
Ya sudah mau gimana lagi…
“baiklah..baiklah.. aku pergi sendiri saja.”jawabku langsung.
Tiba-tiba ada suara yang ikut dalam pembicaraan aku dan kakak.
“Touko, kau bisa pergi denganku.” ucap makoto menggegerkanku.
Hah… apa maksudnya dia berbicara seperti itu? Jadi dia tahu maksud pembicaraan kami tadi? Jadi dia sudah menguping pembicaraan kami. Yah… meskipun pembicaraan kami tadi agak ribut, tapi sepertinya tidak bisa untuk didengar oleh siapapun.
“apa maksudmu, makoto?” Tanya kakakku langsung setelah mendengar makoto berucap seperti tadi.
“aku tahu siang ini Touko ada kuliah, jadi biar aku saja yang mengantar. Karena aku siang ini juga ada jam mengajar di kampus Touko.” Ucapnya langsung tanpa celah.
“jadi kau dosennya Touko?” kakakku masih tidak mengerti.
“bukan Oneechan,” aku menyeletuk lemah.
“jadi apa?”
“aku memang mengajar, tapi bka ditempat Touko. Tapi di fakultas lain.” Sepertinya kali ini kakakku mengerti.
“oh..i see. Kalau begitu kau mengajar di fakultas kedokteran hewan pastinya.” Tebak kakakku percaya diri.
“kalau begitu kau mengenal Ryoga?Hanazaki Ryoga? Karena setahu ku anak itu ada dijurusan itu.”
“ya dia memang anak didikku.” Ucap makoto yang terkesan agak dingin.
Yah… ketahuan deh sudah pekerjaan Makoto yang lain. Bisa-bisa ada yang tambah curiga nih…
“jadi kau mengajar?” Tanya kato-san takjub. “kau tidak memberitahu ku.” Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“baru beberapa bulan ini. Aku berencana memberitahumu, tapi kau selalu sibuk, kato-kun.”
Apa-apa an ini malah membahas masalah ngajar-mengajar. Bagaimana denganku yang sebentar lagi masuk kuliah. Mampus..!!! aku juga belum menyetujui masalah tadi kan…
“baiklah aku pergi sekarang.” Ucapku langsung tapa berbasa-basi.
“hey… wait!!” kakak menarikku kembali. “makoto, aku titip Touko ya. Maaf merepotkanmu.”
“ya tidak apa-apa,Yuko. Lebih baik kalian pergi saja berdua, biar lebih cepat dapat yang di inginkan.”
Makoto bergegas bangkit, “aku pergi dulu, Kato, Yuko. Maaf tidak bisa menemani kalian sampai selesai.” Makoto pamit kepada mereka sambil membungkuk.
“aku juga pamit.” Aku membungkuk kepada mereka. “oh iya Kato-san, titip kakakku ya. Dia agak menyusahkan kalau apa yang di maunya belum terpenuhi.” Ucapku sambil nyengir.
“benarkah?” lalu kato-san tertawa renyah. “baiklah akan kuingat itu.”
“apa-apa’an ini kalian. Ayo sana cepat pergi.” Ucap kakakku yang sedikit ngambek dan juga sedikit malu.
Makoto pergi duluan dihadapanku. Sedangkan Aku masih memandang kearah mereka berdua dan melambaikan tangan pada mereka. setelah beberapa langkah meninggalkan mereka, aku melihat Makoto berbalik menghadapku. Barulah pada saat aku sejajar dengan dia, dia berjalan tepat disebelahku. ‘Dia menungguku ternyata’. Tidak ada kata-kata yang terlontar antara kami berdua, begitupun pada saat di dalam mobil. Hanya sunyi yang menemani. Dan alunan music radio yang tidak aku ketahui lagu apa yang sedang diputar.
Anehnya pada saat perjalanan menuju mobil tadi, sepertinya ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku. Tapi selama aku menunggu tidak ada juga satu katapun yang terlontar dari mulutnya. Kecewa? ada sih sedikit. Sedangkan aku terlalu malu untuk memulai pembicaraan diantara kami. Belum lagi dengan gemuruh hati yang kurasakan hingga sekarang.Tidak henti-hentinya jantung ini berhenti berdebar. Kenapa hanya akhir-akhir ini aku merasakannya. Sebelumnya tidak pernah, bahkan saat didekat dia sekalipun.
Lebih aneh lagi, kenapa perjalanan ini terasa sangat jauh… Tidak sampai-sampai menurutku. Padahal sudah cukup lama, dan rute yang dilewati juga sudah sering aku lewati. Tetapi tidak selama dan sejauh ini. ‘Ada apa ini sebenarnya???’
*****
Hanazaki Ryoga
Aku menapaki jalan menuju kelas ku hari ini. Selama perjalanan, ku mencoba mencari sosok yang belum ada kulihat hari ini. Tidak melihatnya 1 hari saja sudah membuatku linglung seperti ini. Bahkan di markas tadi. Aku hampir saja di omel lagi sama atasan ku, Mr. Matsuyama Kenichi. Itu karena ada 1 kaos yang salah aku print. Beruntungnya saja itu pesanan temen ku sendiri, jadi ya dia pasti mengerti dengan kesalahan itu. . ‘aku harap’.
Lanjut masalah seseorang yang tidak aku lihat hari ini.
Ya… dari tadi pagi aku sudah tidak melihatnya di rumah. Bahkan dari kemarin siang. Semenjak kakaknya datang, mereka berdua selalu saja berjalan tanpa mengenal waktu dan lelah. Pulangnya saja aku tidak tahu kapan. Mungkin saat itu aku sudah berada di alam mimpi, bersama dengan ‘dia’ yang ku impikan malam itu. Lalu esok paginya, aku sudah tidak menemukan sosoknya lagi. karena aku tahu dia pasti sudah jalan lagi bersama kakak tercintanya itu.
“ouughh… kenapa tiba-tiba jadi keingat dia terus sih!! pake acara kangen segala lagi.” omelku sambil menendang kaleng kosong yang tergeletak pasrah dihadapanku.
Pandanganku mengikuti arah kaleng yang kutendang kearah samping. Hingga kaleng itu kembali tergeletak pasrah menunggu tendangan yang berikutnya. Tak lama setelah itu, terlihat dari arah berlawanan sebuah mobil Honda Sport hitam memasuki area parkir mobil kampus.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari mobil itu, tapi ada sesuatu yang istimewa sesaat setelah pengemudi dan penumpang mobil itu turun.
Jgggeeeerrrrrr…………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Serasa disambar petir di siang bolong, serasa bumi berhenti berputar, dan serasa hati ini habis menguras berton-ton obat sehingga sudah tidak sanggup untuk melaksanakan tugasnya lagi. Aku terkulai lemas melihat pemandangan yang ada dihadapanku sekarang…
“Touko…” ucapku lirih.
To be continued………
thank you...^^
like n Comment please...
Oh God!!!!She’s Coming (part 3)
hai,, i'm back. this part 3 from part 2 'am i jeolous?'
New Cast :
Raigawa Miyayuko as Touko’s Sister
“Welcome for new cast,,chukae!!!”
This I make mini dictionary about this story..
- iie : tidak
- Haik : iya
- Sensei : guru
- Nande? : kenapa?
- Gomen / Gomenasai : maaf
- Suuuggee!!! : hebat / keren
- Arigatou Gonzaimazu : terima kasih banyak
- Nanni? : apa?
Let’s begin!!!
Hanazaki Ryoga
Kuliah hari ini baru saja berakhir, dan tak terbayangkan sebelumnya bahwa yang menjadi dosen untuk hari ini adalah orang yang baru berkenalan denganku siang tadi. Ya dia, Harada Makoto. Tentu saja ini adalah pertama kalinya dia mengajar di tempatku, sama seperti yang dia bilang pada Touko. Tak terpikir sebelumnya oleh ku Harada Makoto menjadi salah satu pengajar di fakultas ku. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku di kelas tadi, seperti iya dan seperti tidak. Tapi aku juga tidak peduli sepenuhnya pada dia.
Dan seperti biasa, hari ini aku dan Touko memiliki jadwal yang sama. Tapi tentu saja aku berbeda kelas, jurusan, dan tahun angkatan dengannya. Touko berbeda 2 angkatan dibawahku, dan dia adalah Mahasiswi dari fakultas Pharmacy. Sedangkan aku Mahasiswa dari fakultas Kedokteran Hewan
“huufftt… pantas saja dai mengajar ditempatku. Dia kan dokter hewannya yukiwa. Kenapa tak terpikir olehku!!” pikirku sambil bersandar pada lemari lokerku.
Seharusnya Touko juga sudah keluar pada jam-jam segini. Tapi kenapa dia tidak terlihat dari tadi. ‘sepertinya ada jam tambahan’, pikirku. Aku pun berinisiatif untuk menuju kelasnya, untuk memastikan keadaan sebenarnya.
Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tiba juga di dekat kelasnya Touko. Aku sengaja tidak menunggunya langsung didepan kelasnya, karena dengan keadaan seperti ini aku tidak terlihat seperti menunggu seseorang. Tapi hanya terlihat sedang duduk santai saja di salah satu bangku kampus. Selain itu juga, karena aku merasa asing bila berada di daerah fakultas lain. Walaupun ini satu kampus yang sama tapi tetap saja terlihat asing di sekelilingku.
Tak lama, dari kejauhan terlihat Touko keluar dari kelasnya berjalan menuju kearahku. Entah dia melihatku atau tidak, tapi sepertinya tidak. Dia melewatiku saja, tanpa menoleh kemana-mana. Perasaan kesal kembali muncul sekarang.
“hei,!” aku memanggilnya.
Dia tetap tidak menoleh. Rasa kesalku bertambah. ‘sengaja tidak mendengar sepertinya’.
“Touko,,!!”
Dia mencari sumber suara yang ditangkap oleh indera pendengarannya, tepat menoleh ke arahku.
“oh.. ternyata kau yang memanggil”. Tanpa rasa bersalah dia menjawabnya. “Sedang apa disini? Menungguku ya?”
godanya, tanpa berjalan ke arahku.
“kau sengaja tidak mendengarku memanggilmu tadi?”
“benarkah kau memanggil? sungguh aku tidak mendengarnya. Gomen…” ucapnya.
‘Bagus…dia sudah meminta maaf’. Permasalahan selesai.
Aku berjalan kearahnya, “kenapa kau lama sekali sih? Aku sudah menunggu dari tadi”.
“untuk apa kau menungguku. Tidak seperti biasanya. Biasanya juga kau pulang sendiri kan? Aku juga bisa pulang sendiri. Aneh sekali kau hari ini.” dia mengatakan tidak melihatku, tapi seperti mengingat tentang kebiasaanku yang seperti dia kata kan barusan.
Aku tidak mau dia mengingat yang jelek-jelek lagi tentangku.
“sudahlah, tidak usah banyak tanya. Kita pu……”
Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, ada suara yang tidak ingin kudengar untuk saat ini.
“Touko-chan!!” sapa Harada Makoto, yang entah sejak kapan dia sudah menuruni tangga didekat kami.
‘huuuhh…. Mau apa sih dia. mengganggu saja’ jeritku dalam hati. Kalau saja ini bukan tempat umum, ingin saja rasanya aku mengusirnya pergi dari sini. Secepatnya enyah dari hadapanku, dan Touko.
Setelah mendekat, barulah dia menyapaku. ‘aku tidak perlu sapaan mu, bapak dosen!!!’ ingin saja aku berkata seperti itu padanya sekarang. Tapi hal itu tentu saja tidak sopan.
“apa yang kalian bedua lakukan disini?” tanyanya pada kami.
“bukan u… Ouuuggh!!!” Touko menginjak kakiku.
Dia melirikku sesaat, tanda untuk tidak melanjutkan kata-kataku. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin kukatakan tadi.
“kami… kami hanya mengobrol biasa, sensei!!”
“oh, begitu ya”.
Aku membuang muka.
“haik sensei. Ngomong-ngomong ada perlu apa, sensei kemari?” Tanya Touko.
Dia menghadap Touko.
“Touko-chan, sehabis ini kau sibuk tidak?”
“iie… nande?”
Dia melirikku sesaat sebelum menjawab, entah apa maksudnya, “aku ingin mengajak kalian pulang bersamaku. Bagaimana?”
Ahh… aku mengerti. ternyata itu alasannya ia melirikku tadi. Kalau saja aku tidak ada disini sekarang pastinya dia sudah membawa pergi Touko. Dan tanpa perlu mengajakku bersamanya. Dan apa tadi dia katakan ‘ingin mengajak kalian pulang bersamaku?’ apa aku tidak salah dengar. Arti kata ‘kalian’ yang dia ucapkan terdengar seperti tidak ikhlas mengajakku. Tanpa perlu diminta tentu saja aku ingin menjawab ‘tidak!!’
“gomenasai, sensei. Sepertinya aku tidak bisa. Sehabis ini aku masih ada urusan yang harus di selesaikan”. Jawabku se-sopan mungkin.
Touko mendelik padaku.
“benarkah Ryoga? Urusan apa? Kau tidak memberitahukannya padaku?”
“buat apa aku memberi tahumu, itu bukan urusanmu”. Jawabku terdengar sensi. Entahlah sejak kapan, mungkin sejak bertemu dengan orang yang bernama Harada Makoto tekanan darahku serasa diatas normal,150/100. Aaarrgggghhhttt…!!!!!!!!!!
“sensei, tidak perlu. Aku pulang sendiri saja”. Touko ikutan menolak. ‘Suuggeee.. Touko!!’ ucapku dalam hati. Tapi aku tidak tega juga membiarkan dia pulang sendiri kali ini. Walaupun kemarin-kemarin dia mengira kalau aku tidak menunggunya untuk pulang, tapi sebenarnya aku selalu menunggunya. Selalu. Dia saja yang tidak menyadarinya. Aku selalu mengawasinya. Saat dia berada di stasiun, di kereta, di bus, dimanapun itu, saat rute pulang ke kontrakan kami. Aku mengawasinya sampai dia benar-benar selamat sampai tujuan. Setelah beberapa menit dia masuk, barulah aku masuk ke dalam. Dan menyelinap ke kamar secepatnya. Kemudian untuk lebih meyakinkannya, aku keluar kamar dengan sudah memakai pakain rumah. Jadi, dia mengira bahwa aku sudah pulang, tanpa menunggunya. Begitu seterusnya. Walaupun aku sedang memiliki tugas yang harus dikerjakan, tapi aku selalu mengantarnya pulang terlebih dahulu.
“sudahlah Touko, kau pulang saja sama Makoto-sensei. Aku ada urusan sebentar”. Ucapku melemah. Tiba-tiba saja aku terpikir tentang urusan yang memang harus kuselesaikan segera. Dengan sangat extra berat hati aku merelakan Touko pulang bersama orang lain,bukan aku. “kasihan juga kau pulang sendiri. itulah sebenarnya tujuanku ke kelasmu, kalau hari ini aku tidak bisa pulang cepat. Karena ada urusan. Tapi untunglah ada Makoto-sensei, kau tidak perlu sendirian kan”.
“sensei,” ucapku pada orang yang membuatku kesal.
“ya Ryoga,,nande?”
“sensei pulang bersama Touko saja. Tidak apa kan? Untung saja ada anda. Kalau tidak dia pasti sudah keluyuran kemana-mana dulu”. Sentil ku pada Touko.
“Ryoga.. apa-apa’in sih. Aku tidak pernah seperti itu tau!!” dia mengomel dengan melipat tangan di dadanya.
“ya baiklah. Aku akan membawanya pulang dengan selamat, Ryoga-kun. Kau tenang saja”. Jawabnya. “atau kau mau kuantar sekalian?”
“tidak perlu,sensei. Lain kali saja”.
Entahlah ini hanya perasaanku atau tidak, aku merasa kalau Touko seperti berharap ingin pulang bersamaku. Dan dia ingin menahanku. Tapi aku menepis perasaan itu jauh-jauh. Mungkin aku terlalu percaya diri.
Aku berpamitan, sebelum pergi dari hadapan mereka. Kini aku sudah jauh. Aku sudah tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, terutama Touko. Ini adalah pertama kalinya aku tidak pulang bersamanya. Sangat sulit memang meninggalkan kebiasaan yang sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Why the earth seemed to shake very hard when I went to step away…
Step felt heavy as if a chain that held it…
Winds seemed very stinging skin, shuddering…
Whether this is the best? Release it with other people…
And I want it…
Now I’ve noticed…
I am nothing without her…
*****
Raigawa Touko
“banguuunnnnnn……banguuuuuunnnnn………!!!”
Serasa ada orang yang mengganggu tidurku.
“Touko!!! Ayo bangun…!!! Kakakmu ini sudah datang, kau masih enak-enakkan tidur. Nggak dijemput lagi. Ayo cepat bangun..!!” dia menarik selimutku, dan memukulku dengan guling-gulingku secara intens tanpa henti.
“gak mau!!!!” aku tetap tidak bergeming dari tidurku.
Dia tetap dengan gigih membangunkanku. Dengan cara menarikku hingga duduk lalu melepaskan penutup mata tidurku.
“Onee-chan, dia memang susah bangun kalau sudah hari libur seperti ini”. Ucap seorang lagi. Yang ku ketahui itu adalah Ryoga setelah aku membuka sedikit mataku.
Dia berdiri didepan pintu kamarku. Sedang menertawakan ‘peristiwa pembangunan secara paksa’ yang terjadi di kamarku. Dan aku sebagai pemeran utamanya. Mungkin ini adalah hal yang jarang dia lihat. Tapi dia terlihat senang. ‘Huuhh… dasar. Senang sekali sepertinya dia’.
“iya..iya aku bangun”. Akhirnya aku menyerahkan diri juga. Berdiri menghampiri pintu kamarku. Hendak berbicara dengan orang yang sedang tertawa didepan kamarku sejak tadi.
“kenapa tertawa? Ada yang lucu? Sana pergi. Ini daerah cewek.Cowok dilarang memasuki daerah ini. Mengerti!!”. Dia hanya mengangguk sambil menahan tawa, sebelum akhirnya aku menutup pintu ini. Tanpa mengucapkan kata maaf pula dia.
Aku kembali ke ranjangku. Hendak tidur maksudnya. Tapi tentu saja ditahan oleh 1 orang lagi yang ada dikamarku. Yaitu kakakku.
Namanya Raigawa Miyayuko. Tidak tahu sejak kapan dia tiba di tempatku. Dia juga tidak mengabariku kalau mau datang. Jadi bukan salahku jika tidak menjemput. Aku berbeda 7 tahun dengannya. Perbedaan yang sangat jauh bukan? Dia sekarang sudah bekerja, sedangkan aku masih seorang mahasiswi awal. Dia bekerja di salah satu Perusahaan di daerah tempat asalku. Karena dia kakakku sendiri jadi ku bilang tampangnya cantik, orangnya baik, ya tapi terkadang dia itu orangnya suka mengomel apa saja yang dilihatnya kurang enak dimatanya, alias pemarah dan mungkin terlihat jutek.
“eiitttss… mau ngapain? Cepat sana mandi. Kita banyak yang harus dikerjakan lagi”. Ucapnya seraya menarik tanganku.
“memangnya mau kemana sih, kak?? Pergi saja tuh sama Ryoga!”
“ayo lah cepat. Pertama kita ke klinik dulu”.
“nani?? mau ngapain ke klinik?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“kita mandikan dulu itu si Yukiwa. Kau tidak merasa dia itu bau!!” dia menunjuk yukiwa yang lagi tidur di pojokan meja buku. “sudah berapa hari dia tidak mandi?”
“huummm… kira-kira 2 minggu. Hahaha!!” aku tertawa.
“ya amppuuuunnnnn… pantas saja dia bau”. Dia menarik rambutku. “ayo cepat!! Jangan sampai dia lebih bau lagi”.
“iya.. iya.. aku mandi dulu. Tunggu sebentar”. Aku mengambil handuk lalu beranjak pergi. “onee-chan siap kan aja dia di keranjang”.
*****
Setelah 20 menit’an akhirnya kelar juga segala persiapanku. Sudah tidak ada onee-chan di kamar. Begitu juga Yukiwa. Mungkin dia sudah dibawa keluar.
Setelah semuanya sudah beres, segera aku keluar dan mengunci pintu kamarku. Terlihat di ruang bawah Yukiwa duduk dipangkuan Ryoga. Sementara kakakku dihadapannya, mereka sedang mengobrol. Terlihat akrab sekali dia dengan kakakku. Dan terlihat sangat ramah. Coba lihat jika denganku, pasti tidak seperti yang diharapkan.
Ryoga melihatku menuruni tangga dan menghampiri mereka.
“Onee-chan, sepertinya orang yang ditunggu sudah siap”. Ucapnya sambil kembali memasukkan Yukiwa dalam keranjangnya.
“ya. Ayo berangkat”. Ucapku.
“Ryoga, beneran kau tidak mau ikut. Mumpung Onee-chan membawa mobil sendiri”. Tanya nya pada Ryoga.
“iie… sebentar juga aku mau keluar bersama temanku. Maaf aku tidak bisa ikut”.
“oh.. ya sudah. Kami pergi dulu ya”. Pamit onee-chan pada Ryoga. Lalu berlalu menuju mobil.
Kini giliran ku yang berpamitan padanya.
“aku pergi dulu ya”.
“aku mengerti. sana pergi”. Ucapnya sinis. “aku sudah biasa”.
Sinis sekali dia padaku. Apa salahku sih padanya, sampai dia bertindak seperti ini. Pada Onee-chan manis sekali sikapnya. ‘Huuuhh… dasar Ryoga!!’.
Tanpa berucap lagi padanya aku langsung pergi meninggalkannya. Kini mobil telah melaju di jalan raya.
*****
Kami telah tiba di depan klinik yang dituju. Onee-chan segera turun dan mengambil Yukiwa di kursi belakang. Ini adalah kedua kalinya aku kemari. aku melihat orang yang sangat kukenal berada di dalam klinik ini. Dia terlihat sedang bersama seorang pasiennya yang membawa seekor anjing puddle. Walaupun terlihat sangat sibuk tapi sepertinya dia menyadari kalau aku datang, dia tersenyum padaku saat aku memasuki klinik ini. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku datang bersama siapa.
Begitu pasien itu selesai dan pergi, orang itu berbicara padaku.
“ada apa Touko?”
“ini dok, Yukiwa mau saya mandikan disini”. Kataku sambil menunjuk Yukiwa yang ada di dalam keranjang bersama kakakku. Barulah dokter itu menyadari bahwa Yukiwa bersama siapa.
“oh… ya ampun. Kapan kamu datang Yuko?” ucapnya sambil bersalaman bersama kakakku. Dan dia memang memanggil kakakku dengan nama Yuko, nama akrab diantara mereka mungkin.
“aku baru saja tiba, Makoto”. Ucap oneechan membalas uluran tangan Makoto. “kamu terlihat sibuk kali ini. Bagaimana kabar ibunya Yukiwa? Dia sehat saja kan?”
“ya dia baik-baik saja. Kemarin baru saja ibunya Yukiwa disterilkan, jadi dia mungkin tidak bisa hamil lagi”. Jawabnya dengan santai. “lalu dalam rangka apa kamu datang ke Tokyo kali ini?”
“aku kesini Cuma liburan saja, mengambil masa cutiku selama 2 minggu. Sekalian aku kesini juga berencana ingin mencari seorang arsitek, Jika dapat. Karena aku berencana mau membuat rumah”. Katanya seraya meletakkan Yukiwa di meja yang telah di sediakan.
Aku tidak mengetahui kalau tujuannya yang mencari seorang arsitek. onee-chan juga tidak pernah berbicara padaku tentang rencananya membuat rumah. Sungguh suatu info yang mengejutkan. Aku kembali mendengar pembicaraan mereka, sambil mengambil kursi di dekatku.
“seorang arsitek? kebetulan sekali aku mempunyai teman seorang arsitek. kalau mau akan ku perkenalkan dia padamu, Yuko”.
“benarkah? Aku berterima kasih sekali padamu, Makoto. Bolehkah ku tahu siapa orang itu?”
“dia teman 1 sekolahku waktu di Tokyo Senior High School. Dan juga kami kuliah di tempat yang sama. Cuma kami berbeda jurusan, dia mengambil jurusan arsitek dan aku mengambil jurusan kedokteran hewan”. Makoto menjelaskan dengan sangat antusias.
“oh ya… sudah seperti sahabat dong? Lalu siapa namanya?”
“ya kami memang sudah bersahabat sejak lama, hingga sekarang. Nama nya Soujiro Kato. Aku bisa memanggilnya. Kapan kamu bisa, Yuko?”
“aku bisa kapan saja. Asalkan masih dalam waktu 2 minggu ini”.
“baiklah akan ku urus. Nanti aku akan menghubungimu Yuko”.
“arigatou Gonzaimasu, Makoto”.
Aku membiarkan mereka mengobrol, dan mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. ‘baik juga dia itu, mau membantu Onee-chan’ Pikirku. Lalu pandanganku teralih ke keranjang Yukiwa, aku tertawa melihatnya yang seperti ingin keluar karena keranjang ini terlihat sangat sempit dengan ukuran badannya yang bisa dibilang sangat gendut.
“jadi Yukiwa ingin dimandikan disini, Touko. Mandi apa?” Tanya makoto beralih padaku.
“mungkin mandi ‘anti jamur’ aja dok, kemarin kan dia baru terkena alergi”.
“baiklah. Yukiwa bisa diambil siang nanti”.
“kalau begitu kami permisi dulu, Makoto. Titip salam sama pemilik ibunya Yukiwa ya. Dan juga jaga Yukiwa, jangan sampai hilang”.
“dasar kamu ini, Yuko. Yukiwa bakal aku jual nanti”. Jawabnya sambil tertawa. “baiklah nanti aku salamin”.
“ya sudah kami pergi”. Ucap Onee-chan sebelum beranjak pergi.
“hati-hati dijalan”. Makoto pun mengantar kami sampai ke mobil.
Di balik semua itu, Makoto melakukan sesuatu diluar pemikiranku. Makoto membukakan pintu untukku dan menutupkan nya kembali. Hal itu sepertinya terlihat oleh kakakku. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan. Tetapi aku merasakan hal yang tidak enak atas hal tadi. Pasti akan ada pertanyaan yang akan Onee-chan tanyakan padaku. ‘matilah aku, apa yang harus ku katakan padanya? apa-apa'an pula yang dia lakukan tadi. siallll....!!!'
Sebelum pergi Onee-chan membunyikan klakson pada Makoto. Setengah perjalanan, pertanyaan yang kutakutkan keluar juga.
“kalian sudah berkencan ya?”
To be continued………
so, how?? it's good or not??
i think it's not good,, :( hahaha!!! so, gomen...
like *if u like it* n please coment...
Arigato,,*bow!!*
New Cast :
Raigawa Miyayuko as Touko’s Sister
“Welcome for new cast,,chukae!!!”
This I make mini dictionary about this story..
- iie : tidak
- Haik : iya
- Sensei : guru
- Nande? : kenapa?
- Gomen / Gomenasai : maaf
- Suuuggee!!! : hebat / keren
- Arigatou Gonzaimazu : terima kasih banyak
- Nanni? : apa?
Let’s begin!!!
Hanazaki Ryoga
Kuliah hari ini baru saja berakhir, dan tak terbayangkan sebelumnya bahwa yang menjadi dosen untuk hari ini adalah orang yang baru berkenalan denganku siang tadi. Ya dia, Harada Makoto. Tentu saja ini adalah pertama kalinya dia mengajar di tempatku, sama seperti yang dia bilang pada Touko. Tak terpikir sebelumnya oleh ku Harada Makoto menjadi salah satu pengajar di fakultas ku. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku di kelas tadi, seperti iya dan seperti tidak. Tapi aku juga tidak peduli sepenuhnya pada dia.
Dan seperti biasa, hari ini aku dan Touko memiliki jadwal yang sama. Tapi tentu saja aku berbeda kelas, jurusan, dan tahun angkatan dengannya. Touko berbeda 2 angkatan dibawahku, dan dia adalah Mahasiswi dari fakultas Pharmacy. Sedangkan aku Mahasiswa dari fakultas Kedokteran Hewan
“huufftt… pantas saja dai mengajar ditempatku. Dia kan dokter hewannya yukiwa. Kenapa tak terpikir olehku!!” pikirku sambil bersandar pada lemari lokerku.
Seharusnya Touko juga sudah keluar pada jam-jam segini. Tapi kenapa dia tidak terlihat dari tadi. ‘sepertinya ada jam tambahan’, pikirku. Aku pun berinisiatif untuk menuju kelasnya, untuk memastikan keadaan sebenarnya.
Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tiba juga di dekat kelasnya Touko. Aku sengaja tidak menunggunya langsung didepan kelasnya, karena dengan keadaan seperti ini aku tidak terlihat seperti menunggu seseorang. Tapi hanya terlihat sedang duduk santai saja di salah satu bangku kampus. Selain itu juga, karena aku merasa asing bila berada di daerah fakultas lain. Walaupun ini satu kampus yang sama tapi tetap saja terlihat asing di sekelilingku.
Tak lama, dari kejauhan terlihat Touko keluar dari kelasnya berjalan menuju kearahku. Entah dia melihatku atau tidak, tapi sepertinya tidak. Dia melewatiku saja, tanpa menoleh kemana-mana. Perasaan kesal kembali muncul sekarang.
“hei,!” aku memanggilnya.
Dia tetap tidak menoleh. Rasa kesalku bertambah. ‘sengaja tidak mendengar sepertinya’.
“Touko,,!!”
Dia mencari sumber suara yang ditangkap oleh indera pendengarannya, tepat menoleh ke arahku.
“oh.. ternyata kau yang memanggil”. Tanpa rasa bersalah dia menjawabnya. “Sedang apa disini? Menungguku ya?”
godanya, tanpa berjalan ke arahku.
“kau sengaja tidak mendengarku memanggilmu tadi?”
“benarkah kau memanggil? sungguh aku tidak mendengarnya. Gomen…” ucapnya.
‘Bagus…dia sudah meminta maaf’. Permasalahan selesai.
Aku berjalan kearahnya, “kenapa kau lama sekali sih? Aku sudah menunggu dari tadi”.
“untuk apa kau menungguku. Tidak seperti biasanya. Biasanya juga kau pulang sendiri kan? Aku juga bisa pulang sendiri. Aneh sekali kau hari ini.” dia mengatakan tidak melihatku, tapi seperti mengingat tentang kebiasaanku yang seperti dia kata kan barusan.
Aku tidak mau dia mengingat yang jelek-jelek lagi tentangku.
“sudahlah, tidak usah banyak tanya. Kita pu……”
Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, ada suara yang tidak ingin kudengar untuk saat ini.
“Touko-chan!!” sapa Harada Makoto, yang entah sejak kapan dia sudah menuruni tangga didekat kami.
‘huuuhh…. Mau apa sih dia. mengganggu saja’ jeritku dalam hati. Kalau saja ini bukan tempat umum, ingin saja rasanya aku mengusirnya pergi dari sini. Secepatnya enyah dari hadapanku, dan Touko.
Setelah mendekat, barulah dia menyapaku. ‘aku tidak perlu sapaan mu, bapak dosen!!!’ ingin saja aku berkata seperti itu padanya sekarang. Tapi hal itu tentu saja tidak sopan.
“apa yang kalian bedua lakukan disini?” tanyanya pada kami.
“bukan u… Ouuuggh!!!” Touko menginjak kakiku.
Dia melirikku sesaat, tanda untuk tidak melanjutkan kata-kataku. Sepertinya dia mengerti apa yang ingin kukatakan tadi.
“kami… kami hanya mengobrol biasa, sensei!!”
“oh, begitu ya”.
Aku membuang muka.
“haik sensei. Ngomong-ngomong ada perlu apa, sensei kemari?” Tanya Touko.
Dia menghadap Touko.
“Touko-chan, sehabis ini kau sibuk tidak?”
“iie… nande?”
Dia melirikku sesaat sebelum menjawab, entah apa maksudnya, “aku ingin mengajak kalian pulang bersamaku. Bagaimana?”
Ahh… aku mengerti. ternyata itu alasannya ia melirikku tadi. Kalau saja aku tidak ada disini sekarang pastinya dia sudah membawa pergi Touko. Dan tanpa perlu mengajakku bersamanya. Dan apa tadi dia katakan ‘ingin mengajak kalian pulang bersamaku?’ apa aku tidak salah dengar. Arti kata ‘kalian’ yang dia ucapkan terdengar seperti tidak ikhlas mengajakku. Tanpa perlu diminta tentu saja aku ingin menjawab ‘tidak!!’
“gomenasai, sensei. Sepertinya aku tidak bisa. Sehabis ini aku masih ada urusan yang harus di selesaikan”. Jawabku se-sopan mungkin.
Touko mendelik padaku.
“benarkah Ryoga? Urusan apa? Kau tidak memberitahukannya padaku?”
“buat apa aku memberi tahumu, itu bukan urusanmu”. Jawabku terdengar sensi. Entahlah sejak kapan, mungkin sejak bertemu dengan orang yang bernama Harada Makoto tekanan darahku serasa diatas normal,150/100. Aaarrgggghhhttt…!!!!!!!!!!
“sensei, tidak perlu. Aku pulang sendiri saja”. Touko ikutan menolak. ‘Suuggeee.. Touko!!’ ucapku dalam hati. Tapi aku tidak tega juga membiarkan dia pulang sendiri kali ini. Walaupun kemarin-kemarin dia mengira kalau aku tidak menunggunya untuk pulang, tapi sebenarnya aku selalu menunggunya. Selalu. Dia saja yang tidak menyadarinya. Aku selalu mengawasinya. Saat dia berada di stasiun, di kereta, di bus, dimanapun itu, saat rute pulang ke kontrakan kami. Aku mengawasinya sampai dia benar-benar selamat sampai tujuan. Setelah beberapa menit dia masuk, barulah aku masuk ke dalam. Dan menyelinap ke kamar secepatnya. Kemudian untuk lebih meyakinkannya, aku keluar kamar dengan sudah memakai pakain rumah. Jadi, dia mengira bahwa aku sudah pulang, tanpa menunggunya. Begitu seterusnya. Walaupun aku sedang memiliki tugas yang harus dikerjakan, tapi aku selalu mengantarnya pulang terlebih dahulu.
“sudahlah Touko, kau pulang saja sama Makoto-sensei. Aku ada urusan sebentar”. Ucapku melemah. Tiba-tiba saja aku terpikir tentang urusan yang memang harus kuselesaikan segera. Dengan sangat extra berat hati aku merelakan Touko pulang bersama orang lain,bukan aku. “kasihan juga kau pulang sendiri. itulah sebenarnya tujuanku ke kelasmu, kalau hari ini aku tidak bisa pulang cepat. Karena ada urusan. Tapi untunglah ada Makoto-sensei, kau tidak perlu sendirian kan”.
“sensei,” ucapku pada orang yang membuatku kesal.
“ya Ryoga,,nande?”
“sensei pulang bersama Touko saja. Tidak apa kan? Untung saja ada anda. Kalau tidak dia pasti sudah keluyuran kemana-mana dulu”. Sentil ku pada Touko.
“Ryoga.. apa-apa’in sih. Aku tidak pernah seperti itu tau!!” dia mengomel dengan melipat tangan di dadanya.
“ya baiklah. Aku akan membawanya pulang dengan selamat, Ryoga-kun. Kau tenang saja”. Jawabnya. “atau kau mau kuantar sekalian?”
“tidak perlu,sensei. Lain kali saja”.
Entahlah ini hanya perasaanku atau tidak, aku merasa kalau Touko seperti berharap ingin pulang bersamaku. Dan dia ingin menahanku. Tapi aku menepis perasaan itu jauh-jauh. Mungkin aku terlalu percaya diri.
Aku berpamitan, sebelum pergi dari hadapan mereka. Kini aku sudah jauh. Aku sudah tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, terutama Touko. Ini adalah pertama kalinya aku tidak pulang bersamanya. Sangat sulit memang meninggalkan kebiasaan yang sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Why the earth seemed to shake very hard when I went to step away…
Step felt heavy as if a chain that held it…
Winds seemed very stinging skin, shuddering…
Whether this is the best? Release it with other people…
And I want it…
Now I’ve noticed…
I am nothing without her…
*****
Raigawa Touko
“banguuunnnnnn……banguuuuuunnnnn………!!!”
Serasa ada orang yang mengganggu tidurku.
“Touko!!! Ayo bangun…!!! Kakakmu ini sudah datang, kau masih enak-enakkan tidur. Nggak dijemput lagi. Ayo cepat bangun..!!” dia menarik selimutku, dan memukulku dengan guling-gulingku secara intens tanpa henti.
“gak mau!!!!” aku tetap tidak bergeming dari tidurku.
Dia tetap dengan gigih membangunkanku. Dengan cara menarikku hingga duduk lalu melepaskan penutup mata tidurku.
“Onee-chan, dia memang susah bangun kalau sudah hari libur seperti ini”. Ucap seorang lagi. Yang ku ketahui itu adalah Ryoga setelah aku membuka sedikit mataku.
Dia berdiri didepan pintu kamarku. Sedang menertawakan ‘peristiwa pembangunan secara paksa’ yang terjadi di kamarku. Dan aku sebagai pemeran utamanya. Mungkin ini adalah hal yang jarang dia lihat. Tapi dia terlihat senang. ‘Huuhh… dasar. Senang sekali sepertinya dia’.
“iya..iya aku bangun”. Akhirnya aku menyerahkan diri juga. Berdiri menghampiri pintu kamarku. Hendak berbicara dengan orang yang sedang tertawa didepan kamarku sejak tadi.
“kenapa tertawa? Ada yang lucu? Sana pergi. Ini daerah cewek.Cowok dilarang memasuki daerah ini. Mengerti!!”. Dia hanya mengangguk sambil menahan tawa, sebelum akhirnya aku menutup pintu ini. Tanpa mengucapkan kata maaf pula dia.
Aku kembali ke ranjangku. Hendak tidur maksudnya. Tapi tentu saja ditahan oleh 1 orang lagi yang ada dikamarku. Yaitu kakakku.
Namanya Raigawa Miyayuko. Tidak tahu sejak kapan dia tiba di tempatku. Dia juga tidak mengabariku kalau mau datang. Jadi bukan salahku jika tidak menjemput. Aku berbeda 7 tahun dengannya. Perbedaan yang sangat jauh bukan? Dia sekarang sudah bekerja, sedangkan aku masih seorang mahasiswi awal. Dia bekerja di salah satu Perusahaan di daerah tempat asalku. Karena dia kakakku sendiri jadi ku bilang tampangnya cantik, orangnya baik, ya tapi terkadang dia itu orangnya suka mengomel apa saja yang dilihatnya kurang enak dimatanya, alias pemarah dan mungkin terlihat jutek.
“eiitttss… mau ngapain? Cepat sana mandi. Kita banyak yang harus dikerjakan lagi”. Ucapnya seraya menarik tanganku.
“memangnya mau kemana sih, kak?? Pergi saja tuh sama Ryoga!”
“ayo lah cepat. Pertama kita ke klinik dulu”.
“nani?? mau ngapain ke klinik?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“kita mandikan dulu itu si Yukiwa. Kau tidak merasa dia itu bau!!” dia menunjuk yukiwa yang lagi tidur di pojokan meja buku. “sudah berapa hari dia tidak mandi?”
“huummm… kira-kira 2 minggu. Hahaha!!” aku tertawa.
“ya amppuuuunnnnn… pantas saja dia bau”. Dia menarik rambutku. “ayo cepat!! Jangan sampai dia lebih bau lagi”.
“iya.. iya.. aku mandi dulu. Tunggu sebentar”. Aku mengambil handuk lalu beranjak pergi. “onee-chan siap kan aja dia di keranjang”.
*****
Setelah 20 menit’an akhirnya kelar juga segala persiapanku. Sudah tidak ada onee-chan di kamar. Begitu juga Yukiwa. Mungkin dia sudah dibawa keluar.
Setelah semuanya sudah beres, segera aku keluar dan mengunci pintu kamarku. Terlihat di ruang bawah Yukiwa duduk dipangkuan Ryoga. Sementara kakakku dihadapannya, mereka sedang mengobrol. Terlihat akrab sekali dia dengan kakakku. Dan terlihat sangat ramah. Coba lihat jika denganku, pasti tidak seperti yang diharapkan.
Ryoga melihatku menuruni tangga dan menghampiri mereka.
“Onee-chan, sepertinya orang yang ditunggu sudah siap”. Ucapnya sambil kembali memasukkan Yukiwa dalam keranjangnya.
“ya. Ayo berangkat”. Ucapku.
“Ryoga, beneran kau tidak mau ikut. Mumpung Onee-chan membawa mobil sendiri”. Tanya nya pada Ryoga.
“iie… sebentar juga aku mau keluar bersama temanku. Maaf aku tidak bisa ikut”.
“oh.. ya sudah. Kami pergi dulu ya”. Pamit onee-chan pada Ryoga. Lalu berlalu menuju mobil.
Kini giliran ku yang berpamitan padanya.
“aku pergi dulu ya”.
“aku mengerti. sana pergi”. Ucapnya sinis. “aku sudah biasa”.
Sinis sekali dia padaku. Apa salahku sih padanya, sampai dia bertindak seperti ini. Pada Onee-chan manis sekali sikapnya. ‘Huuuhh… dasar Ryoga!!’.
Tanpa berucap lagi padanya aku langsung pergi meninggalkannya. Kini mobil telah melaju di jalan raya.
*****
Kami telah tiba di depan klinik yang dituju. Onee-chan segera turun dan mengambil Yukiwa di kursi belakang. Ini adalah kedua kalinya aku kemari. aku melihat orang yang sangat kukenal berada di dalam klinik ini. Dia terlihat sedang bersama seorang pasiennya yang membawa seekor anjing puddle. Walaupun terlihat sangat sibuk tapi sepertinya dia menyadari kalau aku datang, dia tersenyum padaku saat aku memasuki klinik ini. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku datang bersama siapa.
Begitu pasien itu selesai dan pergi, orang itu berbicara padaku.
“ada apa Touko?”
“ini dok, Yukiwa mau saya mandikan disini”. Kataku sambil menunjuk Yukiwa yang ada di dalam keranjang bersama kakakku. Barulah dokter itu menyadari bahwa Yukiwa bersama siapa.
“oh… ya ampun. Kapan kamu datang Yuko?” ucapnya sambil bersalaman bersama kakakku. Dan dia memang memanggil kakakku dengan nama Yuko, nama akrab diantara mereka mungkin.
“aku baru saja tiba, Makoto”. Ucap oneechan membalas uluran tangan Makoto. “kamu terlihat sibuk kali ini. Bagaimana kabar ibunya Yukiwa? Dia sehat saja kan?”
“ya dia baik-baik saja. Kemarin baru saja ibunya Yukiwa disterilkan, jadi dia mungkin tidak bisa hamil lagi”. Jawabnya dengan santai. “lalu dalam rangka apa kamu datang ke Tokyo kali ini?”
“aku kesini Cuma liburan saja, mengambil masa cutiku selama 2 minggu. Sekalian aku kesini juga berencana ingin mencari seorang arsitek, Jika dapat. Karena aku berencana mau membuat rumah”. Katanya seraya meletakkan Yukiwa di meja yang telah di sediakan.
Aku tidak mengetahui kalau tujuannya yang mencari seorang arsitek. onee-chan juga tidak pernah berbicara padaku tentang rencananya membuat rumah. Sungguh suatu info yang mengejutkan. Aku kembali mendengar pembicaraan mereka, sambil mengambil kursi di dekatku.
“seorang arsitek? kebetulan sekali aku mempunyai teman seorang arsitek. kalau mau akan ku perkenalkan dia padamu, Yuko”.
“benarkah? Aku berterima kasih sekali padamu, Makoto. Bolehkah ku tahu siapa orang itu?”
“dia teman 1 sekolahku waktu di Tokyo Senior High School. Dan juga kami kuliah di tempat yang sama. Cuma kami berbeda jurusan, dia mengambil jurusan arsitek dan aku mengambil jurusan kedokteran hewan”. Makoto menjelaskan dengan sangat antusias.
“oh ya… sudah seperti sahabat dong? Lalu siapa namanya?”
“ya kami memang sudah bersahabat sejak lama, hingga sekarang. Nama nya Soujiro Kato. Aku bisa memanggilnya. Kapan kamu bisa, Yuko?”
“aku bisa kapan saja. Asalkan masih dalam waktu 2 minggu ini”.
“baiklah akan ku urus. Nanti aku akan menghubungimu Yuko”.
“arigatou Gonzaimasu, Makoto”.
Aku membiarkan mereka mengobrol, dan mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. ‘baik juga dia itu, mau membantu Onee-chan’ Pikirku. Lalu pandanganku teralih ke keranjang Yukiwa, aku tertawa melihatnya yang seperti ingin keluar karena keranjang ini terlihat sangat sempit dengan ukuran badannya yang bisa dibilang sangat gendut.
“jadi Yukiwa ingin dimandikan disini, Touko. Mandi apa?” Tanya makoto beralih padaku.
“mungkin mandi ‘anti jamur’ aja dok, kemarin kan dia baru terkena alergi”.
“baiklah. Yukiwa bisa diambil siang nanti”.
“kalau begitu kami permisi dulu, Makoto. Titip salam sama pemilik ibunya Yukiwa ya. Dan juga jaga Yukiwa, jangan sampai hilang”.
“dasar kamu ini, Yuko. Yukiwa bakal aku jual nanti”. Jawabnya sambil tertawa. “baiklah nanti aku salamin”.
“ya sudah kami pergi”. Ucap Onee-chan sebelum beranjak pergi.
“hati-hati dijalan”. Makoto pun mengantar kami sampai ke mobil.
Di balik semua itu, Makoto melakukan sesuatu diluar pemikiranku. Makoto membukakan pintu untukku dan menutupkan nya kembali. Hal itu sepertinya terlihat oleh kakakku. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan. Tetapi aku merasakan hal yang tidak enak atas hal tadi. Pasti akan ada pertanyaan yang akan Onee-chan tanyakan padaku. ‘matilah aku, apa yang harus ku katakan padanya? apa-apa'an pula yang dia lakukan tadi. siallll....!!!'
Sebelum pergi Onee-chan membunyikan klakson pada Makoto. Setengah perjalanan, pertanyaan yang kutakutkan keluar juga.
“kalian sudah berkencan ya?”
To be continued………
so, how?? it's good or not??
i think it's not good,, :( hahaha!!! so, gomen...
like *if u like it* n please coment...
Arigato,,*bow!!*
Minggu, 03 April 2011
Am I Jeolous
hellowww... this story is part 2 from the part 1,last story 'What Are You Doing For Me This Time?''
so happy reading...^^
sorry if many wrong word i made..^^
Cast :
Hanazaki Ryoga
Raigawa Touko
Harada Makoto
Yukiwa
New Cast :
Uzumaki Awano as Ryoga’s Friend
Hanazaki Ryoga
Aku menatap layar komputer dihadapanku dengan malas. Tidak ada kerjaan yang berarti ku kerjakan hari ini. Sesekali aku hanya melihat orderan desain, baik yang diterima secara online dari komputerku ataupun orderan masuk yang langsung ke markas kerja kami. Malas sekali melihat permintaan orderan sebanyak itu. Rasa-rasanya aku tak sanggup untuk mengerjakan semua permintaan itu dalam 1 hari. Padahal itu adalah komitmenku untuk dapat bergabung diperusahaan ini. Nippon of Printing Design Cloth.
Entah kenapa, hari ini tak ada gairah hidup yang kurasakan. Apakah karena sesuatu yang terjadi kemarin? Sesuatu yang pertama kali aku rasakan, suatu gejolak perasaan aneh yang bergemuruh dari dalam hatiku dan memaksaku untuk melakukannya saat itu juga. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Melakukan hal-hal yang diluar batas pemikiranku sendiri. Tapi anehnya, aku tidak menyesal melakukannya. Aku justru ingin mengulangnya kembali.
Mungkin di pemikirannya kemarin aku ini orang aneh yang bisa berubah kapan saja. Terkadang aku kasar pada dia, terkadang juga bersifat manis pada dia. yah… memang 90% lebih banyak kasarnya. Sekali lagi aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu padanya. Bersikap sok kasar padanya, Bersikap tidak peduli dengan perkataannya, dan bersikap selalu mencampuri segala urusan hidupnya. Entahlah mendapat ilham dari mana. Yang pasti aku merasakan suatu kewajiban untuk melakukan semua hal itu padanya. ‘Gomenasai Touko-chan’.
Tanpa diduga…
“hayoooo… lagi ngelamunin siapa nih?” Seseorang membuyarkan lamunanku.
Aku menengok, “hoossh.. kamu ini bikin kaget saja, awano-kun”. Ucapku sambil mengelus dada.
Uzumaki Awano. Dia adalah teman kerjaku di markas ini. Penilaianku pertama kali padanya ialah orangnya baik, dewasa, setia kawan, dan anak yang pembersih. Dia itu tidak mau melihat ada secuil kotoran pun disekitarnya, termasuk meja kerjanya. Padahal aku sering dengan sengaja membuang sampah-sampah bekas ku ke tempatnya. Dia pun tahu aku yang melakukan semua hal itu. Dia sih… hanya mendumel sesekali padaku.
Selain itu, Dia juga sering membantu ku dalam hal pekerjaan yang masih belum ku kuasai. Maklum aku baru saja bergabung di tempat ini selama 2 bulan terakhir.
Terdengar tawanya seperti mengejek.
“wah… Masih pagi-pagi begini saja kamu sudah ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Hayo.. lagi mikirin apa tadi?”.
“hahaha.. kamu tuh yang mikir macam-macam sepertinya. Memangnya gak boleh senyum pagi-pagi? Ada yang ngelarang?” aku menendangkan kursi padanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung mengambil kursi yang ku tendangkan untuknya. Senyum ejeknya masih terpampang diwajahnya, walaupun dia sabenarnya sedang memandangi web penjualan kami secara online. Sebenarnya aku ingin membagi cerita ini padanya, sekalian meminta pendapat padanya. Apa yang seharusnya ku lakukan untuk Touko. Ragu aku bertanya padanya.
“hei… awano, aku ingin bertanya sesuatu”.
“nande? Sepertinya aku tahu. Seorang gadis lagi?”
Ternyata awano sudah mengetahuinya.
“ya seperti itulah”.
“ingin bertanya apa lagi? Kau pastinya lebih ahli daripada aku kan kalau soal wanita.”
Kata-katanya barusan membuatku berbangga diri sedikit, sekaligus memojokkan ku tentang hal bergonta-ganti pasangan.
“ini beda kau tahu. Gadis ini. dia seperti selalu berusaha menjauh dariku. Padahal aku sudah berusaha mencari perhatiannya,tapi tetap saja dia bertingkah seolah-olah aku ini musuh yang harus dibasmi”.
“hee?? That’s good girl.” Selanjutnya Dia hanya tertawa terbahak.
Aku mendelik padanya, “apa maksudmu? Bisa diperjelas?”
“iie… pastinya dia gadis yang sangat menarik ya. Sampai-sampai kau ‘seorang Hanazaki Ryoga’ yang bisa dibilang penampilanmu menarik, dan memiliki keahlian menggaet para gadis diluar sana, ditolak begitu saja?” ia menggeleng, seraya merangkul bahuku “boleh aku mengetahui siapa gadis itu,kawan?aku mengenalnya tidak?”.
“huumm… kenal tidak ya, aku juga lupa”. Aku berpikir keras memikirkannya. “sepertinya kau pernah melihatnya. Kau tahu teman kontrakanku kan?”
Terlihat dia berusaha mengingat sesuatu, “wow… sepertinya aku tahu. Touko, Raigawa Touko. Iya kan? Dia teman kontrakan yang kau maksud?”
Aku menggangguk.
“jadi dia maksudmu? Jadi kau sekarang berusaha mendekatinya, tetapi ditolak? Suuggeee………!!! Touko-chan memang hebat, Bisa membuat seperti ini”.
“sudahlah, aku tidak membutuhkan ocehanmu tapi saran atau pendapat tentang masalah ini. Ayolah bantu aku”.
“saranku tidak murah loh, mendengarkan saja 10 yen, mendengarkan+saran 100 yen”.
“apa?? Semahal itu? Ya terserah lah, tapi kapan-kapan saja aku bayarnya,hahaha”.
“tidak usah. Aku Cuma bercanda. Begini saja, kalau kau memang bisa bersama dengan Touko, traktir aku makan ramen dan sushi di hokaido. Bagaimana setuju?” dia menyodorkan tangan kanannya.
“mau makan saja harus pergi sejauh itu. Baiklah aku terima.” Aku menerima jabatan tangannya. “sekarang apa pendapatmu?”.
“menurutku jangan kau dekati dulu dia”.
“maksudnya? Aku tidak mengerti?”
Dia menghadapku.
“seperti ini, kau harus berusaha menjauhinya. Berusahalah untuk seolah-olah tidak peduli padanya. So, dia pasti akan berpikir tentang menjauhnya dirimu padanya. Dan menurutku setelah itu dia pasti mencarimu dengan sendirinya”.
“bagaimana kalau dia tetap menjauh juga?”
“yaahh… menurutku semua gadis itu sama jika diperlakukan seperti itu. Tapi aku belum tahu juga sifat Touko itu bagaimana, mungkin saja dia berbeda.” Sambil dia menggaruk kepala, “sudahlah kau coba saja saranku dulu. Kalau tidak berhasil, ya kau tanggung sendiri.” Lalu dia tertawa.
“ahh… saranmu mencurigakanmu”.
Tiba-tiba ada suara yang menggangu pembicaraan kami.
“Uzumaki Awano!! Hanazaki Ryoga!!” ternyata suara atasan kami Matsuyama Kenichi yang memecah telinga kami. Dengam mata melotot dia memandang kami, padahal menurutku matanya itu sangat sipit, jadi walaupun dilebar-lebarkan tetap tidak terlihat menakutkan bagiku. “kenapa kalian malah santai-santai saja disana. Kita sekarang banyak orderan, Kalian tidak mengetahuinya. Ayo cepat kembali ketempat kalian masing-masing. Jangan ada yang membantah”.
Setelah kepergian tuan Matsuyama, aku menjulurkan lidah padanya. Awano langsung bangkit dari kursinya.
“ingat janjimu padaku. Rayakan kalau berhasil. Hokaido..!!”
Aku mendorongnya pergi, “ya kita lihat saja”.
*****
Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Siang ini juga ada kuliah yang menunggu. Lelah juga setelah dari tadi hanya berdiri di depan mesin pencetakan baju. Selama perjalan di bus tadi aku memikirkan tentang saran yang diberikan Uzumaki Awano. Apakah akan berhasil atau malah bertambah buruk? Pikirku.
Sepertinya tidak ada orang di rumah ini, kecuali yukiwa yang sedang tidur di kursi ruang tamu.
“jadi Touko sudah pergi duluan. Cepat sekali dia pergi. Tidak menunggu aku pulang”. Bicaraku sendiri menuju kamar mengambil peralatan kuliahku.
Dengan segera aku pergi menuju kampus. Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta menuju shibuya, akhirnya tiba juga di kampus tercinta. Tanpa susah-susah mencari Touko, aku sudah bisa menemukannya. Seperti biasa dia duduk dibawah pohon sakura yang terlihat kering tapi masih cukup rindang. Dan tentu saja sekarang bukan waktunya untuk sakura bermekaran.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk dihadapnnya. Dia terlihat sedang memejamkan mata, entah tertidur atau apa. Aku tidak berniat untuk membangunkannya, aku hanya memandang siluet wajahnya yang memang tertidur. Aku tersenyum memandang.
“apa yang membuat dirimu menarik dihadapnku, Touko?” aku berbicara pelan tanpa mengalihkan pandanganku.
Angin kemudian bertiup ringan menerpa wajah dan rambutnya. Hal itu membuatnya bergerak sedikit, lalu membuka matanya. Dari sorot matanya terlihat terkejut dengan pandangan yang ada di depannya. Yaitu aku.
“Ryoga, apa yang kau lakukan disini”.
Kembali perasaan sinis muncul dari suaraku, padahal aku tidak bermaksud melakukannya. Entah kenapa aku malah senang melakukannya.
“ya tentu saja aku disini untuk belajar. Ini kan juga kampus ku”.
Terlihat wajahnya kesal sekali dengan jawabanku barusan.
“hah… susah memang berbicara dengan orang yang sok!” dia berdiri lalu pergi meninggalkan ku dibelakang.
“hei.. tunggu” aku menarik tangan kirinya. “Di rumah kau meninggalkanku, disini kau juga mau meninggalkanku?”
“lalu urusanku apa? Kau kan bisa pergi sendiri. Dasar aneh!!” dia menghentakkan tangannya seperti biasa. “kau juga sering meninggalkanku, tidak pernah peduli, dan selalu kasar padaku. Lalu kenapa aku harus berbaik hati menunggumu, pikirkan sendiri sifatmu itu!”
Dia berjalan mundur sambil menghadapku, “Ryoga,, kau itu orang yang paling aneh dan jahat yang pernah kutemui.” Walaupun kata-katanya terdengar menyakitkan tapi sangat terlihat kalau dia menyampaikannya hanya dengan bercanda. Aku bisa melihatnya.
Sambil menjulurkan lidahnya dia kemudian bersiap lari, karena aku bermaksud untuk mengejarnya. Lalu…
Bruukkk……
Touko menabrak seorang dosen, yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“kau tidak apa-apa?” dosen itu berbicara pada touko dan membimbingnya berdiri. Tiba-tiba dosen itu terlihat terkejut.
“maaf pak, aku tidak se…” touko menghentikan kata-katanya. “makoto-san?” Touko terlihat mengenal baik dosen baru itu.
“Touko, apa yang kau lakukan disini?” dosen itu bertanya padanya.
“aku mahasiswi disini, makoto-san. Tidak menyangka bertemu denganmu. Lalu apa yang kau lakukan disini, makoto-san? Kau juga seorang mahasiswa disini?”
“iie… hari ini adalah hari pertama ku mengajar disini”.
“benarkah??”
Mereka berdua terlihat sangat akrab, sampai-sampai aku seperti tidak dianggap oleh mereka berdua. Entah perasaan ini muncul dari mana. Wajah ini terasa panas, kepala seperti berputar-putar, hati juga tersa sakit sekali. Rasanya melihat pemandangan didepanku membuatku merasa ingin marah dan ingin pergi secepatnya dari tempat ini ‘inikah yang dinamakan cemburu?’. Setelah beberapa langkah aku pergi melewatinya, touko memanggilku, menyusulku, dan menarikku kembali ke tempat semula. ‘Arrgghhhhhhh…… apa sih maunya sekarang, bisa turun gengsiku kalau ketahuan cemburu’.
“Ryoga, aku ingin mengenalimu dengan Makoto-san. Dia adalah dokter yukiwa. Tak kusangka dia menjadi dosen disini”. Ucapnya seraya membawaku kembali.
“urusanku apa berkenalan denganya, sepertinya tidak penting”. Jawabku sinis dengan tambahan bumbu-bumbu cemburu.
“ayolah Ryoga, sekali ini saja. Toh gak ada ruginya juga. Siapa tahu kalian bisa berteman”.
‘apa berteman dengan yang kupikir ‘sainganku’ sendiri? No way lah!!!”
Dengan perkenalan yang dibantu oleh Touko akhirnya aku berjabat tangan juga dengan orang yang bernama Makoto Harada. Aku tidak peduli dengan wajahku yang tidak terlihat ramah-ramahnya, malah terlihat jutek kurasa. Ya memang itulah aku.
“baiklah, Saya permisi dulu. Senang berkenalan denganmu Hanazaki Ryoga”. Dia berlalu pergi meninggalkan kami.
“jadi dia dokternya Yukiwa? Bukannya dia juga yang waktu itu mengantarmu pulang?” tanyaku setelah makoto-san telah jauh terlihat.
“ya memang dia. lalu kenapa?”
“tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Tidak boleh?” aku mengoreksi suaraku agar tidak terdengar gugup.
“pertanyaanmu itu menyiratkan suatu maksud yang lain tau. Apakah kau…” terdengar memalukan kalau sampai Touko meneruskan omongannya.
Aku segera memotong kata-kata touko, “sudahlah, ayo pergi. kau mau kita terlambat masuk”. Aku langsung pergi meninggalkannya dibelakang.
“oh.. I see. Lihat lah dirimu. Membalas meninggalkanku? Ya tidak apa-apa, tanpa dirimu aku juga bisa sendiri”.
Aku terus saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Karena aku tak mau Touko melihatku dengan perasaan yang berkecamuk aneh sekarang. Hanya suara omelan-omelan kecil yang terdengar oleh pendengaranku. Yang tentu saja ditujukan padaku. ‘senang sekali rasanya mendengarnya berceloteh kesal tentang ku’.
To be continued………
please comment n like it,,hihihi
maaf bila ada karakter yang menyinggung.. just cerita khayalan..
so happy reading...^^
sorry if many wrong word i made..^^
Cast :
Hanazaki Ryoga
Raigawa Touko
Harada Makoto
Yukiwa
New Cast :
Uzumaki Awano as Ryoga’s Friend
Hanazaki Ryoga
Aku menatap layar komputer dihadapanku dengan malas. Tidak ada kerjaan yang berarti ku kerjakan hari ini. Sesekali aku hanya melihat orderan desain, baik yang diterima secara online dari komputerku ataupun orderan masuk yang langsung ke markas kerja kami. Malas sekali melihat permintaan orderan sebanyak itu. Rasa-rasanya aku tak sanggup untuk mengerjakan semua permintaan itu dalam 1 hari. Padahal itu adalah komitmenku untuk dapat bergabung diperusahaan ini. Nippon of Printing Design Cloth.
Entah kenapa, hari ini tak ada gairah hidup yang kurasakan. Apakah karena sesuatu yang terjadi kemarin? Sesuatu yang pertama kali aku rasakan, suatu gejolak perasaan aneh yang bergemuruh dari dalam hatiku dan memaksaku untuk melakukannya saat itu juga. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya. Melakukan hal-hal yang diluar batas pemikiranku sendiri. Tapi anehnya, aku tidak menyesal melakukannya. Aku justru ingin mengulangnya kembali.
Mungkin di pemikirannya kemarin aku ini orang aneh yang bisa berubah kapan saja. Terkadang aku kasar pada dia, terkadang juga bersifat manis pada dia. yah… memang 90% lebih banyak kasarnya. Sekali lagi aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu padanya. Bersikap sok kasar padanya, Bersikap tidak peduli dengan perkataannya, dan bersikap selalu mencampuri segala urusan hidupnya. Entahlah mendapat ilham dari mana. Yang pasti aku merasakan suatu kewajiban untuk melakukan semua hal itu padanya. ‘Gomenasai Touko-chan’.
Tanpa diduga…
“hayoooo… lagi ngelamunin siapa nih?” Seseorang membuyarkan lamunanku.
Aku menengok, “hoossh.. kamu ini bikin kaget saja, awano-kun”. Ucapku sambil mengelus dada.
Uzumaki Awano. Dia adalah teman kerjaku di markas ini. Penilaianku pertama kali padanya ialah orangnya baik, dewasa, setia kawan, dan anak yang pembersih. Dia itu tidak mau melihat ada secuil kotoran pun disekitarnya, termasuk meja kerjanya. Padahal aku sering dengan sengaja membuang sampah-sampah bekas ku ke tempatnya. Dia pun tahu aku yang melakukan semua hal itu. Dia sih… hanya mendumel sesekali padaku.
Selain itu, Dia juga sering membantu ku dalam hal pekerjaan yang masih belum ku kuasai. Maklum aku baru saja bergabung di tempat ini selama 2 bulan terakhir.
Terdengar tawanya seperti mengejek.
“wah… Masih pagi-pagi begini saja kamu sudah ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Hayo.. lagi mikirin apa tadi?”.
“hahaha.. kamu tuh yang mikir macam-macam sepertinya. Memangnya gak boleh senyum pagi-pagi? Ada yang ngelarang?” aku menendangkan kursi padanya.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung mengambil kursi yang ku tendangkan untuknya. Senyum ejeknya masih terpampang diwajahnya, walaupun dia sabenarnya sedang memandangi web penjualan kami secara online. Sebenarnya aku ingin membagi cerita ini padanya, sekalian meminta pendapat padanya. Apa yang seharusnya ku lakukan untuk Touko. Ragu aku bertanya padanya.
“hei… awano, aku ingin bertanya sesuatu”.
“nande? Sepertinya aku tahu. Seorang gadis lagi?”
Ternyata awano sudah mengetahuinya.
“ya seperti itulah”.
“ingin bertanya apa lagi? Kau pastinya lebih ahli daripada aku kan kalau soal wanita.”
Kata-katanya barusan membuatku berbangga diri sedikit, sekaligus memojokkan ku tentang hal bergonta-ganti pasangan.
“ini beda kau tahu. Gadis ini. dia seperti selalu berusaha menjauh dariku. Padahal aku sudah berusaha mencari perhatiannya,tapi tetap saja dia bertingkah seolah-olah aku ini musuh yang harus dibasmi”.
“hee?? That’s good girl.” Selanjutnya Dia hanya tertawa terbahak.
Aku mendelik padanya, “apa maksudmu? Bisa diperjelas?”
“iie… pastinya dia gadis yang sangat menarik ya. Sampai-sampai kau ‘seorang Hanazaki Ryoga’ yang bisa dibilang penampilanmu menarik, dan memiliki keahlian menggaet para gadis diluar sana, ditolak begitu saja?” ia menggeleng, seraya merangkul bahuku “boleh aku mengetahui siapa gadis itu,kawan?aku mengenalnya tidak?”.
“huumm… kenal tidak ya, aku juga lupa”. Aku berpikir keras memikirkannya. “sepertinya kau pernah melihatnya. Kau tahu teman kontrakanku kan?”
Terlihat dia berusaha mengingat sesuatu, “wow… sepertinya aku tahu. Touko, Raigawa Touko. Iya kan? Dia teman kontrakan yang kau maksud?”
Aku menggangguk.
“jadi dia maksudmu? Jadi kau sekarang berusaha mendekatinya, tetapi ditolak? Suuggeee………!!! Touko-chan memang hebat, Bisa membuat seperti ini”.
“sudahlah, aku tidak membutuhkan ocehanmu tapi saran atau pendapat tentang masalah ini. Ayolah bantu aku”.
“saranku tidak murah loh, mendengarkan saja 10 yen, mendengarkan+saran 100 yen”.
“apa?? Semahal itu? Ya terserah lah, tapi kapan-kapan saja aku bayarnya,hahaha”.
“tidak usah. Aku Cuma bercanda. Begini saja, kalau kau memang bisa bersama dengan Touko, traktir aku makan ramen dan sushi di hokaido. Bagaimana setuju?” dia menyodorkan tangan kanannya.
“mau makan saja harus pergi sejauh itu. Baiklah aku terima.” Aku menerima jabatan tangannya. “sekarang apa pendapatmu?”.
“menurutku jangan kau dekati dulu dia”.
“maksudnya? Aku tidak mengerti?”
Dia menghadapku.
“seperti ini, kau harus berusaha menjauhinya. Berusahalah untuk seolah-olah tidak peduli padanya. So, dia pasti akan berpikir tentang menjauhnya dirimu padanya. Dan menurutku setelah itu dia pasti mencarimu dengan sendirinya”.
“bagaimana kalau dia tetap menjauh juga?”
“yaahh… menurutku semua gadis itu sama jika diperlakukan seperti itu. Tapi aku belum tahu juga sifat Touko itu bagaimana, mungkin saja dia berbeda.” Sambil dia menggaruk kepala, “sudahlah kau coba saja saranku dulu. Kalau tidak berhasil, ya kau tanggung sendiri.” Lalu dia tertawa.
“ahh… saranmu mencurigakanmu”.
Tiba-tiba ada suara yang menggangu pembicaraan kami.
“Uzumaki Awano!! Hanazaki Ryoga!!” ternyata suara atasan kami Matsuyama Kenichi yang memecah telinga kami. Dengam mata melotot dia memandang kami, padahal menurutku matanya itu sangat sipit, jadi walaupun dilebar-lebarkan tetap tidak terlihat menakutkan bagiku. “kenapa kalian malah santai-santai saja disana. Kita sekarang banyak orderan, Kalian tidak mengetahuinya. Ayo cepat kembali ketempat kalian masing-masing. Jangan ada yang membantah”.
Setelah kepergian tuan Matsuyama, aku menjulurkan lidah padanya. Awano langsung bangkit dari kursinya.
“ingat janjimu padaku. Rayakan kalau berhasil. Hokaido..!!”
Aku mendorongnya pergi, “ya kita lihat saja”.
*****
Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Siang ini juga ada kuliah yang menunggu. Lelah juga setelah dari tadi hanya berdiri di depan mesin pencetakan baju. Selama perjalan di bus tadi aku memikirkan tentang saran yang diberikan Uzumaki Awano. Apakah akan berhasil atau malah bertambah buruk? Pikirku.
Sepertinya tidak ada orang di rumah ini, kecuali yukiwa yang sedang tidur di kursi ruang tamu.
“jadi Touko sudah pergi duluan. Cepat sekali dia pergi. Tidak menunggu aku pulang”. Bicaraku sendiri menuju kamar mengambil peralatan kuliahku.
Dengan segera aku pergi menuju kampus. Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta menuju shibuya, akhirnya tiba juga di kampus tercinta. Tanpa susah-susah mencari Touko, aku sudah bisa menemukannya. Seperti biasa dia duduk dibawah pohon sakura yang terlihat kering tapi masih cukup rindang. Dan tentu saja sekarang bukan waktunya untuk sakura bermekaran.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk dihadapnnya. Dia terlihat sedang memejamkan mata, entah tertidur atau apa. Aku tidak berniat untuk membangunkannya, aku hanya memandang siluet wajahnya yang memang tertidur. Aku tersenyum memandang.
“apa yang membuat dirimu menarik dihadapnku, Touko?” aku berbicara pelan tanpa mengalihkan pandanganku.
Angin kemudian bertiup ringan menerpa wajah dan rambutnya. Hal itu membuatnya bergerak sedikit, lalu membuka matanya. Dari sorot matanya terlihat terkejut dengan pandangan yang ada di depannya. Yaitu aku.
“Ryoga, apa yang kau lakukan disini”.
Kembali perasaan sinis muncul dari suaraku, padahal aku tidak bermaksud melakukannya. Entah kenapa aku malah senang melakukannya.
“ya tentu saja aku disini untuk belajar. Ini kan juga kampus ku”.
Terlihat wajahnya kesal sekali dengan jawabanku barusan.
“hah… susah memang berbicara dengan orang yang sok!” dia berdiri lalu pergi meninggalkan ku dibelakang.
“hei.. tunggu” aku menarik tangan kirinya. “Di rumah kau meninggalkanku, disini kau juga mau meninggalkanku?”
“lalu urusanku apa? Kau kan bisa pergi sendiri. Dasar aneh!!” dia menghentakkan tangannya seperti biasa. “kau juga sering meninggalkanku, tidak pernah peduli, dan selalu kasar padaku. Lalu kenapa aku harus berbaik hati menunggumu, pikirkan sendiri sifatmu itu!”
Dia berjalan mundur sambil menghadapku, “Ryoga,, kau itu orang yang paling aneh dan jahat yang pernah kutemui.” Walaupun kata-katanya terdengar menyakitkan tapi sangat terlihat kalau dia menyampaikannya hanya dengan bercanda. Aku bisa melihatnya.
Sambil menjulurkan lidahnya dia kemudian bersiap lari, karena aku bermaksud untuk mengejarnya. Lalu…
Bruukkk……
Touko menabrak seorang dosen, yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“kau tidak apa-apa?” dosen itu berbicara pada touko dan membimbingnya berdiri. Tiba-tiba dosen itu terlihat terkejut.
“maaf pak, aku tidak se…” touko menghentikan kata-katanya. “makoto-san?” Touko terlihat mengenal baik dosen baru itu.
“Touko, apa yang kau lakukan disini?” dosen itu bertanya padanya.
“aku mahasiswi disini, makoto-san. Tidak menyangka bertemu denganmu. Lalu apa yang kau lakukan disini, makoto-san? Kau juga seorang mahasiswa disini?”
“iie… hari ini adalah hari pertama ku mengajar disini”.
“benarkah??”
Mereka berdua terlihat sangat akrab, sampai-sampai aku seperti tidak dianggap oleh mereka berdua. Entah perasaan ini muncul dari mana. Wajah ini terasa panas, kepala seperti berputar-putar, hati juga tersa sakit sekali. Rasanya melihat pemandangan didepanku membuatku merasa ingin marah dan ingin pergi secepatnya dari tempat ini ‘inikah yang dinamakan cemburu?’. Setelah beberapa langkah aku pergi melewatinya, touko memanggilku, menyusulku, dan menarikku kembali ke tempat semula. ‘Arrgghhhhhhh…… apa sih maunya sekarang, bisa turun gengsiku kalau ketahuan cemburu’.
“Ryoga, aku ingin mengenalimu dengan Makoto-san. Dia adalah dokter yukiwa. Tak kusangka dia menjadi dosen disini”. Ucapnya seraya membawaku kembali.
“urusanku apa berkenalan denganya, sepertinya tidak penting”. Jawabku sinis dengan tambahan bumbu-bumbu cemburu.
“ayolah Ryoga, sekali ini saja. Toh gak ada ruginya juga. Siapa tahu kalian bisa berteman”.
‘apa berteman dengan yang kupikir ‘sainganku’ sendiri? No way lah!!!”
Dengan perkenalan yang dibantu oleh Touko akhirnya aku berjabat tangan juga dengan orang yang bernama Makoto Harada. Aku tidak peduli dengan wajahku yang tidak terlihat ramah-ramahnya, malah terlihat jutek kurasa. Ya memang itulah aku.
“baiklah, Saya permisi dulu. Senang berkenalan denganmu Hanazaki Ryoga”. Dia berlalu pergi meninggalkan kami.
“jadi dia dokternya Yukiwa? Bukannya dia juga yang waktu itu mengantarmu pulang?” tanyaku setelah makoto-san telah jauh terlihat.
“ya memang dia. lalu kenapa?”
“tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Tidak boleh?” aku mengoreksi suaraku agar tidak terdengar gugup.
“pertanyaanmu itu menyiratkan suatu maksud yang lain tau. Apakah kau…” terdengar memalukan kalau sampai Touko meneruskan omongannya.
Aku segera memotong kata-kata touko, “sudahlah, ayo pergi. kau mau kita terlambat masuk”. Aku langsung pergi meninggalkannya dibelakang.
“oh.. I see. Lihat lah dirimu. Membalas meninggalkanku? Ya tidak apa-apa, tanpa dirimu aku juga bisa sendiri”.
Aku terus saja pergi tanpa menoleh kebelakang. Karena aku tak mau Touko melihatku dengan perasaan yang berkecamuk aneh sekarang. Hanya suara omelan-omelan kecil yang terdengar oleh pendengaranku. Yang tentu saja ditujukan padaku. ‘senang sekali rasanya mendengarnya berceloteh kesal tentang ku’.
To be continued………
please comment n like it,,hihihi
maaf bila ada karakter yang menyinggung.. just cerita khayalan..
What Are You Doing For Me This Time?
hi all,,this my first story. make it in japan.
I make it with 2 caracter, from Raigawa Touko n from Hanazaki Ryoga.
so, happy reading..^^
Cast :
Raigawa Touko as Main Caracters
Hanazaki Ryoga as Touko Neighbour’s Room
Makoto Harada as Docter
Ikara Miumi as Touko’s Best Friend
Yukiwa as Touko’s Pet
Aku membuka kelopak mataku, bangun dengan terpaksa. Kembali dari dunia mimpi ke dunia nyata. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata hal yang membangunkan ku adalah suara kucing yang membisingkan, dan menyebalkan dari luar pintu kamarku.
“yaaakkss…!!!!! Itu kucing suaranya minta ampun!!”
Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar. Bermaksud memarahi kucing menyebalkan itu. Aku membuka penutup kandangnya, aku melihatnya dan dia melihatku. Yukiwa, itulah nama kucing dihadapanku sekarang. Yukiwa sebenarnya kucingku sendiri. Kucing berjenis Himalaya Persia dan memiliki point hitam disekitar wajah,telinga,ekor,serta kaki dan tangannya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu membuatku pusing dengan suaranya. Bersuara dengan lantang dan sekencang-kencangnya seperti sedang depresi. Dan berulang setiap saat tanpa henti.
“nande Yuki?” aku ngomong sendiri padanya. “ini masih jam 6 pagi, belum waktunya makan kan!!”
“nggeeeoonngg..” suaranya melemah.
Aku memperhatikannya, hari ini seperti ada yang salah dengan bulu-bulunya. Aku pun mengeluarkannya dari kandang dan meneliti setiap bulu ditubuhnya.
“……”Yukiwa hanya melihatku.
Aku memperhatikannya kembali. Baru hari ini aku melihat kulit yang memerah dan seperti ada serpihan-serpihan bekas luka dari kulit dan bulunya. Dengan segera aku memasukkannya kembali ke kandang dan menyerbu telepon yang tergeletak di ranjangku. Aku bermaksud menghubungi kakak ku untuk memberi tahunya, dia memberi saran untuk menanyakan Yukiwa ke dokter biasa. Secepatnya.
“Omeee.. kenapa juga mesti ke dokter itu.”
Dengan malas aku mengirimkan email ke dokter yang dimaksud. Menjelaskan secara rinci tentang keadaan dari Yukiwa sekarang. ‘Tapi pasti butuh berjam-jam untuk mendapatkan balasannya,’ pikirku. Itulah satu hal yang tidak kusuka dari dokternya, sudah beberapa kali aku menanyakan hal-hal yang genting tapi tidak ditanggapi dengan segera.
1 Email masuk. Makoto Harada-san. Tapi sepertinya hari ini beda.
“huumm… tumben cepat.!” Sergahku sembari membaca email.
‘Saya belum bisa memastikan secara langsung apa penyebabnya.
Kalau perlu diperiksakan saja. Saya ada di klinik sekarang.’
Ke klinik? Mesti boyong siapa nih? Tiba-tiba aku mengingat seseorang dan mencoba menghubunginya.
“Miumi-chan… kau sedang apa… sibuk gak… bisa tolongin aku gak… oke aku tunggu, ja mata ne.” Telepon terputus.
*****
“Touko-chan aku sudah diluar. Buruan, panas nih!!” Miumi meneleponku.
“ye.. tunggu sebentar, Miumi-chan.”
Setelah itu dengan segera aku turun ke bawah menemui Miumi, serta Yukiwa yang tidak lupa dibawa di dalam keranjang pinknya.
“oughh.. berat sekali sih ini kucing.” Ucapku sambil turun melalui tangga. Sesaat aku melihat ada seseorang yang memperhatikan ku dari dalam kamarnya. Hanazaki Ryoga. Teman satu kontrakanku.
“hey… mau kemana?!” tanyanya sinis.
Aku meliriknya sesaat.
“nande? Bukan urusanmu!” jawabku ketus. Dengan segera ku membuka pintu. ‘Pasti akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi sekarang,’ terka ku.
cowok itu mencengkram lenganku. “jawab pertanyaanku, Raigawa Touko!!”
“apa’an sih, lepas’in!! Aku buru-buru sekarang.” Aku memandangnya, Deg! Entah kenapa aku gugup melihatnya. Melihat tepat kearah matanya. Jantungku berdebar. Entah karena takut melihatnya atau karena perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan... Aku berbalik, berusaha untuk tidak memandangnya lagi. “baiklah, Hanazaki Ryoga. Aku mau bawa kucingku ke klinik, itu saja.”
“kucingmu? Jadi Yuki-kun sakit?”
“iya. Sudah tahu kan, lepaskan!! sakit tahu.” Cengkramannya melemah, segera saja aku menyentak lenganku, dan dengan buru-buru segera menguncinya dari luar. Ada suara gedoran sebelum akhirnya aku menuju tempat miumi.
Miumi bertanya tentang insiden tadi.
“dia lagi,?”.
“iya lah. Sudah bisa ditebak kan Miumi-chan. Ayo buruan jalan, ntar makin panas”.
*****
Ini adalah kali pertama aku pergi ke klinik, lumayan besar sih untuk seukuran klinik sekaligus pet house. Klinik ini hanya ditujukan untuk hewan-hewan mamalia. Tapi lebih didomisili oleh Anjing dan Kucing. Jadi jangan heran bila gonggongan anjing dan kucing lah yang menyambut kami. Serta bau dari hewan-hewan ini yang sangat menyengat dan memabukkan. Huueekksss!!!
Kami menunggu diruang tunggu. Dan ingat ini hanya pet house atau klinik bukan rumah sakit. Jadi jangan harap untuk menemukan seorang resepsionis disini. Dari jauh aku melihat seorang dokter yang berbicara dengan seseorang, pegawainya kurasa. Ini juga pertama kalinya aku bertemu langsung dengan ‘dokter sok super sibuk’. Itulah panggilanku untuknya. Lalu batinku bertanya-tanya ‘Seperti apakah dia? Baikkah dia? Menarikkah dia?’ karena kebanyakan orang-orang mengatakan kalau dokter Makoto Harada itu sangat menarik. Termasuk kakak ku.
Dia sepertinya memperhatikan kami disini. Setelah selesai berbincang-bincang dengan pegawainya, dokter itu mendatangi kami.
“Touko-chan? Raigawa Touko?”
“ye,, anda mengenal saya?” tanyaku tersipu.
“gampang saja mengenalimu, karena…”ucapannya terputus. “karena kau memang berniat memeriksakan kucingmu kan?” dia menyambungnya sembari tersenyum padaku. Lalu mengambil keranjang kucingku dari peganganku.
“oh, haik.” Aku balik tersenyum. Menyerahkan yukiwa padanya. Membiarkan dia memeriksa kucingku di ruangannya sendiri. Menurut pandangan pertamaku, dokter ini biasa saja. Dengan umur yang masih sekitar 23-an, postur tinggi ideal sekitar 180-an cm, bentuk wajah oval, rambut pendek coklat-gelap berponi sedikit menyamping menutupi sebagian dahinya, dan berkulit putih sedang. Tidak terlalu menarik. Masih menarik lagi cowok yang mengganggu ku tadi pagi. Yah… memang kuakui Hanazaki Ryoga menarik, malah terlalu menarik. Dengan tinggi sekitar 180-an cm, rambut gelap, kulit putih, dan memiliki warna mata coklat, yang apabila kita melihatnya pasti langsung jatuh cinta deh. Tapi ya itu, dia selalu saja kasar padaku. Seperti aku pernah merusak hidupnya saja.
Miumi membuyarkan lamunanku.
“Touko-chan… sepertinya aku harus menjemputku adik ku sebentar. Pemeriksaannya masih lama gak?”
“sepertinya masih. Ya sudah jemput saja sana. Tapi jangan tinggal aku disini.” Ancamku.
“Oke. Kalau aku lama kau kan bisa ngobrol dengan doktermu dulu,, hahaha” miumi mengejekku.
Aku melihatnya menghilang dengan senyum jahilnya. Tersirat niat aneh dari senyumnya barusan.
Tak lama sepeninggalan miumi, Makoto-san kembali ketempatku, memberikan penjelasan tentang penyebab yang membuat kucingku sakit. Lalu dia memberikan sebotol cairan obat yang dia buat sendiri di ruangannya barusan. Menjelaskan tentang cara pemakainnya, dan lain sebagainya. Tak terasa lama juga kami mengobrol, tapi masih seputaran tentang kucing. Hingga akhirnya…
“Touko-chan, sepertinya tadi kau tidak sendirian?”
“haik...” jawabku kikuk. “tapi dia pergi sebentar untuk menjemput adiknya. Gomenasai, kalau saya mungkin terlalu lama menunggu disini.”
“iie, Touko-chan.” Jawabnya sambil mengelus kucingku.
Aku melirik jam di tanganku. ‘Omeee… Miumi lama sekali.’ Pikirku. Sesaat aku melihat keluar, menatap jalan yang dibatasi oleh dinding kaca di hadapanku. Sekarang ternyata hujan. Tapi ada yang aneh dari pantulan kaca di depanku, ‘Makoto-san menatapku dengan cara yang berbeda’. Aku merasa tidak enak hati sekarang. Aku merasa tidak berani untuk membalikkan tubuhku.
“Touko-chan..” panggilnya masih menatapku.
“yee…??” dengan susah payah akhirnya ku balikkan juga tubuhku. Pandangan kami bertemu.
“sepertinya temanmu masih lama menjemputmu. Bagaimana kalau ikut denganku pulang. Waktu jagaku disini juga hampir selesai. Dan juga diluar hujan deras.” Dari suaranya seperti memohon kurasa.
“iie.. dok. Saya tidak enak kalau harus menumpang pulang sama anda. Saya menunggu saja disini. Mungkin sebentar lagi...” ucapan ku terputus.
“sudahlah kau ikut saja, ini sudah sore. Kucingmu juga tidak mungkin basah-basahan diluar sana.” Dia memasukkan Yukiwa kembali ke keranjang. “beritahu temanmu, tidak usah menjemput. Aku berganti pakaian sebentar, Touko-chan”.
“iie dok…” dokter itu telah meninggalkanku. Dan tidak mau mendengarkan penolakanku. ‘bagus Miumi. Kau telah meninggalkanku disini.” Dengan terpaksa aku mengirimkan email kepada miumi seperti yang disuruh ‘dokter sok super sibuk’ itu. Karena aku merasa perkataan dokter itu juga benar, diluar hujan, lebih baik Miumi langsung cepat-cepat pulang kerumah saja. Tidak perlu menjemputku.
Menunggu balasan Miumi tidak perlu memakan waktu lama.
‘Yooossshhh… baiklah. Selamat bersenang-senang dengan doktermu yah. Kawai ja na^-^. Kabari aku kalau dirimu sudah sampai kontrakan. Dan tentunya tentang doktermu.’
‘P.S. aku sengaja meninggalkanmu, hahaha. gomen ^-^’
“ahhh… dasar Miumi.” Desahku. Ternyata itu rencananya.
“kau sudah siap?” seseorang mengaggetkanku dengan sosoknya.
Aku mengangguk. Tidak tahu apa yang harus ku katakana lagi padanya.
Sunyi. Itu saja yang terjadi sekarang. Tidak ada obrolan-obrolan yang kami keluarkan selama perjalanan ini. Hanya alunan musik Beethoven yang menggema di mobil Honda Sport ini.
“jadi ini tempat tinggalmu?” dia bertanya setelah ku berikan tanda-tanda untuk berhenti di depan suatu bangunan.
“ye…Arigato atas tumpangannya.”
Aku sudah bersiap untuk keluar tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahan tangan kiriku untuk bergerak. Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Membuat sensasi yang aneh.
“tunggu Touko-chan.” Ucapnya sambil memegang tangan kiriku.
Aku mencoba untuk kembali sadar pada kenyataan. Mencoba menarik dengan sopan tangan kiriku dari tangannya. Dia pun juga tersentak kaget dengan reaksi tiba-tibanya barusan.
“gomen…” ucapnya.
“nande Makoto-san?”
Semburat malu tergambar di wajahnya.
“tidak ada apa-apa, hanya mau bilang… Ummm… jaga kesehatan Yuki ya”.
Aku menggangguk.
“dan Touko-chan sebaiknya jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja Makoto-kun, seperti teman. Tidak perlu terlalu resmi padaku.”
“iie.. itu tidak sopan Makoto-san”.
“tidak apa-apa, Touko-chan”.
“nanni??”
Dia tersenyum tidak menghiraukanku. Lalu dia turun dan mengambil keranjang kucingku di kursi belakang dan menyerahkannya padaku. Aku kembali membungkukkan badan padanya, tanda terima kasihku karena sudah mengantarku sampai tujuan. Dan tanpa basah.
“arigatougonzaimashu, Makoto-sa.. kun...” segera ku koreksi kata-kataku. “gomen.. sudah merepotkanmu.”
“yee,, sama-sama. Semoga Yuki cepat sembuh Touko-chan”. Dia berbalik, kembali menaiki mobilnya. Dan akhirnya menghilang dari jarak pandangku.
Aku tak tahu ternyata ada seseorang yang mengawasiku daritadi. Dan menungguku di depan pintu masuk.
“siapa dia? Pacarmu? Kurasa tadi kau pergi dengan temanmu?”
Aku berbalik menghadap sumber suara tersebut. Ryoga berdiri dengan angkuhnya dengan tangan terlipat di dadanya.
“kau tahu, sudah lama aku menunggumu pulang. Tapi kau tidak juga muncul.” Ucapnya masih sinis.
“siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu. Salah mu sendiri. Aku bawa kunci pagar kok, jadi kau tidak perlu menyusahkan diri.” Jawabku tak kalah sinis sambil melewatinya masuk.
Sembari melewatinya, tangannya menahanku untuk masuk. Mencengkram lenganku lagi. Kali ini terasa lebih sakit. Aku meletakkan keranjang di lantai.
“oughh… Ryoga. Tidakkah kau tahu, perbuatanmu tadi sudah meninggalkan bekas ditanganku. Kau lihat ini?” aku menunjukkan tanda merah yang dia ciptakan tadi siang di lengan kananku. “dan sekarang kau mau menambahkannya lagi?”
“kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa laki-laki tadi?” tidak sedikitpun dia mengurangi frekuensi cengkramannya. “pacarmu?”
“apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapa ku, jadi buat apa kau bertanya seperti itu?” tanyaku menantang.
Tiba-tiba dia menarikku lebih dekat.
Deg!!
Dia memelukku. Ryoga memelukku dengan erat. Sangat erat. Tidak sedikitpun dia meninggalkan jarak diantara kami. Tidak ada ruang untukku bergerak. Aku bisa merasakan nafasnya di indera pendegaranku, debar jantungnya di dadaku, lalu merasakan tubuhnya bergetar di ragaku. Tapi aku tidak membalas pelukannya. Tanganku kubiarkan tergeletak lemah disamping tubuhku. Entah apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang padaku, padahal selama ini dia selalu ketus kepadaku. Tapi lihat lah sekarang dia. Dia aneh, konyol, dan gila.
“kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Touko-chan.” Kali ini suaranya sangat lembut dan seperti berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Nanniii…!!! ini tidak perlu terjadi, ini tidak seharusnya diteruskan. Ini hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Aku tidak boleh terhanyut oleh rayuannya. Aku tak tahu maksud dari semua ini, tetapi yang ku tahu sudah banyak wanita yang dia kecewakan diluar sana, aku tidak mau menjadi salah satu wanita itu.
Aku memberontak dalam pelukannya. Ada sedikit celah untuk melarikan diri darinya. Kugunakan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin darinya, lari menjauhinya. Walaupun kenyataannya aku sangat mengharapkan dirinya. Mengharapkan seorang Hanazaki Ryoga.
Aku terus saja lari dengan membawa keranjang ini, walaupun terasa berat aku tidak memperdulikannya. Aku juga tidak peduli dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku di luar. Sungguh… aku tidak peduli.
‘Ryoga, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku…?’
To be continued………
thx 4 read,, arigato gonzaimazu ^^
I make it with 2 caracter, from Raigawa Touko n from Hanazaki Ryoga.
so, happy reading..^^
Cast :
Raigawa Touko as Main Caracters
Hanazaki Ryoga as Touko Neighbour’s Room
Makoto Harada as Docter
Ikara Miumi as Touko’s Best Friend
Yukiwa as Touko’s Pet
Aku membuka kelopak mataku, bangun dengan terpaksa. Kembali dari dunia mimpi ke dunia nyata. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata hal yang membangunkan ku adalah suara kucing yang membisingkan, dan menyebalkan dari luar pintu kamarku.
“yaaakkss…!!!!! Itu kucing suaranya minta ampun!!”
Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar. Bermaksud memarahi kucing menyebalkan itu. Aku membuka penutup kandangnya, aku melihatnya dan dia melihatku. Yukiwa, itulah nama kucing dihadapanku sekarang. Yukiwa sebenarnya kucingku sendiri. Kucing berjenis Himalaya Persia dan memiliki point hitam disekitar wajah,telinga,ekor,serta kaki dan tangannya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu membuatku pusing dengan suaranya. Bersuara dengan lantang dan sekencang-kencangnya seperti sedang depresi. Dan berulang setiap saat tanpa henti.
“nande Yuki?” aku ngomong sendiri padanya. “ini masih jam 6 pagi, belum waktunya makan kan!!”
“nggeeeoonngg..” suaranya melemah.
Aku memperhatikannya, hari ini seperti ada yang salah dengan bulu-bulunya. Aku pun mengeluarkannya dari kandang dan meneliti setiap bulu ditubuhnya.
“……”Yukiwa hanya melihatku.
Aku memperhatikannya kembali. Baru hari ini aku melihat kulit yang memerah dan seperti ada serpihan-serpihan bekas luka dari kulit dan bulunya. Dengan segera aku memasukkannya kembali ke kandang dan menyerbu telepon yang tergeletak di ranjangku. Aku bermaksud menghubungi kakak ku untuk memberi tahunya, dia memberi saran untuk menanyakan Yukiwa ke dokter biasa. Secepatnya.
“Omeee.. kenapa juga mesti ke dokter itu.”
Dengan malas aku mengirimkan email ke dokter yang dimaksud. Menjelaskan secara rinci tentang keadaan dari Yukiwa sekarang. ‘Tapi pasti butuh berjam-jam untuk mendapatkan balasannya,’ pikirku. Itulah satu hal yang tidak kusuka dari dokternya, sudah beberapa kali aku menanyakan hal-hal yang genting tapi tidak ditanggapi dengan segera.
1 Email masuk. Makoto Harada-san. Tapi sepertinya hari ini beda.
“huumm… tumben cepat.!” Sergahku sembari membaca email.
‘Saya belum bisa memastikan secara langsung apa penyebabnya.
Kalau perlu diperiksakan saja. Saya ada di klinik sekarang.’
Ke klinik? Mesti boyong siapa nih? Tiba-tiba aku mengingat seseorang dan mencoba menghubunginya.
“Miumi-chan… kau sedang apa… sibuk gak… bisa tolongin aku gak… oke aku tunggu, ja mata ne.” Telepon terputus.
*****
“Touko-chan aku sudah diluar. Buruan, panas nih!!” Miumi meneleponku.
“ye.. tunggu sebentar, Miumi-chan.”
Setelah itu dengan segera aku turun ke bawah menemui Miumi, serta Yukiwa yang tidak lupa dibawa di dalam keranjang pinknya.
“oughh.. berat sekali sih ini kucing.” Ucapku sambil turun melalui tangga. Sesaat aku melihat ada seseorang yang memperhatikan ku dari dalam kamarnya. Hanazaki Ryoga. Teman satu kontrakanku.
“hey… mau kemana?!” tanyanya sinis.
Aku meliriknya sesaat.
“nande? Bukan urusanmu!” jawabku ketus. Dengan segera ku membuka pintu. ‘Pasti akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi sekarang,’ terka ku.
cowok itu mencengkram lenganku. “jawab pertanyaanku, Raigawa Touko!!”
“apa’an sih, lepas’in!! Aku buru-buru sekarang.” Aku memandangnya, Deg! Entah kenapa aku gugup melihatnya. Melihat tepat kearah matanya. Jantungku berdebar. Entah karena takut melihatnya atau karena perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan... Aku berbalik, berusaha untuk tidak memandangnya lagi. “baiklah, Hanazaki Ryoga. Aku mau bawa kucingku ke klinik, itu saja.”
“kucingmu? Jadi Yuki-kun sakit?”
“iya. Sudah tahu kan, lepaskan!! sakit tahu.” Cengkramannya melemah, segera saja aku menyentak lenganku, dan dengan buru-buru segera menguncinya dari luar. Ada suara gedoran sebelum akhirnya aku menuju tempat miumi.
Miumi bertanya tentang insiden tadi.
“dia lagi,?”.
“iya lah. Sudah bisa ditebak kan Miumi-chan. Ayo buruan jalan, ntar makin panas”.
*****
Ini adalah kali pertama aku pergi ke klinik, lumayan besar sih untuk seukuran klinik sekaligus pet house. Klinik ini hanya ditujukan untuk hewan-hewan mamalia. Tapi lebih didomisili oleh Anjing dan Kucing. Jadi jangan heran bila gonggongan anjing dan kucing lah yang menyambut kami. Serta bau dari hewan-hewan ini yang sangat menyengat dan memabukkan. Huueekksss!!!
Kami menunggu diruang tunggu. Dan ingat ini hanya pet house atau klinik bukan rumah sakit. Jadi jangan harap untuk menemukan seorang resepsionis disini. Dari jauh aku melihat seorang dokter yang berbicara dengan seseorang, pegawainya kurasa. Ini juga pertama kalinya aku bertemu langsung dengan ‘dokter sok super sibuk’. Itulah panggilanku untuknya. Lalu batinku bertanya-tanya ‘Seperti apakah dia? Baikkah dia? Menarikkah dia?’ karena kebanyakan orang-orang mengatakan kalau dokter Makoto Harada itu sangat menarik. Termasuk kakak ku.
Dia sepertinya memperhatikan kami disini. Setelah selesai berbincang-bincang dengan pegawainya, dokter itu mendatangi kami.
“Touko-chan? Raigawa Touko?”
“ye,, anda mengenal saya?” tanyaku tersipu.
“gampang saja mengenalimu, karena…”ucapannya terputus. “karena kau memang berniat memeriksakan kucingmu kan?” dia menyambungnya sembari tersenyum padaku. Lalu mengambil keranjang kucingku dari peganganku.
“oh, haik.” Aku balik tersenyum. Menyerahkan yukiwa padanya. Membiarkan dia memeriksa kucingku di ruangannya sendiri. Menurut pandangan pertamaku, dokter ini biasa saja. Dengan umur yang masih sekitar 23-an, postur tinggi ideal sekitar 180-an cm, bentuk wajah oval, rambut pendek coklat-gelap berponi sedikit menyamping menutupi sebagian dahinya, dan berkulit putih sedang. Tidak terlalu menarik. Masih menarik lagi cowok yang mengganggu ku tadi pagi. Yah… memang kuakui Hanazaki Ryoga menarik, malah terlalu menarik. Dengan tinggi sekitar 180-an cm, rambut gelap, kulit putih, dan memiliki warna mata coklat, yang apabila kita melihatnya pasti langsung jatuh cinta deh. Tapi ya itu, dia selalu saja kasar padaku. Seperti aku pernah merusak hidupnya saja.
Miumi membuyarkan lamunanku.
“Touko-chan… sepertinya aku harus menjemputku adik ku sebentar. Pemeriksaannya masih lama gak?”
“sepertinya masih. Ya sudah jemput saja sana. Tapi jangan tinggal aku disini.” Ancamku.
“Oke. Kalau aku lama kau kan bisa ngobrol dengan doktermu dulu,, hahaha” miumi mengejekku.
Aku melihatnya menghilang dengan senyum jahilnya. Tersirat niat aneh dari senyumnya barusan.
Tak lama sepeninggalan miumi, Makoto-san kembali ketempatku, memberikan penjelasan tentang penyebab yang membuat kucingku sakit. Lalu dia memberikan sebotol cairan obat yang dia buat sendiri di ruangannya barusan. Menjelaskan tentang cara pemakainnya, dan lain sebagainya. Tak terasa lama juga kami mengobrol, tapi masih seputaran tentang kucing. Hingga akhirnya…
“Touko-chan, sepertinya tadi kau tidak sendirian?”
“haik...” jawabku kikuk. “tapi dia pergi sebentar untuk menjemput adiknya. Gomenasai, kalau saya mungkin terlalu lama menunggu disini.”
“iie, Touko-chan.” Jawabnya sambil mengelus kucingku.
Aku melirik jam di tanganku. ‘Omeee… Miumi lama sekali.’ Pikirku. Sesaat aku melihat keluar, menatap jalan yang dibatasi oleh dinding kaca di hadapanku. Sekarang ternyata hujan. Tapi ada yang aneh dari pantulan kaca di depanku, ‘Makoto-san menatapku dengan cara yang berbeda’. Aku merasa tidak enak hati sekarang. Aku merasa tidak berani untuk membalikkan tubuhku.
“Touko-chan..” panggilnya masih menatapku.
“yee…??” dengan susah payah akhirnya ku balikkan juga tubuhku. Pandangan kami bertemu.
“sepertinya temanmu masih lama menjemputmu. Bagaimana kalau ikut denganku pulang. Waktu jagaku disini juga hampir selesai. Dan juga diluar hujan deras.” Dari suaranya seperti memohon kurasa.
“iie.. dok. Saya tidak enak kalau harus menumpang pulang sama anda. Saya menunggu saja disini. Mungkin sebentar lagi...” ucapan ku terputus.
“sudahlah kau ikut saja, ini sudah sore. Kucingmu juga tidak mungkin basah-basahan diluar sana.” Dia memasukkan Yukiwa kembali ke keranjang. “beritahu temanmu, tidak usah menjemput. Aku berganti pakaian sebentar, Touko-chan”.
“iie dok…” dokter itu telah meninggalkanku. Dan tidak mau mendengarkan penolakanku. ‘bagus Miumi. Kau telah meninggalkanku disini.” Dengan terpaksa aku mengirimkan email kepada miumi seperti yang disuruh ‘dokter sok super sibuk’ itu. Karena aku merasa perkataan dokter itu juga benar, diluar hujan, lebih baik Miumi langsung cepat-cepat pulang kerumah saja. Tidak perlu menjemputku.
Menunggu balasan Miumi tidak perlu memakan waktu lama.
‘Yooossshhh… baiklah. Selamat bersenang-senang dengan doktermu yah. Kawai ja na^-^. Kabari aku kalau dirimu sudah sampai kontrakan. Dan tentunya tentang doktermu.’
‘P.S. aku sengaja meninggalkanmu, hahaha. gomen ^-^’
“ahhh… dasar Miumi.” Desahku. Ternyata itu rencananya.
“kau sudah siap?” seseorang mengaggetkanku dengan sosoknya.
Aku mengangguk. Tidak tahu apa yang harus ku katakana lagi padanya.
Sunyi. Itu saja yang terjadi sekarang. Tidak ada obrolan-obrolan yang kami keluarkan selama perjalanan ini. Hanya alunan musik Beethoven yang menggema di mobil Honda Sport ini.
“jadi ini tempat tinggalmu?” dia bertanya setelah ku berikan tanda-tanda untuk berhenti di depan suatu bangunan.
“ye…Arigato atas tumpangannya.”
Aku sudah bersiap untuk keluar tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang menahan tangan kiriku untuk bergerak. Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Membuat sensasi yang aneh.
“tunggu Touko-chan.” Ucapnya sambil memegang tangan kiriku.
Aku mencoba untuk kembali sadar pada kenyataan. Mencoba menarik dengan sopan tangan kiriku dari tangannya. Dia pun juga tersentak kaget dengan reaksi tiba-tibanya barusan.
“gomen…” ucapnya.
“nande Makoto-san?”
Semburat malu tergambar di wajahnya.
“tidak ada apa-apa, hanya mau bilang… Ummm… jaga kesehatan Yuki ya”.
Aku menggangguk.
“dan Touko-chan sebaiknya jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil saja Makoto-kun, seperti teman. Tidak perlu terlalu resmi padaku.”
“iie.. itu tidak sopan Makoto-san”.
“tidak apa-apa, Touko-chan”.
“nanni??”
Dia tersenyum tidak menghiraukanku. Lalu dia turun dan mengambil keranjang kucingku di kursi belakang dan menyerahkannya padaku. Aku kembali membungkukkan badan padanya, tanda terima kasihku karena sudah mengantarku sampai tujuan. Dan tanpa basah.
“arigatougonzaimashu, Makoto-sa.. kun...” segera ku koreksi kata-kataku. “gomen.. sudah merepotkanmu.”
“yee,, sama-sama. Semoga Yuki cepat sembuh Touko-chan”. Dia berbalik, kembali menaiki mobilnya. Dan akhirnya menghilang dari jarak pandangku.
Aku tak tahu ternyata ada seseorang yang mengawasiku daritadi. Dan menungguku di depan pintu masuk.
“siapa dia? Pacarmu? Kurasa tadi kau pergi dengan temanmu?”
Aku berbalik menghadap sumber suara tersebut. Ryoga berdiri dengan angkuhnya dengan tangan terlipat di dadanya.
“kau tahu, sudah lama aku menunggumu pulang. Tapi kau tidak juga muncul.” Ucapnya masih sinis.
“siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu. Salah mu sendiri. Aku bawa kunci pagar kok, jadi kau tidak perlu menyusahkan diri.” Jawabku tak kalah sinis sambil melewatinya masuk.
Sembari melewatinya, tangannya menahanku untuk masuk. Mencengkram lenganku lagi. Kali ini terasa lebih sakit. Aku meletakkan keranjang di lantai.
“oughh… Ryoga. Tidakkah kau tahu, perbuatanmu tadi sudah meninggalkan bekas ditanganku. Kau lihat ini?” aku menunjukkan tanda merah yang dia ciptakan tadi siang di lengan kananku. “dan sekarang kau mau menambahkannya lagi?”
“kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa laki-laki tadi?” tidak sedikitpun dia mengurangi frekuensi cengkramannya. “pacarmu?”
“apa urusanmu? Kau juga bukan siapa-siapa ku, jadi buat apa kau bertanya seperti itu?” tanyaku menantang.
Tiba-tiba dia menarikku lebih dekat.
Deg!!
Dia memelukku. Ryoga memelukku dengan erat. Sangat erat. Tidak sedikitpun dia meninggalkan jarak diantara kami. Tidak ada ruang untukku bergerak. Aku bisa merasakan nafasnya di indera pendegaranku, debar jantungnya di dadaku, lalu merasakan tubuhnya bergetar di ragaku. Tapi aku tidak membalas pelukannya. Tanganku kubiarkan tergeletak lemah disamping tubuhku. Entah apa yang terjadi. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang padaku, padahal selama ini dia selalu ketus kepadaku. Tapi lihat lah sekarang dia. Dia aneh, konyol, dan gila.
“kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Touko-chan.” Kali ini suaranya sangat lembut dan seperti berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.
Nanniii…!!! ini tidak perlu terjadi, ini tidak seharusnya diteruskan. Ini hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Aku tidak boleh terhanyut oleh rayuannya. Aku tak tahu maksud dari semua ini, tetapi yang ku tahu sudah banyak wanita yang dia kecewakan diluar sana, aku tidak mau menjadi salah satu wanita itu.
Aku memberontak dalam pelukannya. Ada sedikit celah untuk melarikan diri darinya. Kugunakan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin darinya, lari menjauhinya. Walaupun kenyataannya aku sangat mengharapkan dirinya. Mengharapkan seorang Hanazaki Ryoga.
Aku terus saja lari dengan membawa keranjang ini, walaupun terasa berat aku tidak memperdulikannya. Aku juga tidak peduli dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku di luar. Sungguh… aku tidak peduli.
‘Ryoga, apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku…?’
To be continued………
thx 4 read,, arigato gonzaimazu ^^
it's me
Hi all...... it's me Radit.
I am a woman not a man okay.
I came to live in jogja, Indonesia. but I came from the largest island in Indonesia, namely the east borneo.
This is my first blog. because Logo I like things that smell asia, like korea and japan, then I might fill this blog with something that smells asia.
to first of all I would fill with the stories in my imagination. course with Asian background.
and also will fill this blog with my life, and my experiences.
so, happy reading, hope you guys like it .. ^ ^
it is just an introduction from me, glad to get acquainted.
keep in touch, man.
Ajjah-Ajjah fighting!!!
Ganbatte...
I am a woman not a man okay.
I came to live in jogja, Indonesia. but I came from the largest island in Indonesia, namely the east borneo.
This is my first blog. because Logo I like things that smell asia, like korea and japan, then I might fill this blog with something that smells asia.
to first of all I would fill with the stories in my imagination. course with Asian background.
and also will fill this blog with my life, and my experiences.
so, happy reading, hope you guys like it .. ^ ^
it is just an introduction from me, glad to get acquainted.
keep in touch, man.
Ajjah-Ajjah fighting!!!
Ganbatte...
Langganan:
Komentar (Atom)























